in ,

Santet

Klik tombol play di atas unutk mendengarkan cerita Santet


Kamu pasti pernah mendengar kata SANTET ! Ya upaya keji yang dilakukan seseorang untuk bisa mencelakai orang lain menggunakan ilmu hitam, berbekal bantuan dari dukun.

Siapa saja bisa melakukannya, bisa jadi dia adalah orang yang kamu kenal atau mungkin orang yang sebenarnya ga benar-benar kamu kenal. Hanya karena sakit hati, dendam, iri dan sejenisnya, mereka tega melakukannya kepadamu, kepada keluargamu atau orang terdekatmu.

Apa kamu pernah berurusan dengan hal ini ? aku ? aku pernah !

Ayahku … Ia adalah seorang pekerja keras ! Aku bangga punya ayah sepertinya. 

Bertahun tahun ayah menggeluti profesinya sebagai seorang pedagang barang harian. Ia berjualan dari pasar ke pasar di berbagai daerah terpencil, menggunakan truk pribadi miliknya, dengan mengajak dua orang pekerja.

Satu orang kenek dan satu orang lagi bertugas membantunya membuka dan membereskan barang dagangan di tiap pasar. Setiap hari, pasar yang dia datangi selalu berbeda, tentu tak mungkin bagi ayah untuk melakukan semua pekerjaan itu sendirian.

Semua pekerjaan memang penuh resiko termasuk menjadi seorang pedagang kanvas seperti ayahku. Alhamdulillah, dari hasil keringatnya ini kami tidak pernah hidup berkekurangan.

Semua kebutuhan kami selalu terpenuhi dan secara finansial, hidup keluarga kami pada masa itu boleh dibilang sangat menyenangkan. Sayangnya, semua kesenangan secara materi yang kami dapatkan harus dibayar dengan waktu yang sangat kurang bersama ayah.

Demi mencari nafkah, ayah hanya bisa pulang sekali saja dalam seminggu. Tapi, buatku dia adalah sosok ayah yang tangguh. Tak pernah sekalipun ayah memberitahukan kepada kami anak-anaknya, berbagai kejadian buruk yang dia alami.

Sampai satu waktu, ibuku menerima telpon dari teman ayah. Kebetulan saat itu, ayah sedang berada di daerah tempat tinggalnya.  Ia memberitahukan kalau ayah sedang sakit. Tanpa menunggu lama, kami sekeluarga bergegas berangkat agar bisa segera menemui ayah. 

Jarak menuju daerah tersebut tidaklah dekat. Butuh 8 jam perjalanan darat untuk tiba di sana. Jalannya pun berliku dan banyak yang rusak. Sepanjang jalan, ibu terus menyuruh kami untuk berdoa agar bisa tiba di tujuan dengan selamat.

Hari sudah mulai gelap saat kami tiba di desa itu. Saking terpencilnya, aku bisa mendapati banyaknya pepohonan besar di sana sini. Penerangan super minim di rumah-rumah warga, semakin mengentalkan aura angker di desa tersebut.

Alhamdulillah kami bisa bertemu ayah. Menurut teman ayah, ayah hanya bisa ditangani sebisanya saja. Ya, dapat dimaklumi, daerah ini begitu terpelosok sehingga fasilitas kesehatannya pun masih kurang memadai.

Tak menunggu lama, kami pun pamit dan segera memboyong ayah kembali ke kota agar bisa segera mendapatkan penanganan medis yang lebih baik di rumah sakit. 

Selama beberapa hari dirawat di rumah sakit, ayah selalu berteriak sakit di bagian perutnya. Bahkan menurut ayah, ia  tidak pernah merasakan sakit separah ini sebelumnya.

Padahal dokter mengatakan dari hasil pemeriksaan, ayah hanya demam biasa saja dan tidak ada penyakit yang serius. Singkat cerita, ibu pun memutuskan untuk membawa ayah pulang ke rumah dan melakukan rawat jalan saja. 

3 Bulan berlalu dan ayah masih sering mengeluhkan sakitnya. Kalau dipikir-pikir, sakit ayah kambuh hanya pada malam Jumat saja.

Ibu pun mulai curiga ! Sesuai saran dari beberapa orang terdekat kepada ibu, akhirnya ayah diobati secara tradisional alias menggunakan dukun kampung. Kalau mau jujur, keluarga kami sebenarnya bukan orang yang mudah percaya dengan hal-hal seperti itu.

Tapi dari cerita yang ada, kalau daerah itu masih rawan dengan santet dan hal ghaib lainnya. Aku merinding saat mendengar beberapa cerita tentang daerah itu. Apakah itu benar ?

Allahualam. Lebih mengejutkan lagi ketika dukun tersebut mengiyakan kalau ayah benar terkena santet dari orang yang merasa iri dengan hasil kerja ayah. Santet itu diberikan melalui makanan.

Ayah pun mengakui, sebelum sakit ia memang diberi makan oleh seseorang. Ayah tidak begitu mengenal orang itu, tapi karena ia terkesan ramah dan akrab, makanya ayah tidak menolak saat ditawari makanan. 

Setelah melewati beberapa bulan terbaring lemah dan menjalani rentetan pengobatan tradisional, Alhamdulillah, akhirnya ayah bisa sehat seperti sedia kala dan kembali menjalani rutinitasnya sebagai pedagang kanvas.

Ada rasa syukur sekaligus khawatir dalam hati, berkat kejadian ini kami akhirnya tahu kalau ayah memang sudah sering mengalami hal-hal mistis saat berada di beberapa daerah ketika sedang berjualan.

Yahh…karena tidak ingin kami khawatir, makanya Ayah tidak pernah cerita pada kami sebelumnya.   

Sekarang, hal ini hanya menjadi cerita saja … karena ayahku telah benar benar pergi meninggalkan keluarga kami untuk menemui sang Ilahi.

Bukan karena disantet, tapi karena penyakit jantung yang dideritanya. Terima kasih Ayah untuk semua pengorbanan tak terhingga untuk kami. Bahagia di sana .. syurga untukmu .. kami mendoakanmu dari sini.


Credits

Cerita dikirim oleh: Gilang
Dibacakan oleh: Indy

Background Music:

Myuu


Disclaimer

Cerita ini disubmit oleh Gilang dan telah menjadi hak milik Tim MalamMalamStories. Cerita ini tidak diperbolehkan untuk disalin, disebarluaskan, diubah dalam bentuk atau format apapun dan untuk kepentingan apapun, tanpa izin tertulis dari pihak Tim MalamMalamStories.

Report

What do you think?

11 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 Tanda Kalau Kamu Benar-Benar Jatuh Cinta (Versi Anti Mainstream !)

Review Film Kafir: Bersekutu Dengan Setan | Tidak Sekedar Andalkan Jumpscare!