in ,

Bus Gila

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Bus Gila


Selama bertahun-tahun, orang tuaku menceritakan padaku tentang kecelakaan bus gila yang pernah terjadi di dekat rumah kami beberapa tahun yang lalu. Di suatu pagi, beberapa hari sebelum aku lahir, ketika ibuku sedang mencabuti rumput di kebun, ia mendengar suara ribut yang mengerikan.

Ada serentetan jeritan melengking, bunyi ban berdecit, diikuti bunyi tabrakan yang sangat kencang. Semua orang di daerah itu keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi.

Di ujung jalur bus yang sudah tua, mereka menemukan jejak ban yang mengarah ke tebing terdekat, dan mereka melihat puing-puing bus di bawah tebing tersebut. Tampaknya bus itu terjatuh dari tebing dan menabrak bebatuan bergerigi di bawah.

Orang-orang bergegas turun menuju tempat di mana bus yang masih mengepul itu terjatuh berserakan, berusaha untuk menolong korban kecelakaan. Akan tetapi, mereka sangat terkejut ketika mendapati bahwa itu merupakan bus sekolah setempat, dan seluruh penumpangnya merupakan anak-anak mereka sendiri.

Tubuh anak-anak tersebut terjerat di besi. Sebagian terlempar dari bus dan tewas terbentur bebatuan. Sebagian lagi terpenggal oleh pecahan kaca dan besi di dalam bus. Orang tua mereka menjerit histeris dan menangis melihat jasad dari putra putri mereka yang terkoyak dalam sisa-sisa bus yang hangus terbakar.

Ambulans dan pemadam kebakaran tiba di lokasi tersebut, namun sayangnya tidak ada satu pun korban yang selamat. Seluruh anak-anak di dalam bus tersebut tewas dalam kecelakaan. Hal itu merupakan musibah paling mengerikan yang pernah mereka alami. Dalam satu kejadian yang mengerikan itu, satu generasi telah tersapu. Tak ada satupun kata-kata yang bisa menghibur orang tua dari anak-anak tersebut.

Beberapa hari kemudian, dilakukan upacara pemakaman untuk seluruh anak-anak yang meninggal dalam kecelakaan tersebut. Orang-orang berdatangan dari tempat jauh untuk memberikan rasa belasungkawa. Hampir seluruh keluarga di daerah itu kehilangan anak-anaknya dari kecelakaan tersebut. Sebanyak hampir 40 buah peti mati dikebumikan pada hari itu.

Penyelidikan dilakukan tidak lama setelah kejadian tersebut, dan polisi akhirnya mengetahui penyebab dan pelaku dari kecelakaan mengerikan itu. Nampaknya ada seorang pasien kejiwaan dari rumah sakit jiwa setempat yang kabur di malam sebelum kecelakaan.

Dia menyelundup ke terminal bus dan mencuri seragam supir. Malam itu ia menunggu sampai pintu terminal dibuka. Kemudian ia diam-diam menaiki bus sekolah dan mengendarainya keluar tanpa ada seorang pun yang menyadarinya.

Esok paginya, ia mengendarai bus tersebut di sepanjang desa, menjemput anak-anak yang telah menunggu di pinggir jalan. Tidak ada seorang pun yang mencurigainya karena ia mengenakan seragam supir. Setelah ia menjemput seluruh anak-anak di jalurnya, pasien kejiwaan tersebut langsung tancap gas dan mengendarai dengan kecepatan tinggi hingga jatuh dari tebing.

Penduduk di daerah kami tidak akan pernah lupa pada kecelakaan mengerikan yang disebabkan oleh pasien kejiwaan itu. Selama aku tumbuh besar, tidak banyak anak-anak yang bisa kuajak main. Karena sebagian besar telah meninggal dari kecelakaan tersebut. Anak-anak yang selamat hanyalah mereka yang masih terlalu muda untuk sekolah pada saat itu.

Aku akan menceritakan sebuah kisah ketika aku berusia 13 tahun. Aku mendapat ijin dari orang tuaku untuk pergi ke bioskop di kota. Di sana, aku bertemu dengan rombongan temanku dan kami menonton film, sangat menyenangkan. Tetapi, kami lupa waktu dan ketika memutuskan untuk pulang, hari telah malam.

Aku menunggu bus di halte selama setengah jam. Barulah tersadar kalau sepertinya aku sudah ketinggalan bus terakhir. Setelah memaki diri sendiri yang ceroboh ini, aku memikirkan bagaimana caraku pulang. 

Sebenarnya jarak bioskop tidak begitu jauh dari rumah, mungkin sekitar 2 atau 3 kilometer, tetapi jalanan di malam hari sangat berbahaya, karena di daerah ini tidak ada lampu jalan. Banyak orang yang tertabrak mobil ketika berjalan di kegelapan.

Aku menemukan telepon umum dan menelepon ibuku. Aku memberitahunya bahwa aku ketinggalan bus terakhir. Dia mulai panik, mengatakan bahwa ayah sedang pergi dan mobil sedang dibawanya. Ibuku tidak bisa menjemputku. 

Aku memberitahunya bahwa aku akan pulang jalan kaki saja, tetapi dia melarangku karena jalanan di malam hari sangat rawan. Apalagi sekarang mulai turun salju, itu berarti, walaupun pengemudi dapat melihatku dan menginjak rem, mungkin mobilnya tidak akan sempat berhenti dan akan menabrakku.

