in ,

Panggilan 911 yang Tidak Masuk Akal [Part 2 – End]

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Panggilan 911 yang Tidak Masuk Akal [Part 1]


“Ruang bawah tanah. Terakhir kali, cuma ada satu pintu di bawah sana.”

Beck mengangguk. “Sekarang ada dua.”

Aku tidak bisa berpikir. Aku melihat sekeliling dan mencoba membuat kesimpulan, tetapi sebenarnya tidak ada yang bisa dibuat.

Kami mendengar ketukan dari salah satu pintu kamar sekitar 10 detik kemudian. Kedengarannya gelisah. Kami melihat keluar jendela, tetapi tidak ada cahaya merah dan biru dari lampu polisi. Tentu, kami ragu untuk membukanya. Aku memutuskan untuk mendekati pintu, tetapi Beck menarikku kembali.

Dia menatapku dan menggelengkan kepalanya sambil berbisik: “Kamu ingat? Tadi kita membiarkan pintunya terbuka.”

Dia benar. Suara radio berderak, panggilan kembali dari operator. Mereka memberi tahu kami untuk segera meninggalkan rumah. Katanya, Carol menelepon lagi dengan nada datar menyeramkan, dan berkata kalau kami akan mati.

Tiada lagi suara ketukan, tapi kami bisa mendengar langkah kaki dari ruang bawah tanah. Ada seseorang di sini bersama kami.

Kami memutuskan untuk menyudahi kasus ini. Kami harus segera pergi dari sini. Saat kami mulai menuruni tangga, kami mendengar suara dari dapur. Carol keluar, menghalangi jalan ke pintu depan. Dia terlihat aneh, dengan tatapan kosong, dan mata yang menatap tepat ke arah kami.

“Apa kalian menemukannya?” tanyanya, tanpa ekspresi emosi dalam suaranya. “Aku rasa dia mungkin ada di ruang bawah tanah. Mengapa kalian tidak pergi memeriksanya? “

Aku dan Beck terdiam membisu. Dia terus menatap kami, sesekali menunjuk ke arah pintu ruang bawah tanah. Langkah kaki di bawah terdengar seperti sedang berkeliling. Kami mengabaikan permintaannya, melewatinya dan berlari, keluar dari pintu depan.

Bantuan masih belum datang, jadi kami memutuskan untuk masuk ke mobil saja. Namun… kami melihat seseorang di jalan.. mengintip melalui jendela sisi pengemudi kami.

Dia bertubuh besar, tampak mengenakan setelan hitam menutupi seluruh tubuhnya. Dia berpaling dari jendela dan beralih ke arah kami. Sulit untuk menjelaskannya, tetapi setelan itu tampaknya tidak memiliki lubang mata.

Beck berbicara: “Tuan, mohon mundur dari mobil.” Suaranya pecah di tengah kalimat. Dia ketakutan.

Begitu Beck berhenti berbicara, sosok itu mulai berlari ke arah kami. Sangat cepat. Terlalu cepat. Bahkan ketika kami baru mengeluarkan senjata, kami menyadari kalau dia sudah melewati kami, dan masuk ke dalam rumah. Kami tidak mau membuang waktu lagi.

Kami segera berlari ke dalam mobil, mengunci pintu dan menunggu sampai bantuan tiba.

Setelah kejadian itu, kami ditanyai secara ekstensif ketika tim SWAT menggeledah rumah tersebut. Namun, bukan Kepala Polisi yang bertanya kepada kami, melainkan pria berjas yang belum pernah kami lihat sebelumnya.

Dia menanyakan hal-hal seperti “Berapa banyak pintu yang ada di dalam rumah?”, “Sebenarnya seperti apa rupa Carol?” dan “Apakah kami pernah melihat seorang pria dengan satu mata berkeliaran?” Kami menjawab hampir semuanya dengan ragu. Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Pada satu titik, kami melihat anggota SWAT membawa beberapa tandu ke luar dan memasukkannya ke dalam truk mereka. Bukan dengan ambulans, tapi truk mereka sendiri.

Akhirnya, pria yang menanyai kami menyuruh kami pulang, dan melapor ke pos seperti biasa. Dia memberitahu kami untuk tidak khawatir tentang apa yang telah kami lihat di sini.

Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa mengatakan itu.

Kami berkendara kembali ke pos dalam keheningan total. Saat kami parkir, Beck akhirnya menghela nafas.

“Si Jack emang gila.”

Aku menatapnya dengan bingung. “Hah? Jack siapa? “

Dia membalas tatapan yang sama bingungnya padaku. “Hah? Apanya yang siapa? Itu loh, si pemilik rumah itu.”

“Hah? Pemiliknya adalah wanita bernama Carol. Kamu lupa?”

Kami saling menatap tajam selama satu menit … tapi kami tidak mengatakan apa-apa lagi. Kami berdua keluar dari kendaraan tanpa berkata apapun dan menuju jalan pulang masing-masing.

Kami berdua tahu bahwa ada sesuatu yang salah di antara kami. Aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya saat merebahkan kepalaku ke bantal. Aku berhasil tertidur sekitar tiga jam kemudian dan terbangun dengan dering telepon. Setengah sadar, aku mengangkatnya:

“Kami membutuhkanmu. Seorang wanita menelepon 911. Katanya ada seseorang di rumahnya. “

Jantung ku sedikit terguncang, dan aku rasa jantungku sempat berhenti ketika dia memberi tahu alamatnya. Ini alamatnya Carol.

Aku menutup telepon dan kembali berbaring di tempat tidur. Aku hanya ingin mimpi buruk ini berakhir.



Credits
Cerita oleh: Mr_Outlaw_
Original Story klik di sini
Diterjemahkan oleh: Atikachan
Dibacakan oleh: MamaEn, Papachan

Background Music:
Myuu
Horrorin


Disclaimer

Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

13 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lupa Dibawa

Ikatan Antar Sahabat