in ,

Torrag Bokhn [Part 1]

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Torrag Bokhn [Part 1]


Namaku Grace Toner. Aku seorang guru pengganti. Aku bekerja di kawasan sekolah yang baik di salah satu pinggiran kota Baltimore. Aku masih lajang. Aku percaya pada Torrag Bokhn.

Aku sudah bekerja di beberapa sekolah yang berbeda di area Baltimore selama beberapa tahun, sebelum Harriet Richardson menjadi korban kecelakaan mobil. Tabrak lari klasik.

Beberapa bedebah menerobos lampu merah di depan sekolah dasar tempat Harriet bekerja. Saat itu dia sedang menyebrang. Mobilnya memang tidak begitu cepat, tapi Harriet sudah berumur 60an tahun, dan benturannya cukup keras untuk mematahkan tulang panggulnya.

Aku tidak melihat kejadiannya, tapi aku dengar setelah dia terlempar ke atas dan mendarat di jalanan, pengemudi itu pergi begitu saja. Polisi masih belum berhasil menangkap mereka. 

Meskipun terdengar menyedihkan, tapi kecelakaan Harriet adalah kesempatan besar bagiku. Aku mendapat pekerjaan pertamaku untuk menggantikannya selama 6 bulan, sampai dia pulih kembali. Aku mengajar tentang Pemerintahan Amerika di kelas 4. Ada sekitar 20 murid.

Sebagian besar dari mereka tidak bisa berpura-pura untuk suka politik ataupun sejarah. Tapi melihat usia mereka.. Ya, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Aku berusaha memberikan tugas yang lebih menarik daripada kurikulum yang biasa.

Kalau ada kesempatan, aku akan meninggalkan format mengajar yang biasa dan lebih memilih aktivitas kelompok. Aku meminta mereka untuk berpura-pura menjadi Bapak Pendiri Amerika Serikat, dan menulis konstitusi serta deklarasi hak-hak versi mereka. Sayangnya cara ini menemui rintangan. 

Ada satu murid yang menolak untuk bekerja sama dengan teman-teman sekelasnya. Dia adalah Ellie; seorang anak yang kurus dengan wajah berbintik-bintik. Tidak pernah mengangkat tangan, tidak pernah membuka mulutnya, dan tidak pernah menyebabkan masalah. Kecuali saat aku menugaskan aktivitas kelompok.

Dia hanya akan duduk cemberut, memperhatikan murid-murid lain bekerja sama, dengan rasa takut dan ketidakpercayaan pada wajahnya yang pucat dan berbintik. Dia hanya menulis di buku catatan kecil yang tidak pernah meninggalkan tangannya. 

Satu-satunya momen Ellie menunjukkan kebahagiaan anak kecil pada umumnya adalah ketika jam istirahat, di mana dia bisa menyendiri.

Dia akan berjalan-jalan di pinggiran lapangan bermain, di dekat pepohonan. Kadang dia melihat ke langit, terkadang berputar tanpa arah seakan-akan dia kerasukan, terkadang dia berbicara sendiri.

Mungkin itu bukan cara kebanyakan anak kecil menghabiskan waktu bebas mereka, tapi aku bisa mengerti itu. Dulu aku juga seorang penyendiri.

Dalam jenis pekerjaanku ini, sangat mudah untuk mengabaikan anak seperti Ellie dan fokus ke masalah yang lebih jelas (seperti Danny, yang terus-menerus menumpahkan lem ke rambut perempuan yang duduk di depannya; dia tidak peduli sudah berapa kali kami mengirimnya ke ruang kepala sekolah).

Tapi masalah Ellie yang paling menonjol di mataku. Ada sesuatu tentang dirinya yang menurutku agak menjengkelkan, dengan sebuah aura melankolis dan keputusasaan. Ini lebih dari sekadar perilaku antisosial. Dia terlihat takut berinteraksi dengan manusia. 

Aku pernah bicara sekali dengan Jennifer Baldwin, salah satu guru pembimbing di sekolah, tentang Ellie. Dengan sopan dia mengatakan sudah pernah bertemu dengan Ellie dan tidak menemukan sesuatu yang salah pada dirinya.

Bahkan dia bilang kalau ada hal yang lebih penting dan mendesak daripada menolong menyembuhkan rasa malu seorang muridnya. 

Aku tahu masalah Ellie lebih dari sekadar rasa malu, tapi posisiku sebagai guru sementara menempatkanku di posisi yang sulit. Aku tidak punya otoritas yang cukup.

Memang, Ellie tidak pernah datang ke kelas dalam keadaan terluka karena dipukuli. Dia tidak pernah berperilaku kasar ke teman-teman maupun gurunya. Dia tidak pernah menangis. Tapi aku tetap khawatir.

Khawatir ada sesuatu yang lebih buruk sedang terjadi pada dirinya.. Bukan di luar, tapi di dalam. Aku sama sekali tidak merasa senang saat mengetahui kalau dugaanku ini benar. 

Kami berpindah ke segmen kurikulum yang membahas proses pemilihan presiden. Aku bisa melihat di wajah mereka kalau mereka sudah lelah mendengar tentang Lembaga Pemilihan Umum, dan terus terang saja, aku juga sudah lelah membicarakan itu.Jadi, aku memutuskan untuk membuatnya lebih menarik. 

Aku meminta mereka untuk pulang dan menulis esai yang menjelaskan tentang sahabat mereka, dan sifat apa saja yang membuatnya bisa dikatakan sebagai orang yang baik. Aku bukannya sengaja mengaitkan permasalahan tadi ke materi ini.

Rencanaku adalah kami akan menggunakan waktu di pertemuan selanjutnya untuk mengumpulkan daftar sifat terbaik yang bisa dimiliki seseorang, dan dari daftar itu, mendesain kandidat presiden yang ideal.

Kebanyakan muridku hanya mengisi setengah halaman. Ada beberapa yang hanya menulis beberapa kalimat saja. 

Tapi Ellie… dia menulis enam halaman. 

Dia memberi judul esainya “Temanku, Torrag Bokhn”. Di dalamnya, dia menjelaskan hubungannya dengan makhluk ramah yang tinggal di loteng rumahnya. Ellie menjelaskan kalau Torrag Bokhn menjadi sahabatnya karena dia selalu menemaninya, tidak pernah berbohong, dan dia tahu banyak permainan yang menyenangkan.

Khususnya permainan petak umpet, karena kamu tidak bisa bersembunyi darinya, dan ketika gilirannya untuk bersembunyi, kamu tidak akan bisa menemukan dia.

Ellie mengakhiri esainya dengan mengatakan kalau dia dan Torrag Bokhn bersahabat karena mereka hanya berteman berdua saja, tidak ada orang lain. 

Di belakang halaman keenam, dia menggambar ini.

Bersambung di Part 2…


Untuk kemudahan navigasi, klik tombol di bawah:


Credits
Cerita oleh: Xezbeth
Original Story klik di sini
Diterjemahkan oleh: Alvin
Dibacakan oleh: Sella

Background Music:
Myuu


Disclaimer
Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

PS: Ada beberapa bagian (nama dan jenis kelamin) yang kami ubah untuk disesuaikan dengan Narator.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Olahan Rumahan Untuk Sajian Mewah Ala Draz Cakes

Tak Kunjung Tamat, Komik Berusia 45 Tahun!