in ,

Obsesi

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Obsesi


Untuk Meera.

Ketika aku melihatmu untuk pertama kalinya, dunia seakan berhenti berputar.

Kamu sangat cantik bagiku, 

Senyummu menawan, jauh lebih memabukkan daripada sebotol anggur.

Suaramu merdu….

Bahasa tubuhmu anggun….

Kulitmu bak permata….

Oh… Kamu tahu, aku sangat mengagumimu.

Jiwamu, ragamu, pribadimu, perkataanmu,

Semuanya adalah hal yang harus aku ikuti.

Aku tidak pernah melewatkan hariku untuk tidak melihatmu.

Mengetahui bahwa kamu bahagia adalah kewajiban bagiku.

Kita berada di hunian yang sama semenjak awal kuliah.

Tahukah kamu kalau aku selalu menyiapkan sekotak coklat di depan pintu kamarmu?

Dan aku selalu bahagia melihat kamu tersenyum ketika menemukannya.

Aku bahkan selalu mengikutimu ketika kamu berjalan sendirian,

Untuk memastikan, kamu tiba ditujuanmu dengan selamat.

Ya, aku perduli padamu.

2 tahun aku menjagamu tanpa kamu ketahui, 

Aku tenang ketika melihatmu baik baik saja. Bagiku, itu cukup.

Aku selalu ada ketika kamu merayakan hari lahirmu bersama teman temanmu. 

Walaupun aku tidak bergabung di mejamu, tapi aku selalu menyiapkan kado bagimu.

Dan kutuliskan, hadiah ini dari pengagum rahasiamu.

Sampai saat itu, aku belum punya keberanian untuk mengenalkan diriku padamu.

Biarlah aku menjagamu dari jauh.

Suatu hari, aku melihatmu tak seperti biasanya.

Kamu senyum senyum sendiri.

Ada apa Meera ?

Oh, aku lihat kamu berkenalan dengan seorang pemuda.

Dia tampan.

Kamu bahagia Meera?

Maka akupun akan turut bahagia. 

Tapi Aku yakin cintaku ini lebih tinggi dari cintanya padamu.

Mulai saat itu kamu selalu bersamanya.

Jalan berdua, nonton berdua, makan berdua.

Sementara aku, menikmati kebahagiaan kalian dari jauh.

Kalian dimabuk asmara.

Kamu tidak lagi tersenyum saat mendapati sekotak coklat di depan pintu kamarmu.

Mungkin… sudah saatnyakah aku melepasmu?

Meera, aku tahu kamu tidak pernah menganggapku ada.

Bagaimana tidak, berkenalan denganmu saja aku tak punya nyali. Ini murni kesalahanku.

Namun Meera… tidak ada yang bisa menggantikan kamu di hatiku.

Kucoba untuk menjauh darimu

Bahkan aku memutuskan untuk pindah hunian, agar bisa terlepas dari bayangmu.

Aku biarkan kamu bahagia bersama kekasihmu.

Bukankan aku juga harus bahagia atas itu semua?

Lalu….

Hidup sendiri tanpa senyummu membuat duniaku hampa.

Bahkan kehadiran sahabat sahabatku tak membuat aku lebih bahagia.

Mengapa begini?

Meera… aku bermimpi buruk.

Setelah 2 bulan berlalu ternyata aku memimpikanmu lagi.

Apakah aku merindukanmu Meera?

Ini menyiksa bagiku.

Aku berjalan tanpa arah, dan entah apa yang membawa langkahku berakhir di depan kamarmu.

Aku mendengar suara pertengkaran.

Tak lama pintu terbuka.

Kekasihmu keluar dan berlalu dengan wajah penuh amarah.

Aku melihat kamu menangis di dalam sana.

Oh Meera…. ada apa?

Aku melihat bekas tamparan di pipimu.

Apakah itu sakit Meera?

Kamu tahu, aku lebih sakit melihatnya.

Entah mengapa dadaku bergemuruh hebat.  emosiku sangat bergolak.

Meera, apa yang bisa kulakukan untukmu?

Lalu tiba tiba… kamu menatap ke arahku yang berdiri terpaku di luar. 

Dan… kamu membanting pintu kamarmu.

Meera, malam itu aku menunggu kamu keluar. 

Aku tidak ingin kamu bermuram diri. Bukankan aku selalu mengupayakan kebahagiaan untukmu?

Mengapa dia yang kau sayangi memberikan sengsara untukmu?

Aku ingin melihat kamu tersenyum lagi, aku janji, aku ingin mengakhiri penderitaanmu, aku akan buat kamu bahagia Meera.

Meera keluarlah… ku mohon.

Lalu… setelah pukul 12 malam, aku melihat Meeraku keluar dengan mata sembab.kamu memakai jaket dan berjalan ke arah minimarket 24 jam

Meera.. aku akan menjagamu.

.
.
.

Setelah membacanya, Jono melipat surat itu dan meletakkannya bersama belati berlumuran darah di samping jasad Meera. Lalu perlahan lahan dia mulai menimbun lubang kuburan di semak belakang kos kosan mahasiswa…


Credits

Cerita dikirim oleh: DewizMaya
Dibacakan oleh: Papachan

Background Music:
Myuu
Kevin MacLeod


Disclaimer
Cerita ini disubmit oleh DewizMaya dan telah menjadi hak milik Tim MalamMalamStories.

Cerita ini tidak diperbolehkan untuk disalin, disebarluaskan, diubah dalam bentuk atau format apapun dan untuk kepentingan apapun, tanpa izin tertulis dari pihak Tim MalamMalamStories.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamera Sembilan

The Smiling Man (Pria Yang Tersenyum)