in ,

Lupa Dibawa

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Lupa Dibawa


Namaku Tasha. Hari ini adalah hari pertama ku menjadi seorang mahasiswi. 

Aku menunggu kedatangan sahabatku yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Namanya Lana. Sejak kecil, kami selalu bersama. Bersekolah di sekolah yang sama.. dan seperti pagi ini, kami akan berangkat ke kampus bersama-sama. Jujur aku tidak begitu bersemangat, karena momen terbaik ini.. aku malah ditinggal sendirian di rumah. 

Ayah dan ibu pergi ke rumah paman sejak dua hari yang lalu. Paman ku seorang paranormal – aku menyebutnya begitu – sementara ayah dan ibu menyebutnya ‘orang pintar’. 

Malam itu, saat aku keluar dari kamar, aku melihat ibu sedang melipat pakaian ku. Tiba-tiba ibu berteriak saat melihat ku. Ayah buru-buru keluar dari kamarnya. Ayah pun ikut terkejut melihat ku yang berdiri mematung karena shock dengan teriakan ibu. 

“Kamu pasti ketakutan.” Aku mengangguk. 

“Tasha takut ibu kenapa-napa Yah.” 

“Pergilah…” Tatapan ayah sedikit berbeda, seperti ada sesuatu yang genting telah terjadi. 

Aku menuruti perintah ayah dan segera masuk ke kamar ku. Aku sempat mendengar percakapan ayah dan ibu. Menurut ayah, mereka harus pergi ke rumah paman malam itu juga. 

Mungkin karena aku begitu merindukan ibu, sampai-sampai aku bermimpi tentang ibu yang membangunkan ku untuk segera berangkat ke kampus. Lamunan ku buyar ketika Lana menyapa ku. Kami pun berangkat ke kampus bersama-sama. 

Sepulang dari kampus kami berdua mampir di cafe favorite kami. Sedikit sepi, hanya ada beberapa pelanggan. Hari ini Lana sedikit lebih pendiam dari biasanya. Baru beberapa menit kami duduk, tiba-tiba seseorang menghampiri Lana.

Orang itu langsung meminta maaf pada Lana. Aku bingung. Tapi lebih membingungkan lagi mendengarkan percakapan mereka. Aku bahkan baru tahu kalau Lana mengenal orang itu.

Singkat cerita, Lana pun mengatakan kepada orang itu, jika Lana sudah memaafkannya. Terlihat jelas Lana sebetulnya masih membenci orang itu, karena sepeninggalan orang itu, Lana berulang kali mengatakan kalau tidak ada orang yang bisa menipunya dua kali.  

Semenjak aku ditinggalkan sendiri, ada begitu banyak keanehan yang terjadi. Aku baru menyadarinya, tapi rumahku begitu sepi.

Kemana Pak Danang, tukang kebun rumahku? Kemana mba Ratih, pengasuh ku ? Bahkan aku harus memasak sendiri beberapa hari ini. Handphone ayah juga begitu sulit untuk dihubungi. Lingkungan rumahku pun terasa lebih sepi dari biasanya.

Di kampus ku juga tak kalah aneh. Hanya kelas ku saja yang terlihat aktif hari ini. Untuk ukuran kampus sebesar itu, situasinya terlalu sepi.

Orang-orangnya juga tak kalah aneh, meskipun ada beberapa teman yang kukenal karena mereka sekampung juga denganku. Tapi… mungkin aku hanya kelelahan, ditambah lagi mood ku memang lagi jelek hari ini.

Malam itu, aku tertidur di depan TV yang menyala. Aku terbangun kaget, karena suara ketukan di pintu. Aku melihat ke arah jam dinding di ruang tamuku, pukul 12 tepat. Mungkin itu ayah dan ibu.

“Akhirnya..” kataku.

Aku bergegas membuka pintu. Tapi …. itu bukan ayah dan ibu, melainkan sosok aneh yang entah aku harus menyebutnya apa. Ia begitu tinggi, hitam dan besar.

“Aku pikir sudah tidak ada lagi.” Ucapnya padaku.

Aku ketakutan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung lari ke kamar, mengunci pintu dan mengambil sesuatu untuk melindungi diri, aku berusaha menelpon ayah tidak ada jawaban, aku menelpon Lana, tidak ada jawaban.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar ku, aku begitu ketakutan. Aku berusaha membaca ayat kursi, tapi aku sendiri seolah lupa ayatnya. Aku mulai menangis…

Terdengar ketukan lagi, kali ini ketukan itu seperti tak asing bagiku…

“Nak, ini ayah… ”

Benar, itu suara ayah ! Aku buru-buru meraih gagang pintu tapi…eh…

“Ayah! pintunya ga bisa dibuka ! Tolong bantu Tasha ayah…” Aku panik karena pintu kamar ku tidak bisa dibuka.

“Tasha …. “ Untuk pertama kalinya, aku mendengar ada getaran pilu saat ayah menyebut namaku. 

“Maafkan ayah nak, ayah lupa membawamu pergi malam itu ! “

“Aa..apa yah ?”

“Malam itu, kejadian yang terjadi di kampung kita… Kamu ingat nak ?”

Seketika berbagai memori kelam berputar di ingatanku ! Kampung ku, orang-orang itu, darah… dan yah… Lana ! Aku dan Lana…

“Pergilah dengan tenang nak … ayah dan ibu selalu mencintaimu….”


Credits

Cerita oleh: Indy
Dibacakan oleh: Indy, Papachan

Background Music:
Myuu
Kevin MacLeod
Horrorin


Disclaimer

Cerita ini disubmit oleh Indy dan telah menjadi hak milik Tim MalamMalamStories.

Cerita ini tidak diperbolehkan untuk disalin, disebarluaskan, diubah dalam bentuk atau format apapun dan untuk kepentingan apapun, tanpa izin tertulis dari pihak Tim MalamMalamStories.

Report

What do you think?

16 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Panggilan 911 yang Tidak Masuk Akal [Part 1]

Panggilan 911 yang Tidak Masuk Akal [Part 2 – End]