in ,

Nomor 31

klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Nomor 31


Setahun yang lalu aku kehilangan teman baikku. Mereka bilang, penyebabnya adalah serangan jantung. Dan dia berteriak meminta tolong. Satu tahun yang lalu aku menerima email ini. Robi ingin kau membacanya. Aku harap kau sempat menghubungiku. 

Aku merindukanmu, Rob. 


Kawan, aku harap kau menerima ini. Aku harap semua ini hanyalah sebuah kegilaan semata, tapi kalau tidak, kalau sesuatu terjadi padaku atau besok kau tidak mendengar kabar dariku, aku ingin kau pergi ke kantor polisi dan memperlihatkan email ini.

Katakan pada mereka kalau mereka salah. Dan, kalau kau bisa, tolong sampaikan email ini ke banyak orang, sebanyak mungkin. 

Ini bukanlah lelucon; setidaknya menurutku bukan. Aku tidak mempermainkanmu; Aku bersumpah atas semua yang aku sayangi kalau ini bukanlah lelucon. Kalau kau mendapatkan email ini, aku telah berpikir untuk menghubungimu, tapi aku harap ini semua akan berakhir pagi ini.

Aku harap ini hanyalah sesuatu yang spesial mengenai malam ini. Dan kalau memang seperti itu, kumohon untuk lupakan itu atau ejeklah aku, aku tidak peduli. 

Aku duduk di tempat makan milik Walker dekat jalan tol, satu-satunya yang masih buka dan tetap sibuk sepanjang malam, karena hal terakhir yang aku inginkan adalah kembali ke jalanan. 

Kau tahu, aku bahkan tidak percaya pada Tuhan, tapi setiap beberapa menit aku menutup mataku dan berdoa agar ini semua cepat berakhir. 

Kata polisi aku pasti berhalusinasi dan, sejujurnya, sekarang pun aku berpikir seperti itu. Mereka memeriksa rumahku, dua diantara mereka menggenggam tasers. Kemudian mereka kembali keluar, tertawa, memegang sebuah rambut palsu berwarna abu-abu yang panjang dan bergelombang. 

Aku bersumpah aku tidak sedang memakai narkoba, aku hanya minum segelas eggnog dengan teman-temanku, hanya itu. Aku tidak memakai apapun. 

“Inilah wanita tuamu,” kata mereka, “seseorang meletakkannya  di atas cerek. “

Mereka melempar wig itu ke arahku. Aku melompat ke belakang dan benda itu jatuh ke lantai. 

Seorang wanita tua. Aku melaporkan kalau aku melihatnya, aku pikir aku memang melihatnya. 


Aku selesai bekerja sekitar pukul 10:40 malam. Yang lainnya pergi keluar bersama, tapi aku merasa lapar dan hanya ingin pulang ke rumah untuk menghangatkan pie labu yang ibuku buat sebelum dia pergi melakukan trip.

Ada banyak anak kecil pada jalanan kecil yang mengarah ke pusat perbelanjaan, mereka berteriak “Trick or Treat” padaku, seolah-olah aku adalah seorang siswa yang membawa tas laptop penuh dengan permen. Jadi aku merasa senang ketika aku sampai di jalan Mayflower dan tak ada anak-anak di sana. 

Aku merasa senang karena jalanan itu sepi. Aku berjalan dengan santai, menendang beberapa sampah dan sebuah bundelan kaos yang terbakar di jalanan. Sebelumnya, aku merasa sangat santai, tapi ketika aku berjalan melewati sebuah rumah… Sebuah rumah yang terbakar sekitar satu atau dua tahun yang lalu, dimana atapnya sudah benar-benar hilang. Nomor 31.

Aku bahkan tidak melihat ke arah rumah itu dan tidak mendekatinya. Namun, ketika aku sudah hampir melewati setengah rumah itu, tiba-tiba aku merasa merinding, seperti ada laba-laba yang melompat ke arah leherku dan jatuh ke arah tulang punggungku. Seolah-olah ada seseorang yang memperhatikanku. 

Dan aku bersumpah, ada seorang wanita yang memperhatikanku jendela itu. 

