in ,

Doti [Part 1]

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Doti Part 1.


Setelah 12 tahun berlalu akhirnya aku dan keluargaku kembali menginjakkan kaki di Gorontalo, tempat kelahiranku, tempat aku dibesarkan, tempat keluarga ibuku berada dan tempat kenangan pahit yang berusaha untuk aku hindari.

12 tahun rupanya bukan waktu yang cukup untuk mengobati luka yang tertoreh cukup dalam di hati ini, buktinya ketika aku di sini, sesak yang sudah lama tidak kurasakan tiba-tiba melanda lagi.

Ah sudahlah… toh kami hanya akan tinggal selama 2 hari di sini. Kalau bukan karena oma yang sekarat dan ingin membagikan wasiat warisannya, kami mungkin tidak akan datang ke sini sekarang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dari bandara kami langsung menuju ke rumah oma. Kata ibuku semua keluarga sudah terkumpul di sana. 

Oma memiliki 4 anak, paman Ram, tante Bety, ibuku dan om Anwar. Sejak oma sakit empat tahun yang lalu, tante Bety beserta suami dan anak-anaknyalah yang tinggal dan merawat oma. Sementara 2 saudara ibu lainnya tinggal dan bekerja di luar daerah.

Benar saja, ketika sampai… suasana rumah oma sudah ramai, semua sepupuku telah datang. Mereka menyapa aku dengan hangat.  Rumah oma yang megah dan luas cukup untuk menampung kami semua.

Kami langsung menuju ke kamar oma. Kulihat oma terbaring namun matanya terbuka dan melirik ke kanan kiri. Dia menatap kami ketika datang. Tangannya pucat dan sangat kurus. Oma menatap ibu cukup lama. Entah mengapa aku merasakan bahwa itu bukan tatapan kerinduan, 

Dan…

suasana kamar oma menjadi dingin dan menyeramkan.

Saat oma menatapku.. Memoriku seakan berputar dan kembali ke masa 12 tahun lalu.

Praaangg!!!

“Anak tidak tahu diri!!! bawa keluar suami dan anak-anak kamu dari sini. Kalian bawa sial di rumah ini!!!”

“Mama, mama kenapa bicara seperti itu ke kami? Mia ini anak mama, anak-anak kami adalah cucu mama.”

Papa bersujud di kaki oma. Yang ku ingat kala itu papa selalu menerima perlakuan buruk dari oma bahkan aku dan adikku Dito selalu mendapatkan cubitan dan tatapan sinis dari oma.  Kami berdua tidak pernah diberikan uang jajan seperti cucu lainnya.

Yah mama dan papa menikah tanpa direstui oma. Hanya opalah yang mendukung pernikahan orang tua kami.  Bahkan setelah aku dan Dito lahir, hati oma tak kunjung luluh. Namun akhirnya Opa berhasil membujuk oma untuk menerima kehadiran papa dan mengajak kami tinggal di rumahnya.

Saat aku berumur 12 tahun opa sakit dan meninggal. Sehari setelah kematian opa, Dito tidak sengaja menyenggol dan memecahkan asbak keramik. Kami yang saat itu tinggal bersama oma mendapatkan luapan amarah yang telah bertahun-tahun dipendamnya. Dan hari itu juga kami diusir dari sana.

Kami akhirnya tinggal di sebuah kosan kecil, hanya ada satu ruangan berukuran 4×4 meter yang kami tempati bersama. Seingatku dulu, om Ramlah yang banyak membantu kami bertahan hidup. Beliau seringkali memberikan kami bantuan berupa uang dan makanan. Papa yang hanya bekerja sebagai karyawan swasta bersusah payah untuk menghidupi kami. Tak lama kemudian papa menerima promosi dari perusahaannya dan kami semua pindah ke Jakarta.

Hari itu, oleh pengacara oma … kami diberitahu bahwa pengumuman wasiat akan diumumkan besok pagi dan kami diarahkan untuk beristirahat telebih dahulu.

Malam itu aku terbangun mendengar suara jeritan papa.

“Aaaaaaarghhhhh aaaaaaaagghhhhhhh.”

Aku bangun dan segera menghampiri kamarnya, kulihat mama berusaha menenangkan papa dengan mengusap-ngusap punggungnya.

“Ma, papa kenapa?”

Mama  juga nggak tahu Lin, tiba-tiba papa terbangun dan berteriak.. katanya perutnya mendadak  sakit.

Aku mendekati papa, terlihat peluh bercucuran di wajahnya. Papa duduk meringkuk sambil memegangi perutnya. Sesekali dia mengubah posisinya seperti orang sedang bersujud.

“Papa… perut papa kenapa sakit begitu? Kita ke dokter aja ya!”

Papa mengangguk cepat tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku membangungkan Dito. Kuperintahkan dia untuk segera membangunkan om Ram. Dengan bersusah payah aku dan mama memapah papa yang beratnya tidak sebanding dengan kekuatan aku dan mama tentunya.

10 menit kemudian kami telah melaju di jalanan menuju ke rumah sakit. Papa masih terus bergumul dengan teriakan kesakitannya. Sudah kucoba beberapa kali meminumkan air tapi dimuntahkannya lagi. Wajah papa perlahan berubah menjadi kuning.

Sampai di rumah sakit dokter bertindak cepat memeriksa kondisi papa dan setelah beberapa saat dokter mengatakan bahwa papa mungkin hanya kecapean dan asam lambungnya naik. Papa dianjurkan untuk diopname dulu.  Papa akhirnya ditempatkan di sebuah kamar kelas 1. Mama dan paman Ram balik ke rumah oma untuk mengambil barang dan pakaian.

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Aku tertidur dalam posisi duduk di samping papa. Terdengar suara pintu terbuka. Ah mungkin perawat datang.

Aku menunggu namun tidak ada langkah kaki terdengar. Aneh….

Kulihat Dito tidur bersandar di kursi. Akhirnya aku berdiri dan berjalan menuju pintu yang setengah terbuka.

Hmm tidak ada siapa siapa diluar. Koridor rumah sakit kosong.

Bau apa ini? Seperti… bau dupa.. atau kemenyan?

Perasaan aku gak enak. Segera kututup pintu.

Bersambung di Part 2…


Untuk kemudahan navigasi, klik tombol di bawah:


Credits
Cerita dikirim oleh: DewizMaya
Dibacakan oleh: DewizMaya, MamaEn

Background Music:
Myuu
Horrorin


Disclaimer
Cerita ini disubmit oleh DewizMaya dan telah menjadi hak milik Tim MalamMalamStories.

Cerita ini tidak diperbolehkan untuk disalin, disebarluaskan, diubah dalam bentuk atau format apapun dan untuk kepentingan apapun, tanpa izin tertulis dari pihak Tim MalamMalamStories.

Report

What do you think?

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Kunjung Tamat, Komik Berusia 45 Tahun!

Pernahkah Kamu Mendatangi Kota Jin? (Otajin)