in ,

Ruangan di Bawah Tangga

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Ruangan di Bawah Tangga


Jadi.. ayahku adalah seorang pelaku kekerasan. Dia tidak pernah benar-benar menyentuhku, biasanya dia mengabaikanku dan tidak memedulikanku. Namun, dia sangat kejam terhadap ibuku. Dia tidak pernah membentak atau memukulnya di depan kami, tetapi dia akan mencelanya dalam rangkaian pelecehan verbal.

Yah, meskipun dia tidak pernah memukulnya di depan kami, aku tahu kalau dia memukul ibu. Ibuku adalah wanita yang anggun. Cerita-cerita tentang dia tersandung di tangga atau terpeleset di lantai kamar mandi yang licin tidaklah masuk akal. Tapi kami bisa melihat memar-memar di tubuhnya, tangannya diperban, dan lain-lain.

Ibu meninggalkannya saat aku berusia 14 tahun, dan kami semua merasa lega. Aku tidak menyayangi ayahku, dan aku merasa semakin yakin, kalau dalam beberapa tahun ke depan, akan ada satu hari dimana dia akan membunuh ibu, dan mungkin juga kami.

Sungguh, dia adalah pria yang mengerikan, terlihat lemah lembut, tapi dingin dan keras. Ketika ada berita yang muncul tentang seorang ayah yang membunuh keluarganya, aku selalu membayangkan kalau ayahku bisa dengan mudah menjadi orang tersebut.

Jadi, kami meninggalkannya, dan aku bahagia. Tersisa kami bertiga. Aku, ibuku, dan kakak laki-lakiku, Joseph, yang pada saat itu berusia 16 tahun, hanya beberapa bulan lagi sebelum dia menjadi 17 tahun.

Secara teknis, dia sudah cukup tua untuk meninggalkan rumah, tetapi.. Sama sepertiku, dia takut dengan hal yang mungkin dilakukan ayah, jika tidak ada lelaki berusia 17 tahun yang tinggi besar dan kekar di rumah.

Joey adalah pemain rugby, ratusan kilo dari otot yang keras, tetapi tidak seperti ayah, dia adalah orang yang lembut, manis, dan murah hati. Aku rasa, kebenciannya yang menumpuk terhadap ayah adalah alasan mengapa ibu memutuskan untuk pergi.

Ibu menceritakan kepadaku kalau dia bermimpi Joey lepas kendali dan memukuli ayah sampai tewas, dan diapun berakhir dipenjara.

Ibu mempersiapkan semua hal sebaik mungkin. Dia mendapatkan perintah pengadilan sehingga ayah akan dilarang untuk memasuki properti atau mendekati tempat itu, dan di hari berikutnya, dia menyiapkan truk untuk pindahan dan membooking sebuah unit tempat penyimpanan barang.

Seorang wanita tanpa karir yang akan segera menjadi janda, tentu memiliki keuangan yang terbatas. Jadi kami harus memindahkan semua barang sendiri. Itu adalah hari yang panjang dan sangat melelahkan, tetapi juga merupakan hari yang indah. Kami merasa bebas. Kami tahu kalau kami telah meninggalkan pria itu.

Sebagian besar dari barang-barang kami berada di unit yang disewa ibu, dan kami tinggal di apartemen Bella, adik dari ibu, suaminya bernama Steve, kami tinggal di sana selama beberapa bulan.

Apartemen mereka sudah cukup kecil untuk mereka berdua, dan ditambah tiga orang lagi, itu menjadi sangat sempit. Rencana ibu cukup sederhana – mendapatkan pekerjaan, pekerjaan apapun, kemudian sebuah tempat yang bisa kami sewa.

Namun peluang kerja untuk seorang janda berumur empat puluhan yang sudah tidak bekerja selama hampir 20 tahun tidaklah bagus.