Sepertinya aku melompat dua langkah kemudian tersadar dan mengatakan pada diriku sendiri kalau dia hanyalah seorang wanita yang hidup di lantai dasar dan entah bagaimana lantai dasar itu pasti masih bisa digunakan. Ketika aku melihat ke belakang dia masih ada di situ, rambut kelabu, kulit putih dan mata yang lebih putih. 

Kakiku melangkah dan aku rasa itu  adalah langkah tercepat yang pernah ku lakukan. Aku kembali tenang ketika aku berbelok menuju jalan Wayward. 

Namun rasa merinding itu masih berjalan melewati tulang belakangku dan rasa takut itu tidak pernah hilang. Ketika aku menyadari bahwa jalan Wayward kosong, aku langsung mempercepat langkahku. 

Mungkin sekitar jam 11 malam kamu mendapatkan sejumlah panggilan tak terjawab dariku. 

Dengar, ini adalah malam paling sibuk dari  sepanjang tahun. Tidak mungkin jalan Wayward kosong pada jam 11. 

Tapi sebagian besar lampu di sana mati. Dan setiap kali aku melewati jendela yang gelap aku merasakan sensasi dingin dan getaran lainnya melewati tubuhku. 

Kemudian aku melewati nomor 31. 

Ketika aku berbalik, dia ada di sana. 

Giginya yang hancur, terbuka lebar, tanpa bibir. 

Dan mata itu. Demi Tuhan, mata itu, seputih susu; dan berkaca seperti layaknya mata orang buta, namun mata itu tetap terfokus ke arahku. 

Aku pun mulai berlari.

Aku bersumpah aku melihatnya di banyak jendela. Jangan tanyakan padaku di jalan apa atau nomor berapa, tapi demi Tuhan dia ada di sana, tak peduli secepat apa aku berlari, dia ada di sana, menatap ke arahku dan terkadang menatapku sebelum aku sampai di rumah. 

Demi apapun, aku bersumpah tak ada seorang pun di jalanan.  Tidak seorang pun. Hanya jalanan yang gelap dan terkadang lampu jalan atau lampu lalu lintas, aku dan dia. 

Untuk sesaat, ketika aku berbelok ke arah jalanan sekitar rumahku, aku merasa aman. Ada seorang wanita dengan gaun bunga yang mendorong kereta bayi. Dia berjalan ke arahku, dan seketika aku langsung merasa tenang. 

Aku berpindah ke sisi rumah untuk membiarkannya lewat. Dia menundukkan kepala, dan rambut hitamnya menjuntai menutupi wajah.

Mereka berjalan tanpa sepatah katapun; bahkan tanpa suara. Serius, ketika memikirkannya sekarang, langkahnya bahkan tidak membuat suara sama sekali; bahkan tak ada suara berderak yang biasanya dibuat oleh kereta dorong. 

Saat mereka melewati ku; tepat ketika mereka berada di belakangku, perasaan dingin yang mencekam dan perasaan merinding itu kembali. 

Dan ketika aku berbalik mereka sudah tidak ada. 

Sebagai gantinya, wanita itu menatap ke arahku dari dalam jendela rumah, tidak lebih dari satu meter di depanku,  disertai dengan senyuman yang sangat lebar. 

Aku berlari secepat mungkin dan kupikir aku melihatnya di setiap jendela. 

Sampai aku tiba di rumah orang tuaku. 

Ketika aku melihat bahwa dia tidak ada di jendela dapur aku berlari ke arah pintu dan memasukkan kunci ke dalam lubang kunci. 

Tepat ketika aku memutar kunci aku kembali melihatnya. 

Wajahnya menempel pada jendela kecil di pintu, tepat di depan wajahku. 

Aku berlari ke sudut dan menghubungi polisi. Mungkin aku harusnya aku melakukan hal itu tadi, tapi apa yang harus aku sampaikan pada mereka ?

“Ada seorang wanita tua mengejarku.”

Mereka pasti akan menertawakanku. 

Yang bisa aku ingat adalah berteriak ke arah telepon dan mengatakan ada seorang wanita tua di dalam rumahku. 

