in ,

Nenek Bungkuk

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Nenek Bungkuk


Harusnya ini jadi kegiatan menyenangkan sekaligus menyehatkan, tapi sejak kejadian itu, aku jadi takut bersepeda di waktu subuh. ..

Namaku Andra. Aku tinggal di salah satu daerah di Jawa Barat. Kejadian itu terjadi saat aku masih SMP. Sudah menjadi kegiatan rutin di hari libur, aku bersama kedua temanku – Sidiq dan Rafif – janjian gowes bareng. 

Kami biasanya akan berkumpul bersama pada jam 4 subuh di depan gang rumahku dan kami akan mengambil rute yang cukup jauh. Bahkan sesekali kami bisa bersepeda hingga perbatasan antara Kota dan Kabupaten. 

Agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain, kami tidak selalu berada sejajar – kadang kami harus tetap dalam posisi berbaris. Kecuali, jika jalan yang kami lewati benar-benar sepi. 

Seperti jalan itu… 

Harusnya pencahayaan di jalan itu bisa lebih terang. Mungkin karena ada beberapa lampu jalan yang mati sehingga pencahayaan di jalan itu cukup remang. Ditambah lagi, hampir tak ada orang ataupun kenderaan yang melewatinya, benar-benar sepi. 

Kami terbantukan dengan sedikit cahaya lampu dari sepeda Rafif dan dari rumah-rumah warga sekitar. Tidak begitu terang, karena jarak antara rumah yang satu dan rumah lainnya cukup jauh. 

Aneh … 

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan… 

“Udah dingin, gelap, sepi pula… hmmm…koq jadi horor begini yaa…” 

Aku hanya berani bergumam dalam hatiku – tentu saja, aku tidak ingin kata-kataku barusan membuat kami semua ketakutan. 

Kami mulai memasuki area dengan banyak pepohonan di kiri kanan jalan. Tak ada satupun dari kami yang berusaha menghangatkan suasana dengan gurauan-gurauan garing. Seolah saling mengerti isi pikiran satu sama lain, kami mulai mensejajarkan dan mendekatkan posisi kami. 

Tiba-tiba, entah darimana datangnya…

Aku melihat di depan kami, di sisi kanan jalan – berdiri seorang nenek tua yang tengah bersiap untuk menyebrangi jalan. Entah karena bingung atau shock, kami malah kompak berhenti. Nenek itu berjalan dengan sangat lambat. 

Aku berusaha mengamati dengan seksama. Nenek itu menggunakan kebaya – yaa kebaya yang sangat lusuh. Saking lusuhnya, aku bahkan tak bisa melihat dengan jelas corak dari kain kebayanya. Yang bisa kupastikan, warna kebayanya didominasi warna hijau tua… dan… ya… rambutnya yang disanggul menggunakan sebuah tusuk kondek berwarna keemasan.

Nenek itu membungkuk hampir 90 derajat – membuatku sedikit ngeri bercampur heran. Ia berjalan dengan ditopang tongkat kayu yang tingginya melebihi tinggi badannya. Tubuhnya bergetar setiap kali ia melangkah. Aku jadi kasihan sekaligus takut melihatnya. 

Kami hanya berjarak sekitar 3 meter darinya. Tak ada di antara kami yang mengatakan apapun. Kami semua hanya terpaku melihat ke arah nenek itu. Ia kini berada di tengah jalan. 

Tiba-tiba nenek itu menatap ke arah kami — kami terperanjat melihat wajahnya ! Setengah wajahnya nyaris rusak dengan luka bakar, bahkan satu bagian matanya sudah tak terlihat jelas. Mata yang satunya lagi melotot ke arah kami.  Merasa ada yang tak beres Rafif segera memberi aba-aba untuk pergi…

 “Oh nooo ! kabur gaesss …. “ Teriak Rafif.

Sebelum kami berhasil mengayuh sepeda kami, tiba-tiba ia melepas tongkatnya, mencabut tusuk kondenya dan berlari sangat cepat ke arah kami…. Tidak ! lebih tepatnya ke arahku !!! “Ahhhh… “ 

Aku terbangun dengan nafas tersengal-sengal, perasaanku kacau ! 

“ Hanya mimpi… ya hanya mimpi !”

Aku meyakinkan diriku, kalau kejadian buruk itu hanyalah mimpi.  Aku melirik ke arah jam dinding kamarku. Tepat jam 12. Aku mencari-cari hp yang ada di bawah bantalku dan melihat beberapa pesan WA yang masuk. Ada 1 voice note dari Rafif dan 1 pesan teks dari Sidiq.

Sidiq :  Gimana kabar lo Ndra ? Semoga lo udah baik-baik aja ya…  Ah ! gw jadi ngerasa bersalah karena batal ngegowes bareng lu kmrn ! 

Rafif : “Hey Ndra … lu udah baikan ga ? gw sama Sidiq khawatir banget nih sama lu. Lagian lu ngapain sih ngegowes subuh sendirian ga nungguin gw ! Mana pake acara ke area keramat lagi ! Lu gila ya …. ”

Bulu kudukku seketika merinding…  “Haa ???  Jadi ? “ Lengan kiriku tiba-tiba terasa sakit. Darah… ya ini darah… ada luka tusukan yang tidak terlalu dalam di lengan kiriku…


Credits

Cerita dikirim oleh: Andra12
Dibacakan oleh: Papachan

Background Music:
Myuu
Kevin MacLeod


Disclaimer
Cerita ini disubmit oleh Andra12 dan telah menjadi hak milik Tim MalamMalamStories.

Cerita ini tidak diperbolehkan untuk disalin, disebarluaskan, diubah dalam bentuk atau format apapun dan untuk kepentingan apapun, tanpa izin tertulis dari pihak Tim MalamMalamStories.

Report

What do you think?

15 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Saluran Infinity

Review Film : Lara (2019)