in ,

Penghargaan

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Penghargaan.


Kehidupanku sangatlah indah.

Bahkan, bisa dibilang lebih dari indah. Dalam kehidupanku, aku merasakan kegembiraan yang tidak bisa digambarkan oleh manusia. Ciuman dari istriku selalu membuat hatiku berbunga-bunga.

Tawa dari putraku menghangatkan jiwaku. Setiap hari, aku seperti kertas kosong yang menunggu untuk diisi dengan ingatan yang kami buat. Sebuah pengalaman yang tidak akan kugantikan dengan apapun.

Seringkali, aku berpikir tentang hari yang mengubah segalanya. Itu adalah hari dimana semua penghargaan ini dimulai. Aku memasuki apotek itu tanpa prasangka. Ketika pelayan di apotek tersebut mengatakan kepadaku kalau sebuah pil dalam kepalan tangannya yang kasar, merupakan satu-satunya obat yang kuperlukan.

Pikiranku tidak benar-benar menangkap apa yang dia katakan. Tetapi, hatiku mengatakan kalau aku ingin mencobanya.

Dan aku pun mencobanya. Aku meletakkan pil itu di atas lidahku dan air pun mengalir ke tenggorokanku. Awalnya, aku tidak merasakan apapun. Ini bukanlah obat plasebo pertama yang ku minum. Tetapi, ketika aku menutup mataku, efeknya terlalu nyata.

Darah…

Aku bisa merasakan darah yang mengalir di dalam tubuhku. Suaranya terdengar semakin keras di dalam telingaku yang berdenyut. Anehnya, hal itu jauh lebih menyejukkan dari pada nyanyian pengantar tidur yang dinyanyikan oleh ibuku.

Tidak lama kemudian, selain suara aliran darahku, aku mulai bisa melihat sesuatu. Itu adalah sebuah ruangan kosong berwarna abu-abu pucat dan bagian sudutnya tertutupi bayangan.

Setelah mataku mulai terbiasa dengan kegelapan, aku melihat sebuah sosok yang mengenakan jubah. Diam… dan berdiri tanpa suara di tengah-tengah ruangan.

Sosok itu membuat seluruh tubuhku merinding. Aku tidak ingin berbicara padanya,  tapi.. Semakin lama aku diam, aku juga merasa sangat kesepian.

Kemudian, sosok itu mengangkat kepalanya dengan kaku.. Seperti dia bisa merasakan kesepianku. Wajahnya tersembunyi dibalik bayangan yang gelap dari tudung kepalanya.

Aku bisa mencium bau busuk ketika aku mendengar bunyi engsel yang berderit. Itu adalah bunyi yang keluar, ketika makhluk tersebut membuka mulutnya..  dan dia berkata:

“Apakah kau bahagia?” Suaranya parau.. Seperti suara dari seorang perokok berat.

Aku melihat sekitarku, melihat pada berbagai sudut dari kegelapan, seperti sedang mencari jawaban. Perhatianku ditarik kembali ke sosok itu, ketika desisan yang mengerikan keluar dari mulutnya yang tersembunyi.

T-Tentu saja aku bahagia!” Aku menjawabnya dengan heran.

Tiba-tiba ruangan itu dipenuhi dengan suara tawa. Suara itu tidak terdengar seperti suara manusia, karena suara itu mengisi jiwaku dengan rasa jijik.

Suara tawa tersebut muncul secara tiba-tiba dan begitu keras, sampai-sampai aku hampir terjatuh karena rasa takut. Seketika tubuhku dipenuhi rasa sakit. Itu terasa seperti anggota tubuhku sedang ditarik oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat.

Sosok berjubah itu tampak tidak bersimpati padaku.. Dia berjalan tanpa suara ke arahku. Ditengah-tengah suara tawa yang mengejek itu.. Dia bertanya lagi, “Apakah kau bahagia?”

Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini, aku pun terjatuh, berlutut.. Dan menjerit “Tidak! Aku tidak bahagia!”

Suara tawa tersebut langsung berhenti ketika aku mengatakan kebenaran itu. Tetapi tubuhku masih terasa terbakar. Meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya, Aku bisa merasakan kalau dia tersenyum, “Apakah kau bersedia untuk menyerahkan segalanya?”

“Ya,” Aku terisak, “tolong hentikan rasa sakit ini!”

