in ,

Mereka [Part 1]

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Mereka [Part 1]


“Mereka”, adalah satu-satunya sebutan yang bisa kuberikan. Mereka tidak punya nama. Aku tidak tahu mereka berasal dari mana. Mereka hanya, ada.

Siapa sebenarnya Mereka? Pastinya.. Sebelum menjadi seperti ini, Mereka adalah  manusia. 

Pertengahan bulan Juli yang hangat.. Itu adalah waktu dimana aku bertemu dengan mereka untuk pertama kalinya. Aku baru saja membuat rencana untuk pergi bersama teman-temanku siang itu.

Ini bukanlah sesuatu yang biasa kami lakukan. Malah kami cukup jarang melakukan sesuatu bersama-sama. Kami berencana untuk makan di sebuah restoran yang belum pernah kudengar sebelumnya…

Letaknya pun berada di antah berantah. Teman yang kusebut tadi hanya lah seorang laki-laki bernama Mark, dan dua orang perempuan, Vanessa dan Lily. Mark berusaha meyakinkan kalau aku pernah datang ke restoran ini, tapi aku tidak bisa mengingatnya.

Jadi kami memutuskan untuk pergi ke sana, dan kami pergi menggunakan mobil Mark. Karena ini mobil Mark jadi dia yang menyetir, Vanessa duduk di sebelahnya. Aku duduk di belakang Vanessa bersama Lily. Ya.. Semua terlihat normal. 

Waktu itu adalah bulan Juli dan kami sedang di tengah masa kekeringan. Kami hanya bisa melihat tanah pertanian yang kering dan lumbung yang membusuk di sepanjang perjalanan. Tidak ada orang di luar karena suhu yang panas. Tapi perjalanan kami masih menyenangkan.

Radio memainkan lagu-lagu Great White dan Led Zepellin, kami tertawa dan saling melempar candaan, juga cerita kehidupan. Setelah sekitar satu jam perjalanan,  kami tiba di tujuan. Restoran ini berukuran kecil, tapi terawat dengan cukup baik. Tidak seperti rumah-rumah di sekitarnya.

Setelah beristirahat sebentar dari perjalanan yang panjang dan tekanan sinus akibat berada di lembah, kami pun memasuki restoran tersebut. Kami sangat menikmati waktu kami di sana, pelayanannya sangat bagus, tapi makanannya sangat buruk.

Rasanya seperti makanan microwave. Setelah kenyang kami memutuskan untuk berkeliling dan menikmati pemandangan sambil mencerna makanan tadi. 

Di sini aku mulai menyadari ada yang berubah. Kami berkendara sekitar satu jam, melihat area pertanian yang sudah ditinggalkan dan mendengarkan lagu dari Foreigner dan John Mellencamp yang diputar radio. Aku mulai merasa bosan. Aku bertanya, “Berapa lama lagi kita akan berkeliling?”

Tidak ada jawaban. Jadi, ku ulangi pertanyaanku, “Berapa lama lagi kita akan berkeliling?”

“Area pertanian ini indah, aku harap aku bisa tinggal di tempat seperti ini!” teriak Vanessa

“Kau tahu, aku selalu ingin tinggal di area pertanian”, balas Mark dengan gembira. 

“Berapa lama lagi kita akan berkeliling?” aku mengulang pertanyaanku untuk ketiga kalinya. 

“Coba lihat lumbung itu, Lily, Waktu kecil kamu terobsesi dengan itu, ‘kan?” tanya Vanessa yang mengabaikan pertanyaanku.

Aku mengulang pertanyaanku untuk keempat kalinya, lalu yang kelima, “Berapa lama lagi kita akan berkeliling?”. Lalu aku menyadari sesuatu. Mereka tidak bisa mendengarku. 

Mereka tidak bisa mendengarku. Mereka bukan lagi orang yang sama. Setiap komentar yang ku lontarkan dan setiap pertanyaan yang aku tanyakan mereka abaikan.

Vanessa terus berbicara seberapa dia menyukai pemandangan yang kami lewati, Mark ikut menambahi komentar Vanessa, dan Lily berusaha mengikuti percakapan mereka. Aku seperti tidak terlihat di mata mereka.

Sesekali mereka akan bertanya kepadaku, tapi jawabanku tidak pernah terdengar. Bukan hanya itu, tapi ada beberapa perubahan yang terjadi pada mereka. Vanessa terus melihat pemandangan di luar dengan senyuman yang terlihat bodoh di wajahnya.

Mark terlihat tersenyum dengan tatapan kosong, dan Lily terdiam menyeringai sambil melihat keluar jendela. Mereka bukan lagi teman yang kukenal tumbuh bersamaku. Orang-orang ini sudah menjadi “Mereka”, bukan lagi temanku.

Bersambung di part 2..


Untuk kemudahan navigasi, klik tombol di bawah:


Credits
Cerita oleh: Anonim
Original Story klik di sini
Diterjemahkan oleh: Alvin
Dibacakan oleh: Sella, MamaEn, Papachan

Background Music:
Horrorin


Disclaimer
Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Review Film Kafir: Bersekutu Dengan Setan | Tidak Sekedar Andalkan Jumpscare!

Review Film Mission Impossible : Fallout | Ketegangan yang Gila