Untungnya, pemerintah memberikan dana bantuan. Ditambah dengan penghasilan Joey dari pekerjaannya di akhir pekan sebagai asisten greenskeeper di lapangan golf sekitar, kami akhirnya memiliki uang yang cukup untuk pindah ke tempat yang sangat murah.

Sebenarnya, alasan kami pindah bukan hanya karena sempit. Ibu tidak banyak membicarakannya, tapi dia tahu kalau ayah mengetahui alamat apartemen adiknya.

Ada beberapa waktu dimana telepon akan berdering di tengah malam dan si penelpon akan menutup teleponnya tanpa mengatakan apapun, jadi ibu mulai cemas.

Keberuntungan kami datang di saat yang sangat pas. Ibu mendapatkan interview pekerjaan untuk posisi admin kantor, dan interviewnya berjalan dengan sangat baik (orang yang menginterview ibu adalah wanita tua yang simpatis, dan ibu berkata jujur tentang alasan mengapa dia mencari pekerjaan).

Kemudian dalam perjalanan pulang, ibu melihat papan “disewakan”. Ibuku adalah orang yang sangat spiritual. Dia tidak memeluk satu agama, yah bisa dibilang gabungan dari semua itu. Jadi dia merasa begitu yakin kalau itu adalah sebuah pertanda. Dia langsung turun di perhentian bus terdekat dan berlari kembali untuk melihat rumah yang disewakan.

Ya, itu adalah sebuah rumah, bukan rumah petak atau apartemen. Sebagian besar orang yang berada di posisi ibuku pasti akan mengabaikannya, menduga kalau harga sewanya pasti diluar kemampuan mereka, tapi ibuku adalah orang yang sangat teliti.

Jalan yang dilaluinya membentang di sepanjang semacam bukit, di antara dua bukit. Rumah itu berada di sisi jalan yang menanjak, bersarang di lereng yang cukup curam. Karenanya, halaman belakang dari rumah itu jauh lebih tinggi dari jalan, dan pintu belakangnya sejajar dengan lantai atas dari bagian depan rumah.

Ibuku melihat bagian luar dari rumah tersebut. Plesteran di atas bata yang dicat dengan warna krem itu terlihat sudah lusuh. Bangunannya dipenuhi kotoran, tapi bisa dengan mudah dibersihkan menggunakan air dan sapu.

Namun, fakta kalau tidak ada orang yang membersihkannya membuat ibu yakin kalau rumah itu sudah lama tidak ditinggali. Ibu kemudian melihat lebih jelas papan “disewakan” yang berayun pada kotak surat di halaman depan.

Ya, itu juga terlihat sudah usang. Kemudian ibu langsung mencatat nomor teleponnya dan hampir berlari kembali ke halte bus.

Instingnya tidak salah: agen yang di telepon oleh ibu mengakui kalau rumah itu telah kosong selama beberapa bulan, dan sang pemilik sudah tidak sabar untuk ada orang yang mengisinya.

Mengejutkannya, harga sewa yang mereka minta begitu rendah, dan sesuai dengan anggaran kami. Jadi, ibu berhasil mendapatkan rumah sewa dan pekerjaan baru di hari yang sama. Kami semua berpikir kalau masalah kami sudah selesai.

Tentunya kami salah, atau aku tidak akan ada disini untuk bercerita bukan?

Rumah ini sebenarnya rumah yang cukup bagus, ada banyak kamar untuk kami bertiga. Kami sudah mengeluarkan seluruh barang dari unit penyimpanan dan masih ada beberapa ruangan kosong yang tersisa.

Aku dan Joey sudah berbagi kamar untuk waktu yang lama. Jadi, rasanya cukup aneh ketika aku mendapatkan kamar pribadi.

Penghuni rumah yang sebelumnya meninggalkan beberapa barang. Ada sebuah lemari pakaian yang besar di kamarku, dan koleksi pakaianku yang minim bahkan tidak bisa mengisi setengah dari lemari tersebut.

