in

Review Film : First Man

Setelah sukses dengan Whiplash dan La La Land kini Damien Chazelle kembali dengan kisah biopik Neil A. Armstrong. Film ini diambil berdasarkan buku James R. Hansen dengan judul “First Man : The Life of Neil A. Armstrong”. 

Let’s talk about Armstrong character, Because it’s all about him!

Paska kejadian yang menimpa putrinya, Armstrong seperti punya gejolak batin yang tersimpan dan sangat sulit untuk diungkapkan. Karakter Armstrong sendiri terlihat begitu dingin dalam menyikapi hal-hal personalnya. Dia juga seperti tak begitu baik dalam membangun komunikasi dengan orang sekitar dan terkesan sebagai orang yang tertutup.

Interaksi Armstrong dengan keluarganya digambarkan begitu samar dan ambigu. Damien menyisipkan banyak detail emosi disetiap scenenya. banyak interaksi gerakan serta ruam wajah yang dibuat mereka yang tak bisa terucapkan dengan kata-kata. 

Dari segi cerita, sepertinya tak begitu banyak di eksplore. Beberapa karakter dan plot pendukung kurang mendapat perhatian. Bahkan untuk nama-nama karakter pendukung lainnya sangat sukar untuk diingat.

Flashback yang dihadirkan disalah satu ending scene mengasumsikan bahwa Armstrong benar-benar telah merelakan putrinya. Hal tersebut membuat dan membentuk karakter Armstrong yang selama ini kita kenal dengan sejarahnya.

Damien berhasil dalam menggambarkan karakter Armstrong yang begitu berambisi dengan misinya. Seorang Armstrong yang sebenarnya hanya ingin mencari kedamaian dalam misinya ke Bulan begitu kuat digambarkan olehnya. Dilengkapi dengan Claire Foy yang begitu suportif dengan perannya dalam membangun karakter Armstrong sendiri menjadikan paduan kekuatan emosional yang tak bisa dipisahkan.

Tidak begitu peduli dengan isu pemerintahan dan politik bahkan sains, hingga tak begitu mendapat porsi yang banyak. Dengan pace yang cukup lambat, pembagian porsi antara pekerjaan dan keluarganya terbilang padat dan seimbang.

Walau kadang terkesan “membosankan” dengan pace yang seperti itu sangat baik untuk memberi ruang dalam pengembangan karakter.

Walau tak sebesar Interstellar/Gravity produksinya, secara teknis film ini cukup sukses dalam perannya. Dengan hand-held-cam serta gaya zooming-shaky-cam yang cukup membuat audiens agak susah untuk fokus.

Namun Vfx yang tidak “mewah” dengan gaya oldschool itu membuktikan dalam produksi desain mereka sangat kreatif dan mampu membuat anda merasakan seperti berada dalam kokpit roket tersebut.

Salah satu tantangan terbesar dalam menarik kisah biopik ataupun sejarah adalah bagaimana mengeksekusi kisah ini menjadi sesuatu yang menarik dan tidak membosankan. Sentuhan Demian berhasil menjebak audiens mulai dari ketegangan hingga dalam merasakan gejolak personal Armstrong.

Tak bisa dipungkiri jika film ini merupakan kisah biopik terbesar pencapaian umat manusia pada masanya. Dengan arahan Damien film ini punya audio-visual design serta feeling yang siap menyentuh dan menusuk perasaan anda. 

Dan hanya ingin fokus ke personal dan gejolak batin Armstrong yang ingin menemukan kedamaian dalam misinya ke bulan.

dan Damien cukup berhasil memvisualisasikannya. Sayangnya beberapa karakter terasa kurang begitu dapat perhatian hingga tak ada satupun yang bisa diingat nama-nama mereka.

Khususnya kedua karakter utama ini.

Report

What do you think?

20 Points
Upvote Downvote

Written by Hariyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Review Film : Peppermint

Review Film : The Shining (1980)