in

Yakin Cinta Itu Berawal Dari Persamaan?

Saat Pacaran :
“Kami punya hobi yang sama, menyukai kecintaan yang sama… “ 

Saat memutuskan menikah :
“Iya kami ngerasa udah cocok karena punya banyak kesamaan… makanya kami memutuskan untuk menikah.” 

Saat bercerai :
“Kami merasa udah ga ada keCOCOKan lagi… 

Pada akhirnya… sadar kalau “GA COCOK” setelah “BANYAK SAMA”nya.

Hmmm… *turut nyesek  

Ga ada yang salah jika cinta itu dimulai dari persamaan, persamaan akan hobi, kecintaan pada suatu hal, dan… SEMUA SAMA ! Tapi, tunggu dulu… apa benar semuanya harus memiliki kesamaan baru bisa dibilang COCOK dan BERJODOH ??

Sepasang kekasih | MalamMalam.com | Lifestyle

Artikel kali ini tidak menggurui, tapi sekedar sharing dari pengalaman hidup.

Saya dan suami memulai hubungan kami justru dari PERBEDAAN bukan PERSAMAAN. Suami saya sangat menyukai (*bahkan cinta mati) game dan saya justru sebaliknya ! SAMA SEKALI TIDAK MENYUKAI GAME. 

Saya menyukai nyaris semua genre musik. Well, karena setiap orang pasti menyukai musik… suami saya juga ! Hanya saja suami saya suka pilih-pilih, genre music apa, penyanyinya siapa… pokoknya, terlalu banyak persyaratan yang dibebankan pada si musik sebelum dia memutuskan “Oke, gw suka musik ini !” 

Hmmm… saya suka menjadi pusat perhatian, sementara suami saya … alergi berat !!! Saya suka berbasa-basi, suami saya… lebih suka ngomong singkat, irit bahkan pelit kata-kata. Kalau ada masalah, saya akan memilih diberikan HAK mengklarifikasi panjang lebar, sementara suami saya ? cuek dan bodo amat !

See ?? kami tidak sama… kami berbeda !!

Tapi kami sama-sama sepakat kalo cinta itu juga dari PERSAMAAN.

Eittt… tapi bukan persamaan hobi atau kecintaan akan suatu hal tertentu. Kami sama-sama memiliki visi misi yang sama tentang rumah tangga, tentang keluarga dan tentang cinta.

Sepasang Cincin - simbol pernikahan | MalamMalam.com | Lifestyle

Sebelum memutuskan untuk menikah, kami mencoba mencocokan fondasi rumah tangga yang akan kami bangun nanti. Ibarat rumah, model rumahnya seperti apa, berapa jumlah kamar, kamar mandinya harus ada shower, bath tub, atau pake gayung plus ember saja, dan bla-bla-bla…Ini yang kami sebut persamaan.

Entah nanti furniturenya harus merk apa, modelnya bulat, persegi panjang, itu akan kami isi dengan PERBEDAAN yang kami punya. Dengan begitu, kami mempertahankan apa yang baik dan mencoba melenyapkan yang ga baik.

Toh, jika semua sama… mau jadi apa hubungan rumah tangga kami nanti.

Sama-sama egois (siapa yang bakalan ngalah kalo perang), sama-sama suka main game (kapan seriusnya ?), sama-sama serius (kapan nyantainya cuy), endingnya… sama-sama nyebur, kelelep dan akhirnya tenggelam dalam dunia masing-masing.

Kesimpulannya ?

Cinta itu simple tapi jangan terlalu simple hehehe… Simple karena kalo kamunya sayang dan dia juga sayang, maka jangan terlalu banyak ini-itunya lagi biar ga berat… (toh hidup sendiri saja udah berat wkwk…)

Jangan terlalu simple, karena setelah kita berumah tangga – tanggung jawab dan masalah akan ikut bertambah pula cuyyy (*hahhh…itu benar guys!), makanya perlu fondasi yang kokoh, persiapan mental, batin, pikiran, perasaan bahkan materi untuk membangun sebuah rumah tangga, rumah tangga kalian bukan rumah tangga orang lain yakkk.

Happy Family all 

Report

What do you think?

Written by Jeane Derdanela

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Review Film : Lara (2019)

Kecelakaan Kadang Terjadi [Part 1]