Dalam beberapa minggu pertama, kami mampir ke tempat-tempat yang menjual frunitur bekas dan membeli beberapa barang yang masih bagus dengan harga murah, termasuk sebuah meja belajar untukku.

Namun, ada satu hal yang membuat rumah ini tidak sempurna… Ruangan di bawah tangga. Di lantai satu, terdapat sebuah ruang keluarga, dapur, sebuah walk-in pantry, dan ada koridor pendek yang menghubungkan ruangan-ruangan tersebut.

Tangga yang mengarah ke kamar tidur terletak di dapur, bukan ruang keluarga. Namun ada juga tangga pendek ke arah bawah, yang bercabang dari koridor pendek antara dapur dan ruang keluarga.

Sebenarnya tidak bisa dibilang sebagai tangga, karena itu hanya memiliki sekitar delapan anak tangga. Tangga itu mengarah ke bagian lereng, bisa dibilang semacam gudang bawah tanah atau sebuah basement.

Anak tangganya berakhir di depan sebuah pintu. Sebuah pintu interior sederhana yang dicat berwarna krem, hanya saja ada orang yang menggambar mata Horus yang besar, menggunakan tinta hitam di pintu itu.

Hal itu cukup menggangguku. Ketika kamu berjalan melewati lorong, kamu melihat mata hitam yang besar itu memandang ke arahmu. Ibu bilang kalau itu hanyalah sebuah ruang penyimpanan yang berisi beberapa barang milik tuan rumah, jadi dia tidak memiliki kunci untuk ruangan tersebut.

Meskipun aku penasaran – yah pada saat itu aku baru berusia 14 tahun – Aku merasa sedikit lega karena kami tidak bisa membukanya. Mata hitam yang besar itu membuatku merinding.

Untukku, hal yang paling aneh terjadi di satu sore setelah aku pulang dari sekolah. Waktu itu aku sendirian di rumah, karena ibu sedang bekerja dan Joey berada di kampus. Aku berjalan melewati tangga itu menuju ke dapur.

Aku terkejut ketika melihat pintu dari ruangan di bawah tangga itu terbuka, dan lampu di dalamnya menyala. Dari atas, aku tidak bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan itu selain potongan karpet berwarna merah tua.

Jadi aku memanggil, bertanya apakah ada orang di bawah sana. Karena tidak mendapatkan jawaban, dengan gugup aku merangkak ke bawah dan mengintip ke dalam ruangan tersebut.

Tidak ada apapun yang disimpan di dalam sana. Ruangan itu benar-benar kosong, sebuah ruangan sempit berbentuk persegi panjang yang membentang jauh di bawah lereng bukit.

Ruangan itu bukanlah gudang yang kotor dengan lantai beton seperti yang ku bayangkan. Lantainya ditutupi oleh karpet mahal berwarna merah, dan diterangi oleh dua pasang lampu tabung yang panjang, seperti yang biasa kamu lihat pada plafon rumah sakit atau sekolah.

Namun, hal yang paling memikat adalah lukisannya. Ternyata gambar mata pada pintu itu hanyalah bagian kecil dari karyanya, dan siapapun yang membuatnya adalah seniman yang hebat.

Aku tidak tahu sarana apa yang digunakannya, tapi tintanya berwarna hitam pekat, dan seluruh garisnya rata dan halus. Lukisan Itu terlihat seperti digambar menggunakan semacam spidol berujung lancip, seperti safir.

Tapi apapun itu, gambarnya begitu teliti. Tidak ada satupun garis yang bengkok dan tidak ada koreksi yang dilakukannya.

Gambar itu dibuat dengan indah, namun mengganggu. Sesuai dengan mata Horus, aku bisa melihat beberapa figur lain dari mitologi Mesir, seperti Set dan Anubis, yang terletak diantara latar aneh, menggabungkan arsitektur monumental dengan suasana natural seperti hutan dan padang pasir.

