in ,

Si Peniru

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Si Peniru


Begini, aku bukannya gak percaya hantu. Hanya saja sepanjang hidupku, aku belum pernah melihat penampakannya. Gak kepengen lihat juga sih. Sering aku melihat acara tv dengan tema mistis. Dimana orang-orangnya sampai kerasukan karena melihat hantu. 

Tapi kata temanku yang pernah mengikuti salah satu acara begituan, itu hanya akting saja. Dibikin seolah olah nyata, terlihat agak lebay sih memang.

“Den.. Dena… tunggu!!”

Aku melihat Lita berjalan cepat ke arahku sambil membawa beberapa berkas.

“Ada apa sih?”

“Bantuin aku dong, masih banyak yang harus aku kerjain nih. Kamu udah kelar ngetiknya kan?”

“Iya udah, dapet apa nih kalau aku bantuin kamu?”

“Gampang, nanti kutraktir bakso bang Momoy.”

Jadilah aku membantu Lita untuk mengerjakan laporan rekap temuan audit hari itu. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan hanya tersisa kami berdua di lantai 2 kantor.

“Sebenanrnya aku bukannya gak mau ngerjain ini sendiri Den, tapi aku takut sendirian di lantai 2 ini. Apalagi ini sudah sore. Kata security, kalau malam disini suka ada bunyi bunyi aneh.”

“Ah. Kamu kayak anak kecil aja Lit. Percaya aja sama hal hal begituan.”

Lita memonyongkan bibirnya ke arahku sambil tersenyum kecut. 5 menit kemudian dia berjalan ke arah toilet. Katanya mau buang air kecil. Tiba tiba terlintas ide jahil di benakku. 

Segera setelah pintu toilet ditutup aku mematikan lampu ruangan. Suasananya menjadi gelap. Hanya sedikit cahaya kemerahan senja yang menyelinap masuk lewat tirai jendela. 

Aku bersembunyi dibawah meja yang membelakangi pintu toilet sambil menunggu Lita keluar dari sana. Tak lama kemudian, aku mendengar bunyi pintu dibuka.

“Dena… Denaaaaaa…..”

Suara Lita terdengar panik memanggilku.

“Doooorrrrr!!!”

Aku segera keluar dari bawah meja dan mengagetkan Lita. Anak itu berteriak sambil mengeluarkan sumpah serapahnya. Dan aku hanya tertawa terbahak bahak melihat wajahnya yang pucat. Kami menyelesaikan pekerjaan kami tepat pukul 8 malam dihari itu.

Keesokan harinya berjalan seperti biasa. Lita masih sedikit jengkel dengan keusilanku kemaren. Tapi dia tetap mentraktir aku makan bakso di warung favorit kami. Hari itu semua berkas pemeriksaan audit sudah selesai, jadi kami bisa sedikit santai disore hari sambil menunggu jam pulang kerja. 

Kami semua berkumpul diruangan bawah untuk menyerbu gorengan yang dibelikan atasan kami. Saat lagi asik asiknya makan tiba tiba sambal gorengan tumpah ke baju aku. Duh, mana aku pakai baju putih lagi hari ini. Segera aku berlari ke toilet lantai bawah. Namun pintunya terkunci. Ternyata Vino sedang BAB di dalam.

“Vin.. lama gak?”

“Iya Den, aku baru mulai nih.”

Duh, terpaksa deh aku buru buru ke toilet lantai 2. Aku mengelap noda baju di wastafel toilet menggunakan tisu yang telah dibasahi air. Sret sret… kudengar langkah kaki berlarian diluar. Tiba tiba terdengar suara Lita tertawa cekikikan, dan semakin lama suaranya semakin keras. 

Lalu… tiba tiba ada suara perempuan menjerit. Aku kaget dan segera membuka pintu toilet. Tap… suasana diluar gelap. Hanya sedikit cahaya senja merah yang menyeruak dari tirai jendela dan diluar tidak ada siapa-siapa. Duh, jangan jangan Lita mau membalas kejahilanku kemaren.

“Lita gak lucu deh, aku gak takut. Gak kreatif banget sih, niru niru…”

“Aaaaaaaa!!!”

Teriakan yang aku dengar sangat nyaring dan melengking. Kali ini suaranya bikin bulu kuduk merinding. Ini gak mungkin suara Lita kan? Aku jadi sedikit takut. Tapi aku perlahan lahan berjalan ke arah sakelar lampu di seberang pintu toilet. 

Tapi… apa itu? Aku melihat bayangan hitam di bawah meja. Lalu tiba tiba… suara tawa itu lagi. Dan mulai ada teriakan… semakin keras suara tertawanya.. Aku merasa mual dan… kepalaku seakan mau pecah. 

Dengan sisa sisa tenagaku aku berlari kembali ke arah toilet. Dimana satu-satunya lampu menyala saat itu. Aku segera menutup pintu toilet dengan keras. Hp… dimana hpku… tiba tiba aku merasa mengantuk dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Tok tok tok….

“Denaaaa…”

“Denaaaaa… kamu di dalam kan?”

Itu suara Lita. Aku terbangun dan mendapati tubuh aku tengah terduduk di pojok kamar mandi. Aku segera membuka pintu. Terlihat Lita dan Mas Bagas security d kantor kami tengah menatap aku dengan cemas.

“Duh, kamu tidur di toilet? Kok lama sekali? Hampir 2 jam loh kamu ditoilet.”

“Hah? “

Aku berusaha mencerna apa yang terjadi. Oh CCTV, aku mau lihat CCTV. Aku menyuruh mas Bagas memutar CCTV untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Rekaman CCTV diputar. 

Dan yang terlihat di sana adalah aku hanya sekali masuk ke toilet dan tidak pernah keluar dari sana hingga Lita dan Mas Bagas menggedor gedor pintu toiletnya. Aku menceritakan apa yang kualami. Setelah mendengarkan semuanya, Mas Bagas tersenyum dan berkata.

“Itu si Ayu peniru mbak. “

“Saya menamainya begitu karna saya sering mendengar suara perempuan di malam hari dilantai 2 ini. “

“Dia selalu menirukan orang2 di kantor ini. “

“Jika mbak Dena bernyanyi di siang hari, maka suara nyanyian mirip suara mbak Dena akan terdengar di malam hari. “

“Saya menamainya Ayu si peniru karna hanya suara2 wanita yag ditirunya.”

Sejak saat itu, aku tidak berani ke lantai 2 menjelang sore hari seorang diri.


Credits:

Cerita dikirim oleh: Dewizmaya
Dibacakan oleh: MamaEnDewizmaya, Dea Amalia & Febri Momoarfa

Background Music 
Myuu


Disclaimer
Cerita ini disubmit oleh Dewizmaya dan telah menjadi hak milik Tim MalamMalamStories.

Cerita ini tidak diperbolehkan untuk disalin, disebarluaskan, diubah dalam bentuk atau format apapun dan untuk kepentingan apapun, tanpa izin tertulis dari pihak Tim MalamMalamStories.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Radio Kecil

Ambulans Aneh