in ,

Torrag Bokhn [Part 2]

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Torrag Bokhn [Part 2]


Aku tidak mengerti apa itu. Esai ini seharusnya bukan tentang teman imajinasi, dan seharusnya aku memberikan nilai jelek karena hal itu. Tapi hati nuraniku tidak akan pernah bisa memberikan nilai jelek pada anak kelas 4 SD yang sudah menulis esai enam halaman dengan tangan.

Malam itu.. Aku menghabiskan lebih dari satu jam untuk membaca ulang esai Ellie, tumpukan beberapa tugas murid yang lain terbengkalai di atas meja. Pada akhirnya aku memberi nilai A- dan menulis “Sangat kreatif!” di bagian atas halaman pertama. Aku merasa gagal. 

Akan tetapi, aku bisa merasa sedikit lega karena konferensi antara orang tua murid dengan guru akan dilaksanakan beberapa minggu lagi, dan aku punya kesempatan untuk bicara dengan orang tua Ellie.

Aku baru sadar kalau aku mulai berlatih apa yang harus kuucapkan nanti, tapi di saat yang aneh.. Saat aku mandi pagi, atau sedang menyetir ke sekolah, atau saat akan tidur; pikiranku terus mengarah ke Ellie dan Torrag Bokhn, dan aku akan memperbaiki kata-kata dari pidato yang terus kulatih untuk konferensi orang tua dengan guru.

Ellie terlihat kesepian… Apa kalian pernah berpikir untuk mengirimnya ke perkemahan musim panas… Apa dia pernah bercerita tentang sahabatnya?”

Torrag Bokhn. Nama itu membuatku gelisah lebih dari hal lain. Aku selalu bilang kalau anak kecil itu lebih kreatif dari yang kita bayangkan, tapi itu tidak terdengar seperti nama yang bisa diciptakan oleh mereka.

Aku mulai bertanya-tanya, apa mungkin dia mendengarnya dari suatu tempat. Pencarian Google tidak memberikan hasil apa-apa.

Aku bahkan kehilangan jam tidurku hanya untuk mengatur ulang susunan huruf makhluk imajinasi itu; siapa tahu ada pesan tersembunyi di baliknya. Tapi aku rasa “torn hog bark” bukan jawaban dari misteri ini.

Suatu malam, aku bermimpi menjadi anak kecil lagi, berlari-lari di taman belakang. Aku sedang melempar pesawat kertas ke udara, lalu berlari untuk menangkap pesawat itu sebelum menyentuh tanah.

Saat aku berlari, aku menginjak tali sepatuku dan terjatuh. Lututku membentur batu. Mataku mulai berkaca-kaca, tapi sebelum aku sempat menangis meminta tolong, sebuah tangan menolongku untuk berdiri.

Tanpa berpikir lama, aku meraih tangan itu. Tangannya cukup besar, dan sangat dingin. Kulit telapak tangannya terasa kapalan dan keras. Tiba-tiba, jarinya yang panjang menggenggam lenganku dengan cukup keras sampai aku kesakitan.

Aku mencoba melihat makhluk yang menggenggamku ini dengan lebih jelas, dan saat aku melihat wajahnya, aku terbangun sambil berteriak. 

Potongan-potongan mimpi tadi mulai kabur setelah aku bangun. Banyak detail yang menjadi tidak jelas sekarang. Aku tidak bisa melanjutkan tidurku lagi malam itu. Aku berangkat ke sekolah dengan campuran perasaan yang aneh.

Aku kelelahan, tapi anehnya di saat yang bersamaan aku juga merasa bersemangat. Ini mungkin terdengar konyol, tapi seolah-olah aku merasa seperti berhasil selamat dari serangan yang mengancam nyawa. 

Hari berlalu dan konferensi orang tua dengan guru semakin dekat, Ellie menjadi semakin menyendiri.

Kau bisa melihatnya dengan jelas kalau dia seperti semakin kesepian, matanya terlihat semakin sedih, warna kulitnya seperti memucat. Pada satu Jumat siang yang seharusnya menyenangkan, dia membuat kekacauan di kelas.

Posisiku sedang memunggungi muridku karena aku sedang menulis sesuatu di papan tulis. Danny (si maniak lem yang kuceritakan di awal) mencoba mencuri buku catatan Ellie dari mejanya. Ellie mulai berteriak.

Suaranya seperti ada darah yang keluar dari mulutnya. Aku langsung melihat ke belakang. Aku belum pernah melihat mata Ellie terbelalak seperti itu. Dia betul-betul terlihat ketakutan. 

“Kembalikan! Kembalikan! Kembalikan!”

Dengan cukup mengejutkan, Danny mengembalikannya. Kurasa dia juga sama kagetnya dengan anak-anak yang lain. Begitu buku tadi dikembalikan, Ellie mulai merobek halamannya dan memasukkannya ke mulutnya.

Aku langsung menghampiri dan mengambil buku itu darinya, tapi Ellie mulai menangis lagi. Dia tidak mengeluarkan tantrum seperti anak kecil.

Dia seperti sedang menahan tangis, seakan-akan baru saja kehilangan salah satu orang tuanya, atau hewan peliharaan kesayangannya. Aku membubarkan kelas lebih awal dan meminta Danny dan Ellie untuk tetap tinggal.

Danny jelas sangat terkejut. Aku bertanya apa yang membuat dia berpikir mem-bully Ellie dan mengambil barangnya adalah ide yang bagus. Danny bilang kalau dia mendengar Ellie berbisik selama kelas berlangsung sambil menulis di buku catatannya itu, dan hanya mau melihat apa yang sedang Ellie tulis.

Ada sedikit luka irisan di bawah bibirnya. Aku meminta Danny untuk pergi ke kantor kepala sekolah. Saat pintunya tertutup, aku baru saja menyadari kalau ini adalah pertama kalinya Ellie dan aku sendirian. Ruangannya berubah menjadi sangat sepi.

Bersambung di Part 3…


Untuk kemudahan navigasi, klik tombol di bawah:


Credits
Cerita oleh: Xezbeth
Original Story klik di sini
Diterjemahkan oleh: Alvin
Dibacakan oleh: Sella

Background Music:
Myuu


Disclaimer
Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

PS: Ada beberapa bagian (nama dan jenis kelamin) yang kami ubah untuk disesuaikan dengan Narator.

Report

What do you think?

13 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pernahkah Kamu Mendatangi Kota Jin? (Otajin)

Review Film: The Godfather

Review Film : The Godfather