in

Review Film : Lara (2019)

Sekilas film yang berasal dari Jerman ini menarik perhatian saya ketika membaca sinopsisnya. 

Pada akhirnya saya mencoba menulusuri siapa orang di balik film ini – yang ternyata adalah sutradara dari film ini Jan Ole Gerster. Dia sempat dikenal dengan film Oh Boy atau lebih dikenal dengan A Coffee in Berlin yang dirilis pada tahun 2012.

Saya sebenarnya tidak begitu tahu, apa dan bagaimana detil cerita yang disajikan di film ini. Hanya dengan bermodalkan sinopsis serta ketertarikan saya pada garis besarnya.

Di hari ulang tahunnya yang ke-60, Lara seorang ibu yang tidak cukup baik dalam bersosialisasi, dihadapkan dengan sebuah acara besar. Ya, acara tersebut adalah debut konser piano anaknya yang kemudian menjadi sebuah emosi tidak terkontrol pada personal karakternya.

Film ini tidak mencoba mundur jauh untuk menampilkan awal terjang Lara sendiri. Sebaliknya, Gerster menangkap gambaran penuh latar belakang dari karakter utama ini dalam scene by scene yang dia lalui. 

Lara yang diperankan Corinna Harfouch punya latar belakang yang cukup keras, mulai dari hubungannya dengan orang tuanya dan guru piano, beberapa perasaan egois serta konflik batin yang berefek besar pada anaknya, Viktor.

Lara merupakan karakter unlikeable person, seperti orang yang tidak punya tata krama dalam berkomunikasi dengan orang lain. Sejak menit pertama Lara sudah memperlihatkan sikap buruknya dalam bersosialisasi dengan orang-orang sekitar. Kalian bisa menjudge karakter Lara  ‘banyak berhutang maaf’ pada orang-orang yang dia temui. Egoistic!

Sejauh film berjalan, kita akan tahu pada akhirnya Lara bukanlah seorang ibu yang salah dalam bersikap, melainkan sebuah efek dari kerasnya pengalaman hidup yang telah dia lalui. 

Keegoisan yang berujung kurangnya empati terhadap kerja keras anaknya. Hal ini jelas didapatkan dari cara orang tuanya (khususnya sang ibu) yang memperlakukannya dengan tidak menghargai talenta yang dimiliki Lara.

Scene yang gamblang diperlihatkan saat Lara bertemu dengan ibunya. Gambaran yang secara tidak langsung memperlihatkan ketidakharmonisan hubungan antara ibu dan anak. 

Cake yang dibelinya sama sekali tidak dihargai oleh ibunya sendiri hingga adegan bagaimana Lara menampar ibunya. Semuanya memperlihatkan betapa kerasnya hidup yang telah dilalui Lara sendiri. Namun, perlakuan ibunya terhadap dirinya justru berbanding terbalik dengan perlakuan ibunya terhadap anaknya.

Sebenarnya, ada begitu banyak cara Gerster, sang sutradara dalam menerjemahkan scriptnya ke dalam visual. Salah satunya adalah penggambaran kontras yang ada di scene awal dan akhir. 

Pelampiasan amarah dan rasa kecewanya dengan berdiri di depan jendela seperti ingin melakukan upaya bunuh diri serta scene akhir, sebagai sebuah solusi konflik batin Lara yang tertuang dalam demo talent yang dia tunjukkan.

Pada akhirnya, film ini mencoba menggambarkan ‘kegagalan orang tua’ dalam mendidik anaknya. Betapa pentingnya masa lalu yang akan membentuk diri kita saat ini, seperti Pribahasa “Buah Tak Jatuh Jauh dari Pohonnya”

Jika Seandainya ibu Lara punya rasa empati yang cukup terhadap Lara, begitu juga Lara terhadap anaknya – mungkin semua akan berjalan lebih baik untuk masa depan ibu dan anaknya.


Score:

Rating: 3 out of 5.

Report

What do you think?

Written by Hariyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Nenek Bungkuk

Yakin Cinta Itu Berawal Dari Persamaan?