in ,

Perempuan Misterius di Rumah Sakit

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Perempuan Misterius di Rumah Sakit.


Cucuran darah di pelipis mama membuat aku tak mampu lagi membendung air mataku. Tubuhku masih gemetaran, bayang-bayang kecelakaan mengerikan yang terjadi di depan mataku masih saja menguasai pikiranku. 

“Sabar Rima … ” ucap Tika sambil mengusap air mataku.

“Ini semua salahku  Tika !”

“Mamamu sayang banget sama kamu Rima, dia rela berkorban apapun demi kamu.”

Tika menahan tubuhku karena aku memaksa masuk ke ruang ICU, dia membawaku duduk dan terus menguatkanku.

Kecelakaan yang menimpa mama membuatnya harus dirawat intensif selama beberapa hari. Tidak begitu banyak pasien yang ada di rumah sakit Kesdam ini. 

“Rima, jangan sedih ya pelaku tabrak larinya udah ditangkap kok…”

Aku sedikit lega mendengar perkataan Tika, namun tetap saja air mataku terus bercucuran.

“Aku tinggal sebentar ya, biar aku yang urusin administrasinya.”

Sudah hampir jam satu malam mama pun sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Aku memilih untuk tetap  terjaga agar ketika mama terbangun atau membutuhkan sesuatu  aku bisa dengan sigap melayaninya.

Suasana pengap di kamar ini membuatku merasa sangat tidak nyaman. Aku memilih keluar dan duduk di bangku panjang tepat di depan pintu. Tika sudah tertidur lelap sejak tadi, mungkin dia begitu kelelahan karena mengurus segala keperluan mama dan berkas-berkas yang dibutuhkan  rumah sakit.

Hening. Tak terdengar suara apapun. Bahkan anehnya … aku tidak melihat satupun perawat yang berjaga untuk ukuran rumah sakit yang sebesar ini. Aku masih menikmati keheningan malam bersama gaway yang sedari tadi aku mainkan.

Namun tiba-tiba… samar-samar terdengar seperti suara tangisan seorang perempuan. Akupun bangkit dan berjalan perlahan di lorong rumah sakit yang teramat sepi. Sepanjang jalan terlihat banyak sekali kamar inap yang kosong.

Mungkin hanya kamar mama dan kamar paling ujung  yang terlihat lampunya menyala. Semakin aku mendekati kamar paling ujung, semakin bertambah keras pula suara tangisan yang aku dengar. Langkah kakiku terhenti tepat di depan pintu kamar itu.

Pandanganku menyelinap masuk melalui celah kaca jendela yang sedikit terbuka. Di situ, nampak seorang perempuan sedang duduk bersandar dengan kepala tertunduk, aku menarik kembali pandanganku dan berfikir sejenak, apa mungkin dia  itu… Ah…tidak…

Aku kembali mengintip lewat celah jendela itu untuk yang kedua kalinya

“Aaaaaaa!!!!!”

Aku terkejut saat matanya dan mataku bertemu pandang. Dengan langkah terhuyung, aku kembali ke kamar. Jantungku berdebar kencang, aku benar-benar sangat terkejut. 

Sejenak aku mengambil nafas dan berusaha berfikir positif, perlahan jemariku menyingkap tirai jendela  dengan amat hati-hati. Ketakutanku malah menimbulkan rasa penasaran.

“Loh kok…perempuan itu malah duduk di luar kamar?” benakku.

Sudah selarut ini dan dia malah duduk di luar sendirian, bahkan tidak ada satu orangpun yang menjaganya.

“Tika, bangun !!” aku berbisik di telinganya dan sedikit memberi guncangan pada tubuhnya. Dia hanya menggeliat kecil. Aku kembali mencoba membangunkannya namun upaya keduaku tetap saja gagal.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk menghampiri perempuan itu sendirian.

“Permisi… ” ucapku sambil perlahan mengambil posisi duduk di sebelahnya.

Wanita itu sama sekali tidak meresponku. Pakaian rumah sakit yang dikenakannya pun terlihat begitu lusuh. Tubuhnya juga sangat pucat. Dia bahkan tidak menggunakan infus di tangannya.

