in

Pulang Dengan Siapa?

Disclaimer

Cerita-cerita yang dipublish dalam kategori Community Post sepenuhnya merupakan tulisan dan milik dari Penulis, yang dianggap tidak melanggar Ketentuan Komunitas (tetapi Tim MalamMalam tidak mengedit hasil tulisan yang ada).

Apabila Anda ingin mengubah, membuat turunan dari materi, atau mempublikasi cerita ini di tempat lain, Anda harus meminta izin dan menghubungi langsung Penulis yang bersangkutan. Kami tidak menanggung segala konsekuensi, termasuk konsekuensi hukum yang ditimbulkan akibat dari penggunaan cerita ini.


Hembusan angin dan hujan yang awet ini menemani perjalanan Enci, dengan perut yang sudah mulas dan ingin segara muntah ia tutup rapat-rapat dengan kain jilbabnya itu. Kondisi jalan berlubang penuh dengan kubangan lumpur menambah sensasi merinding pada malam itu.

Tepat jam 12 malam, Enci masih berada dijalan bersama bus yang ia tumpangi, anehnya bus itu tidak membawa siapa pun selain Enci. Namun, Enci tidak menghiraukan apa pun. Tiba- tiba dering gaway Enci memecah kesunyian malam itu. Ternyata nenek nya menghubungi. Enci menjawab.

“Assalamu’alaikum, Nek?”

“waalaikumussalam. Dimana Nak, ?” tanya nenek khawatir pada Enci.

“emm, sebentar Nek, Enci Tanya supir dulu ini udah dimana.” Jawab Enci pada nenek

Kemudian Enci berjalan mendekati supir, dan bertanya keberadaan mereka.

“oh.. ini sekitar 1 jam lagi sampai di Kampung Sulir, tenang nanti didepan akan ada temanmu” Jawab supir pada Enci.

Enci pun menceritakan pada nenek apa yang dikatakan supir tersebut. Dengan gembira karena akan ada penumpang lain, yang akan menemani kursi sebelah Enci.

Kantuk pun menyerang Enci pada malam itu, namun enci tetap menahan agar tidak tertidur. Halte Bus telah terlihat dari jarak 10 meter. Bus yang Enci tumpangi langsung berhenti tepat di depan halte. 

Namun, tidak ada seorang pun yang naik ke dalam bus yang Enci tumpangi. Pintu bus tepat berada di sebelah kiri Enci terbuka beberapa saat dan kembali tertutup. Bus pun kembali berjalan seperti biasa.

Ketegangan mulai dirasakan Enci, bulu kuduk pun berdiri seketika. Sambil memegang gawaynya erat-erat. Saat Enci hendak membuka gaway nya tersebut, bus berhenti mendadak Enci pun kaget hingga gaway dan tasnya terjatuh ke bawah kursi. 

Tak bisa dipungkiri Enci semakin ketakutan. Perlahan ia duduk dan mengulurkan tangannya ke bawah kursi. Saat ia melihat, ternyata ada tangan lain yang juga mengambil gaway miliknya. Sontak mata Enci melotot dan menarik kembali tangannya. Mata Enci tertutup sambil menutup mulutnya dengan tangan.

“Tenanglah, ini aku kembalikan gaway milikmu.” Suara bisik lembut tepat di depan Enci.

Perlahan Enci mulai membuka mata, terlihat sosok perempuan cantik berpakaian serba hitam. Enci masih tak dapat bicara sepatah kata pun. Enci terus menatap perempuan yang masih berdiri tegak dihadapannya sambil tersenyum.

Tak lama dari situ, perempuan itu mengulurkan tangannya, sambil berkata.

“Ikutlah denganku, maka kau akan merasa aman. Tidak ada lagi sosok-sosok yang mengganggu perjalananmu. Bukankah nenek mu sudah menunggu di kampong halaman?”

Enci pun tersenyum dan mengangguk. Enci meraih tangan perempuan itu. Dan mereka duduk dikursi yang sama.

Wajah Enci masih terlihat kebingungan dengan hadirnya sosok perempuan itu. Tiba-tiba perempuan itu berkata.

“Jangan heran, aku masuk lewat pintu sebelah kanan,”

Enci pun hendak menoleh ke sebelah kanan, melihat apakah ada pintu disana. Namun, kepala Enci di tahan oleh perempuan itu. Sambil berkata.

“Sudah jangan dipikirkan, kamu akan aman bersamaku.”

Enci pun melihat jam sudah menunjukan pukul setengah 2. Beberapa menit kemudian terlihat cahaya terang. Enci mengira itu adalah perkampungan ternyata bukan. Itu adalah rumah dengan 3 lantai di tengah-tengah hutan. 

Sempat merasa heran, namun perempuan itu terus membujuk Enci untuk beristirahat di rumah perempuan itu. Enci pun menerima tawaran perempuan tersebut, dengan syarat ketika sudah pagi Enci akan diantar kerumah nenek oleh perempuan tersebut.

Bus yang Enci tumpangi berhenti tepat di depan gedung 3 lantai tersebut. Enci pun sibuk menurunkan barang-barang bawaan, oleh-oleh dari kota untuk neneknya.

Mata enci terpukau melihat keindahan bangunan rumah perempuan itu, saat Enci berjalan selangkah mendekati pagar rumah itu, Enci melupakan sesuatu, gawaynya tertinggal di kursi tempat mereka duduk. 

Enci pun berbalik ke belakang hendak mengambil gawaynya di Bus. Aneh nya bus tersebut menghilang dalam sekejap.

Kemudian perempuan itu langsung menarik tangan Enci dan mereka pun masuk dalam rumah besar itu. Malam itu Enci tidak bisa tidur, meski pun ia mendapatkan kamar yang bagus dengan kasur yang sangat empuk. 

Telinga Enci dipenuhi suara-suara aneh yang terus memanggilnya. Suara dinding yang seperti di cakar-cakar.. krekkkkkk….krekkkk..kreeekkkk…

Enci pun mencoba menutup mata dan telinganya. Agar ia bisa tertidur. Sampai akhirnya ia pun tertidur.

“Nak…Nak.. kok tidur di luar”. nenek membangunkan Enci.

Enci pun kaget melihat sekeliling nya. Betapa ketakutannya Enci saat bangun ternyata ia sudah berada tepat di depan pintu rumah nenek.

“kenapa gak kabarin nenek, Enci mau datang kemari, kan bisa di jemput sama mamang kamu.” Ujar nenek, sambil memberikan air hangat pada Enci.

Enci seperti tidak percaya akan kejadian yang ia alami. Enci pun menceritakan semua kejadian itu pada nenek.

Nenek berkata. “itu adalah tipu daya nyai hideung, dia suka mengganggu anak

perempuan yang bepergian malam hari sendirian.”


Credits

Cerita dikirim oleh: Indriana_Az

Report

What do you think?

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jomblo? Yuk Cari Jodoh Lewat Aplikasi Online!

Kecelakaan Kadang Terjadi [Part 3 – END]