in ,

Mereka [Part 2 – End]

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Mereka [Part 2 – End]


Setiap komentar yang ku lontarkan dan setiap pertanyaan yang aku tanyakan mereka abaikan. Vanessa terus berbicara seberapa dia menyukai pemandangan yang kami lewati, Mark ikut menambahi komentar Vanessa, dan Lily berusaha mengikuti percakapan mereka.

Aku seperti tidak terlihat di mata mereka. Sesekali mereka akan bertanya kepadaku, tapi jawabanku tidak pernah terdengar. Bukan hanya itu, tapi ada beberapa perubahan yang terjadi pada mereka.

Vanessa terus melihat pemandangan di luar dengan senyuman yang terlihat bodoh di wajahnya. Mark terlihat tersenyum dengan tatapan kosong, dan Lily terdiam menyeringai sambil melihat keluar jendela.

Mereka bukan lagi teman yang kukenal tumbuh bersamaku. Orang-orang ini sudah menjadi “Mereka”, bukan lagi temanku.

Mark terus menyetir mobil kami berputar-putar seperti orang yang kesurupan, sama seperti yang lain. Mereka sudah menjadi satu. Mereka sudah menjadi “Mereka”. Mark masih terus berkendara selama beberapa jam.

Matahari masih bersinar terang, tidak terlihat ada awan di langit, semua area pertanian terlihat sama persis dengan tanah di sebelahnya, sampai kami melewati dengan bangunan yang menyerupai sebuah gereja. 

Bangunannya terlihat sangat mirip dengan gereja, tapi ukurannya seperti sebuah gedung sekolah tua dengan satu ruangan saja. Mark mendadak menghentikan mobilnya. Dia mau melihat bangunan itu. “Hey, ayo kita lihat bangunan ini!” teriaknya. 

“Jangan! Bagaimana kalau ada orang di dalamnya dan kita dimarahi?” kata Vanessa dengan nada khawatir. 

“Tidak mungkin”, jawabku, “Jelas sekali kalau bangunan ini sudah ditinggalkan dan tidak ada satu rumah pun di skeitar sini.”

Tentu saja “Mereka” tidak bisa mendengarku, dan Vanessa terus mengeluh kepada Mark yang masih berkendara memutari bangunan tadi.

Sampai akhirnya dia mengambil keputusan. Lily masih menatap dengan kosong ke luar dengan senyuman bodoh di wajahnya sambil mengulangi apa yang tadi ku ucapkan. 

“Lihat Vanessa”, jawab Mark. “Lily tahu semuanya, kenapa tidak ada yang mengatakan itu sebelum aku memutari gedung ini lima kali?”

Kami akhirnya menepi. Masih tidak tampak seorangpun. Selama kami berkendara tidak ada satu orangpun yang terlihat, padahal sekarang sudah jam sibuk. Aku yang keluar pertama lalu “Mereka” ikut keluar. Aku berjalan ke gedung itu bersama Mark, sedangkan Vanessa dan Lily menunggu.

Mark melihat pintunya terbuka dan masuk. Aku mengikutinya tepat di belakang. Aku mencoba memberitahu dia semua yang kutahu tentang gedung sekolah, tapi tentu saja dia tidak bisa mendengarku. Aku sedang memeriksa interior gedung sekolah ini saat Mark mulai memanggil namaku. 

“Keluar dari sana!” teriak Mark dengan nada gembira yang tidak biasanya. 

“Tidak” jawabku. Aku masih ingin melihat-lihat. 

“Ayo keluar dari sana” Mark terus mengulangi kalimat yang sama sampai akhirnya aku menyerah dan keluar. “Coba kau foto gedung itu.” Dia memberikan handphone-nya walaupun aku sudah mengeluh tidak mau. Aku memotretnya dan kami kembali ke mobil, dan hal yang sama terjadi seperti di perjalanan tadi. 

“Sebaiknya kita kembali sekarang, sudah empat jam kita berkendara.” ucapku. Mark sepertinya mendengar sedikit dari perkataanku tadi karena dia berbalik melihat ke arahku. Aku sangat terkejut ketika melihat wajah Mark mulai meleleh.

Kulitnya menetes begitu saja sampai wajahnya hanya menyisakan tengkorak dan bola mata. Dia tidak mempedulikanku dan berbalik ke Vanessa, kemudian mulai berbicara tidak jelas tentang cerita masa kecilnya yang belum pernah aku dengar.

Vanessa menertawai Mark, memalingkan wajahnya ke dia, dan hal yang sama terjadi kepada Vanessa. Kulitnya meleleh. Aku berbalik ke Lily; aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi ada genangan yang berwarna seperti kulit di pangkuannya. 

Aku tidak akan bisa keluar dari sini. Pemikiran itu terus terulang di kepalaku. Mark terus menyetir, dan menyetir, dan menyetir, dan menyetir. Berbicara dan tertawa, berbicara dan tertawa, berbicara dan tertawa. Meleleh dan meleleh, meleleh dan meleleh dan meleleh dan meleleh.

Aku mulai panik. Bayangkan kalau aku harus terus berada di dalam mobil ini berjam-jam tanpa henti. Hari yang sempurna ini masih terus berlanjut. Matahari masih bersinar terang, belum pudar sedikitpun.

Pada akhirnya perbincangan kami mulai berhenti, keadaan menjadi sunyi selagi mereka masih dalam keadaan seperti kerasukan. Aku dalam keadaan panik setidaknya untuk beberapa jam, sampai pada akhirnya aku menyadari kalau aku ikut tersenyum.

Aku mulai merasakan kalau aku berkeringat lebih banyak dari biasanya, padahal suhu di sini masih sama. Tapi aku tidak  peduli dengan itu. Aku juga menyadari hal lain…

Aku merasa baik-baik saja.


Untuk kemudahan navigasi, klik tombol di bawah:


Credits
Cerita oleh: Anonim
Original Story klik di sini
Diterjemahkan oleh: Alvin
Dibacakan oleh: Sella, MamaEn, Papachan

Background Music:
Horrorin


Disclaimer
Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hayo! Tambah Semangat Kamu Dengan Lagu-Lagu Ini!

Review Film : We Need To Talk About Kevin (2011)