Ibu mengatakan bahwa ia akan mencoba menghubungi tetangga, mencari apakah ada yang bisa pergi ke kota dan menjemputku. Setelah menutup telepon, aku mulai tidak sabar. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk jalan kaki saja sambil berharap tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Aku berjalan sendirian di jalanan bertanah, berhati-hati untuk tidak tersandung ke lubang atau parit. Kemudian ada cahaya kendaraan dari belakangku. Entah itu mobil atau bus, kendaraan itu melaju dengan sangat cepat dan tanpa suara, melalui jalan yang ditutupi salju.

Kendaraan tersebut semakin mendekat, dan aku mulai dapat melihat bentuknya. Tampaknya itu adalah bus. Aku berharap supirnya dapat melihatku dan mau menghentikan busnya untukku. Bus itu melewati tikungan, dan menyinariku dengan sinar yang terang. Lampu bus itu bagaikan sepasang meteor yang menembus kegelapan.

Aku melompat ke pinggir jalan dan melambaikan tanganku, tetapi bus itu melewatiku dengan kecepatan tinggi. Sesaat kupikir dia tidak melihatku. Tetapi kemudian aku mendengar suara decitan, dan bus itu berhenti tidak jauh dariku. Aku segera berlari secepat mungkin menuju bus tersebut, dan segera naik ketika pintu bus terbuka. 

Begitu aku masuk, pintu bus tertutup, dan supir kembali menjalankan bus dengan kecepatan tinggi. Di dalam bus itu sangat gelap. Ketika mataku mulai terbiasa dengan kegelapan, aku dapat melihat bahwa penumpangnya hampir penuh, padahal ini sudah larut malam. Aku menemukan kursi yang kosong dan duduk di sana, mengistirahatkan kakiku yang lelah.

Udaranya terasa dingin. Mungkin lebih dingin dari udara di luar, dan ada bau aneh yang tidak menyenangkan. Aku terdiam dan melihat penumpang lain di sekeliling, sangat sunyi. Mereka semua melihat ke depan, dan tidak ada yang tertidur. Kesunyian itu membuatku merasa tidak nyaman, dan bau aneh yang tadi semakin tak tertahankan.

Aku sangat mual sampai tidak dapat berkata apa pun. Di dalam bus itu dingin sekali, dan bau aneh itu membuatku mual. Aku menggigil dari ujung kaki sampai ujung kepala. kemudian aku menoleh ke anak lelaki di sebelahku dan bertanya apakah aku boleh membuka jendelanya.

Dia tidak menjawab. Dia bahkan tidak berkedip.

Aku mengulang pertanyaanku dengan suara yang lebih keras, tetapi tetap tidak ada jawaban. Aku sudah tidak tahan dengan baunya, dan meraih jendela untuk dibuka, tetapi kaitnya patah begitu kuraih. 

Tepat ketika itu, aku melihat jendelanya ditutupi sarang laba-laba dan jamur. Tidak hanya itu, seluruh bagian bus itu menjadi terlihat usang dan hampir bobrok. Kursi kulit tertutup oleh jamur, dan lantai bus itu rusak dan lapuk.

Aku menoleh ke anak lelaki yang tadi dan bertanya, “Ada apa dengan bus ini?”

Tanpa berkata sepatah kata pun, dia menoleh perlahan ke arahku dan menatapku. Aku tidak akan pernah melupakan tatapan itu seumur hidupku. Aku merasakan sekujur tubuhku menjadi dingin. Mata anak itu terbuka sangat lebar seperti akan lepas. Wajahnya kaku dan pucat bagaikan mayat. Bibirnya yang pucat itu seperti tertarik dan memperlihatkan giginya yang besar dan kekuningan.

Aku kehilangan kata-kata, dan seketika rasa takut langsung menghampiriku. Aku menyadari bahwa semua orang dalam bus melihat ke arahku dengan tatapan yang sama. Wajah mereka busuk, baju mereka penuh dengan tanah. Hanya mata mereka, mata mengerikan mereka, yang hidup, dan menatapku tajam.

Aku menjerit ketakutan dan berlari ke bawah, melewati kursi-kursi penumpang, dan mendobrak pintu. Seketika itu, begitu pintu terbuka, aku mendengar bunyi tabrakan dan bus nya berguncang seperti kapal laut. Lalu aku mendengar banyak suara anak-anak yang menjerit, kemudian semua menjadi gelap.

Sepertinya aku tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Ibuku membangunkanku di rumah sakit. Dia menceritakan padaku bahwa aku terjatuh dari tebing di dekat jalur bus tua. 

Tampaknya aku terjatuh ke onggokan salju yang tertumpuk di atas bebatuan, sehingga aku masih hidup. Kedua kakiku patah, sebelah tanganku patah, dan ada luka yang cukup dalam di dahiku. Aku ditemukan oleh seorang petani, dia membawaku ke rumah sakit setempat.

Sebagian orang mengatakan bahwa aku pembohong, sebagian lagi mengatakan bahwa aku gila, tetapi biarlah mereka berpikir sesuka mereka. Aku adalah penumpang, di bus gila tersebut.


Credits

Cerita oleh: Anonim
Original Story klik di sini
Diterjemahkan oleh: Red
Dibacakan oleh: Papachan

Background Music:
Myuu


Disclaimer

Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

48

Ruang Belakang (The Backroom)