Aku merasakan belaian dari tangan kapalan yang terasa tidak asing pada pipiku. Meskipun gerakannya penuh kasih sayang, kulitnya terasa dingin dan hambar. Dia mengangkat kepalaku.

Awalnya, mataku tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan, namun, tidak lama kemudian ruangan itu menjadi terang… dan aku terkejut. Di sekelilingku aku bisa melihat ribuan iblis yang tertawa.

Semuanya.. Terlihat seperti sebuah eksperimen gagal. Tangan yang keluar dari perut, kaki keluar dari telinga dan ekor sebagai pengganti lidah. Lantai dari ruangan ini, merupakan kolam darah. Sekarang, kakiku berwarna merah karena sudah terlalu lama terendam cairan itu.

Tubuh-tubuh yang membusuk digantung sebagai hiasan ruangan. Sebagian besar.. Merupakan tubuh anak-anak. Tubuh-tubuh kecil itu sudah tidak memiliki isi, karena isinya sudah menghiasi lantai.

Aku tidak tahu kemana aku harus memandang untuk menghindari pemandangan mengerikan di hadapanku. Mataku dengan cepat kembali menatap makhluk di depanku saat dia membuka tudung kepalanya.

Aku mencoba untuk berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar. Wajahnya merupakan gabungan dari seluruh orang-orang yang ku cintai, seperti sesuatu yang disusun oleh dokter gila untuk membuatnya terlihat seperti manusia.

Aku bisa mengenali mata berwarna hijau dari putraku, menatap padaku dari pipi monster tersebut. Pada bagian dahinya, terdapat bibir istriku yang tetap terbuka. Gabungan dari darah mereka menetes dengan sangat lambat dari hasil operasi yang gagal itu. Itu merupakan mimpi buruk yang bahkan tidak bisa kubayangkan.

Akhirnya suaraku menemukan jalannya ke tenggorokanku dan aku pun berteriak. Aku berteriak dengan suara yang bahkan membuat diriku sendiri takut. Makhluk itu tidak bergeming saat mendengar suaraku yang memenuhi kekosongan dengan rasa ngeri dan duka.

Aku bisa merasakan tangannya menggenggam bahuku dan jari-jarinya menggali ke dalam kulitku. Aku bisa mendengar suara daging yang terkoyak dan jarinya sampai pada tulangku.

Dengan sisa tenaga yang ada di tubuhku, aku menutup mataku. Sekarang, mulutku tertutup, tetapi jeritanku terus berlanjut.. Berulang-ulang seperti kaset rusak. Aku ingin memohon agar dia berhenti, karena itu membuatku teringat dengan kengerian yang baru saja aku saksikan. Tetapi, sekali lagi aku terdiam, dan tubuhku sudah lelah dari rasa syok tersebut.

Akhirnya, makhluk itu melepaskanku. Aku rasa dia mengejekku saat aku terjatuh seperti sampah yang berlumuran darah di lantai. Tidak berharga dan terkulai lemas. Dengan penuh amarah, monster itu mengangkatku dan memaksa mataku untuk tetap terbuka. Kukunya yang tajam dan kotor bergerak ke arah mataku.

Dia mulai mencakar bagian bawah kelopak mataku. Rasa sakit itu tidak bisa digambarkan. Aku sudah tidak memiliki suara untuk mengutarakan siksaan ini. Aku seperti sebuah boneka kain, menggantung di tangannya saat jeritanku mulai terdengar lagi.

Dengan cepat, jeritanku di sambut oleh tawa dari para penonton yang mengerikan.

Hidupku begitu indah. Aku menikmati setiap momen yang berjalan dan menghargai setiap perasaan yang diberikan. 

Sebenarnya, ketika hari berakhir, aku merasa sedih. Ketika aku harus tidur, aku merasa jauh lebih sedih.. sampai-sampai aku merindukannya. Begitu sedih… sampai-sampai kapanpun aku menutup mataku, aku bisa melihat pesan yang sama.. Sampai aku terbangun:

“Apakah sekarang kau bahagia?”


Credits
Cerita oleh: Anonim
Original Story klik di sini
Diterjemahkan oleh: Papachan
Dibacakan oleh: Papachan

Background Music:
Myuu


Disclaimer
Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mitos Tentang 03:00 AM

Gadis Dalam Foto