in ,

Ternyata Dia… [Part 2]

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Ternyata Dia… Part 2


Dodi menghidupkan api agar kami semua tidak merasa terlalu kedinginan. Kami pun berkumpul dan saling menguatkan. Setiap kali aku memperhatikan Reza, entah kenapa aku merasa tatapannya begitu aneh dan persis seperti tatapan Aulia kekasihnya.

“Si Reza kayaknya galau banget berpisah dengan  Aulia….” celutukku sambil tertawa. Semua orang langsung menatapku bingung bahkan tak ada satupun dari mereka yang ikut tertawa bersamaku dan aku pun kini jadi salah tingkah.

Malam mulai larut. Kami memutuskan untuk segera tidur.  

Tinggallah Reza duduk sendirian di depan perapian. Dodi sebenarnya sudah membujuk Reza untuk segera beristirahat, namun Reza nampaknya masih belum ingin beristirahat. 

Di tengah malam, aku tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk. Pada saat itulah, sayup-sayup ku dengar suara Reza. Ia seperti sedang berbicara dengan seseorang. Saat aku hendak bangun. Bella memelukku dan berbisik.

“Jangan keluar Bulan.” Suara Bella bergetar, membuatku  merinding dan aku pun mengiakan perkataannya. Bella begitu ketakutan, ia memelukku erat. Aku pun mencoba untuk menenangkannya. 

Pagi hari tiba.. Dodi membangungkan kami semua. Kami pun bangun dan segera  bersiap untuk berangkat.. Ku lihat wajah Bella sangat pucat. Ia nampak begitu ketakutan saat melihat Reza yang berdiri tegap di belakang Doni. Setelah selesai membereskan barang. Kami pun langsung berangkat. Bella tetap bersama denganku.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami tiba di kampung tua, kampung yang benar benar ga ada listrik – apalagi jaringan telepon. Kami pun segera melaporkan kedatangan kami kepada Kepala Desa. 

Saking terpelosoknya kampung ini – pemandangan indah, suasana alam yang asri serta keramahan para penduduk – masih bisa dinikmati. Nama  kampung ini kampung Tebu. “Hmm… tapi sepertinya aku koq merasa ga asing dengan kampung ini yaa. “

Aku dan teman-teman menyempatkan waktu mengelilingi kampung berjalan kaki. Ketika tiba di ujung kampung, mata kami terpana melihat rumah tua nan indah, rapi dengan pohon rindang di depannya. Aku dan temen-teman ingin sekali pergi ke rumah  tersebut. 

Namun, saat kami berjalan mendekati rumah itu … tiba-tiba pintu rumah tersebut terbuka, kami pun berhenti, saling menatap satu sama lain. Tak lama kemudian, keluar seorang gadis cantik dengan pakaian yang lusuh dan serba putih.

Aku berkata kepada teman-teman. “Siapa gadis itu ?” “Haa, gadis yang mana sih Lan ?” teman-teman pun melanjutkan langkah mereka, sementara aku terdiam kebingungan dengan sikap teman-temanku.

Gadis tersebut melambaikan tangannya padaku sambil memanggil namaku. Wajahnya tak begitu terlihat jelas. Tapi suaranya begitu menggema dan membuatku merinding.

Aku buru-buru mengalihkan pandanganku pada teman-temanku yang sedang tertawa bahagia sambil berfoto ria di dekat pohon yang ada di depan rumah tua itu – berbeda dengan Reza yang justru sedang menangis di bawah pohon tersebut.  

Tak tahan dengan semua keanehan ini, aku pun segera berlari menuju rumah Kepala Desa. Aku menceritakan semua yang terjadi kepada Kepala Desa. “ Bilang sama teman-temanmu ya nak, jangan lagi mendekati rumah itu.” 

Malam pun tiba, seperti biasa Bella dan Jihan  memasak di dapur. Aku dan Vina mencuci peralatan makan kami. Selama KKN, kami tinggal di sebuah gedung tua yang ada di desa ini. Saat sedang makan malam bersama, aku pun menyampaikan amanah dari Kepala Desa tadi.

Reza menatapku tajam, sepertinya ia tidak suka dengan apa yang aku katakan. Teman-teman juga bertanya-tanya kenapa kami tidak boleh mendekati rumah indah di ujung kampung itu.  

“Bukankah mahasiswa di kampus kita ada yang berasal dari  kampung Tebu ini kan yah?” Bella mencoba mencari pembenaran atas apa yang diungkapkannya barusan. Semua terdiam, nampaknya masing-masing kami mencoba mengingat-ingat hal itu.

Iya ya, sepertinya benar apa yang dikatakan Bella. Tapi aku juga lupa mahasiswa prodi apa, dan siapa namanya. Setahuku, dia satu-satunya mahasiswa yang berasal dari kampung ini.. Tapi aah  sudah lah.. 

“Ngomong-ngomong besok kita akan mengadakan program apa nih?” tanya Dodi kepada kami. Reza dengan lantang menjawab program menyingkap pembunuhan. Kami semua spontan tertawa. Setelah merembukkan program yang akan dilakukan selama masa KKN, kami pun memutuskan untuk beristirahat.  

Lagi-lagi entah jam berapa aku terbangun dan mendengar suara Reza yang tengah berbicara dengan seseorang. Aku melihat Vina dan Jihan sudah tertidur nyenyak. Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku, sebelum aku sempat berteriak kaget, tangannya langsung menutup mulutku.

Bersambung di Part 3


Untuk kemudahan navigasi, klik tombol di bawah:


Credits

Cerita dikirim oleh: Indriana_az
Dibacakan oleh: MamaEn, Papachan

Background Music:
Myuu
Kevin MacLeod


Disclaimer
Cerita ini disubmit oleh Indriana_az dan telah menjadi hak milik Tim MalamMalamStories.

Cerita ini tidak diperbolehkan untuk disalin, disebarluaskan, diubah dalam bentuk atau format apapun dan untuk kepentingan apapun, tanpa izin tertulis dari pihak Tim MalamMalamStories.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dear Diary

Pale Luna