Hening… 

Setelah beberapa saat, akhirnya suaranya memecah keheningan.

“Kenapa tidak tidur ? Inikan sudah larut. ” Perempuan itu berbicara dengan nada datar.

Aku memberanikan diriku menatapnya, tapi aku tak bisa melihat jelas wajahnya karena ia terus menunduk. 

“Kau tahu, kecelakaan yang baru saja menimpaku membuat aku kehilangan wajah cantik yang begitu aku dambakan. Aku bahkan putus asa hingga berfikir untuk mengakhiri hidupku.”

Dia tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tajam. Terlihat jelas jahitan yang masih basah di pipi kanannya. Pasti dia melepas paksa perban di wajahnya. Refleks, aku langsung mengalihkan pandanganku dari wajahnya. 

“Sekarang aku sudah tidak cantik lagi ! Wajahku hancur … tubuhku penuh luka… aku tidak bisa lagi menjadi seorang Model. Kau beruntung wajahmu cantik dan tubuhmu  pasti sangat mulus. ” Dia kembali menatap wajahku.

“K..Kau masih terlihat begitu cantik. Jangan menyerah ! semua bekas luka itu pasti akan hilang.” Aku mencoba meyakinkannya, meski nampaknya sia-sia.

“Kau bohong!” Dia menatapku sejenak lalu dengan cepat berlari ke arah balkon rumah sakit, tanpa berfikir panjang aku langsung mengikutinya.

“Jangan loncat! Hidupmu benar-benar akan sia-sia jika diakhiri seperti ini.”  Aku mencoba menahan niatnya untuk melompat dari lantai 5 rumah sakit, aku  tidak bisa membayangkan jika dia benar-benar nekat melompat ke bawah.

Aku melangkah perlahan sambil menjulurkan tanganku padanya, namun dia malah mundur perlahan menjauhiku, mendekati pinggiran balkon. 

“Tolong jangan!” Aku mempercepat langkahku dan berhasil menggapai tangannya. 

“Lepaskan aku, untuk apa kau selamatkan aku!” Tangan kanannya terus berusaha melepaskan cengkramanku.

“Aku tidak akan melepaskan mu!” Kami saling tarik menarik. 

“Kalau begitu mari kita mati bersama.”

Ucapannya membuat aku shock dan segera melepaskan cengkramanku. Tanpa aku sadari hal itu membuat tubuhnya terhempas ke belakang, aku mencoba kembali meraih tangannya namun tidak berhasil.

Brukkk…

Secepatnya aku berlari ke bawah. Dengan langkah gemetar aku berjalan mendekatinya, lelehan darah yang bercucuran dari kepalanya mengalir begitu deras. Kedua matanya tetap terbuka, seolah mengutukku.

Untuk kedua kalinya aku melihat kejadian mengenaskan yang disebabkan olehku.

Kini aku ingat, dia adalah perempuan yang turut menjadi korban kecelakaan siang tadi. Wajah cantiknya berlumuran darah karena terkena benturan badan jalan. Tidak seorangpun berani menolongnya.

Entah karena takut atau shock melihat wajahnya atau mungkin karena mereka mengira perempuan itu sudah tidak lagi bernyawa ! Kini dia benar-benar tidak bernyawa lagi.


Credits

Cerita dikirim oleh: Nisa
Dibacakan oleh: MamaEn, Papachan

Background Music:
Myuu
Kevin MacLeod


Disclaimer

Cerita ini disubmit oleh Nisa dan telah menjadi hak milik Tim MalamMalamStories. Cerita ini tidak diperbolehkan untuk disalin, disebarluaskan, diubah dalam bentuk atau format apapun dan untuk kepentingan apapun, tanpa izin tertulis dari pihak Tim MalamMalamStories.

Report

What do you think?

12 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Nyari Camilan Malam ? Cobain deh Kripik Kebab Mau Lagi!

Review Film Upgrade (2018) | Minim Budget Tapi Gak Murahan!