Mereka datang lima menit kemudian. Dan keluar 10 menit kemudian, dengan rambut palsu yang mereka lemparkan ke arahku. 

“Itu bukan dia.” Kataku. “Dia benar-benar nyata”

“Itu hanyalah lelucon,” kata salah satu dari mereka. “Katakan pada temanmu bahwa mereka melakukannya dengan baik.” 

“Aku serius, “Kata ku. “Ini bukanlah lelucon”

Aku katakan pada mereka bahwa aku orang terakhir di rumah itu; bahwa tak ada temanku yang memiliki kunci; bahwa ibuku sedang melakukan trip; bahwa aku adalah orang terakhir yang menyentuh cerek tersebut dan jelas tak ada rambut palsu ketika aku membuat teh di pagi hari. 

“Tentu,” katanya. “Tapi ada pekerjaan yang harus kami kerjakan. Dan perbaiki nomormu. 

Dia menunjuk ke arah nomor rumah kami. 

Kami tinggal di nomor 13.

Nomor 1 dan 3 tertukar. 

Mereka bilang aku harus kembali masuk ke dalam, minum air dan menonton televisi untuk menenangkan saraf ku. Mereka berjalan begitu saja ketika aku berdiri di luar rumah, sambil memohon pada mereka untuk tinggal atau bawa aku bersama mereka. 

Pada saat mereka menyalakan mobil aku melihat ke sekeliling dan melihatnya lewat pintu masuk yang terbuka. 

Dia berdiri tepat di tengah-tengah ruang keluarga kami. Lengan yang kurus dengan kulit pucat terbungkus gaun bunga yang robek; senyum yang lebar pada kulit wajah yang mengelupas. Mata seputih susu. Tapi rambutnya tidak lagi bergelombang dan beruban. Malah rambut hitam dan panjang. 

Aku lari. 

Aku tidak melihatnya lagi, dan pada beberapa titik ada orang-orang di jalan, tapi aku terus berlari selama sekitar 30 menit. Aku terus berlari, meskipun dadaku mulai terbakar dan kakiku bergetar, sampai aku jatuh lewat pintu kaca dan menuju kursi plastik yang buruk ini. 

Pelayan itu terus mengisi kopiku dan aku terus meminumnya, memastikannya untuk kembali lagi. 

Aku tak bisa berhenti melihat wanita itu; kakinya yang berdiri terpisah, satu lengan tipis membentang ke arahku dan yang lain memegang sesuatu; sesuatu seperti selimut yang digulung. 

sekarang.. hampir jam 4 pagi. Ada beberapa orang di sini, mungkin hanya pelayan dan beberapa koki di ruangan yang lain dan ada pula beberapa pengemudi truk yang terus datang dan pergi. 

Aku duduk di tengah-tengah ruangan; jauh dari jendela. Namun selama setengah jam terakhir, ketika aku melihat melalui jendela yang berada di meja sebelahku, aku terus melihat seorang wanita yang mendorong kereta bayi di seberang jalan.

Dia mendorongnya kesana kemari, terus berulang-ulang. 

Rambut hitam panjang. Dia mengenakan gaun putih dengan corak bunga berwarna biru. Tapi dia tidak tersenyum lagi. 

Aku meminta pelayan untuk melihatnya, tapi pada saat itu dia telah hilang. 

Ketika sang pelayan melangkah pergi, wanita itu kembali. 

Saat ini dia masih berjalan bolak-balik. 

Dan setiap beberapa menit dia berhenti dan menarik buntelan selimut atau pakaian keluar dari kereta bayi nya dan kemudian menatap ke arahku. 

Dan setiap kali dia melakukan itu, dia tampak semakin marah. 

Aku minta maaf jika ini semua terdengar gila. 

Aku akan mencoba untuk tetap sadar disini dan berharap mereka tidak mengusirku. Aku hanya tidak ingin berada di luar sana. 

Aku akan mengirimkanmu email lainnya di pagi hari, jika aku baik-baik saja.


Credits

Cerita oleh: Anton Scheller
Original Story klik di sini
Dibacakan oleh: PapaChan

Background Music:
Myuu


Disclaimer

Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Orang Jepang Itu

Penelusuran Terakhir