Terdapat juga beberapa gambar manusia telanjang, dan wajah mereka sepertinya menunjukkan antara ekspresi teror atau gairah seksual.. Bahkan, mungkin gabungan dari keduanya.

Efek dari gabungan pemandangan itu sangatlah mengganggu. Kamu mungkin berpikir kalau seorang anak berusia 14 tahun akan terangsang dengan gambaran yang begitu mendetail dari tubuh telanjang.. Tapi aku malah merinding dan bulu-bulu di tubuhku langsung berdiri.

Tanpa mematikan lampu atau menutup pintu, aku langsung berlari ke atas dan berbelok ke dapur untuk menenangkan diriku dengan sebuah snack. Saat tanganku hendak menyentuh pintu kulkas, aku mendengar suara pintu dibanting dengan keras.

Sekarang dengan sangat ketakutan, aku merangkak kembali ke koridor dan melihat ke bawah tangga. Pintunya tertutup, dan sekali lagi mata itu memandang ke arahku. Aku berusaha menenangkan diri, mengatakan kepada diriku kalau itu adalah angin.

Namun aku tahu betul kalau ruangan basement itu tidak memiliki jendela ataupun ventilasi. Jadi tidak mungkin ada angin yang bisa menutup pintu tersebut.

Ternyata, kejadian aneh dialami oleh kami semua, namun kami terlalu malu untuk membicarakannya. Aku rasa, mungkin itu sebuah mekanisme pertahanan diri untuk orang-orang yang pernah merasakan kekerasan dalam keluarga.

Ketika sedang stres, kami menjadi lebih tertutup, menyimpan rahasia kami sendiri.

Kemudian, setelah kejadian-kejadian lain terjadi, ibuku menceritakan kalau dia mendapat semacam pengunjung di malam hari.

Ibuku adalah orang yang hobi membaca, dia juga adalah manusia malam, jadi sering kali dia akan tetap terjaga sampai menjelang subuh, membaca apapun yang menarik perhatiannya. Kalau tidak salah, saat itu dia sedang membaca novel-novel milik Agatha Christie.

Beberapa kali, dia mendengar suara-suara kecil, sesuatu yang terdengar seperti langkah kaki pelan, pada genteng di bagian atap di atas kepalanya (seperti kaki yang memiliki cakar dari makhluk kecil).

Dia menganggap itu hanyalah ulah binatang, katakan saja burung atau semacamnya, tetapi bunyi itu semakin keras setelah beberapa minggu.

Yang terburuk terjadi pada satu malam, mungkin setelah sekitar dua atau tiga bulan kami pindah ke rumah itu. Bunyi-bunyian dari atap itu muncul beberapa kali dalam seminggu selama lebih dari satu bulan.

Pada saat itu ibu masih mengabaikannya. Namun, pada satu malam, sepertinya bunyi tersebut semakin mengganggu, seperti ingin mendapatkan perhatian dari ibu. Ibu mendengar bunyi itu berderak turun dari atap ke selokan, kemudian sepertinya bunyi itu berhenti.

Kamar ibu berada di lantai atas pada bagian depan rumah, dan terdapat sebuah jendela besar yang menjorok ke luar, dengan pemandangan yang luas ke jalan di bawah. Beberapa menit setelah bunyi-bunyian di atap berhenti, sesuatu mulai mengetuk jendela secara perlahan.

Ibu mengatakan padaku, kalau itu terdengar seperti seseorang mengetukkan kukunya secara perlahan pada kaca, seperti ketika anak laki-laki mencoba untuk membangunkan perempuan dengan hati-hati agar orang tuanya tidak mendengar.

Menurut ibu, dia sudah memastikan kalau itu bukanlah ulah possum atau burung malam, dan dia berusaha untuk mengabaikannya, berpura-pura membaca bukunya dan terus menatap ke depan, bahkan tidak melirik sama sekali ke arah jendela.

Bunyi ketukan itu mengeras, sepertinya apapun yang ada di luar sana mulai kesal, dan ibu pun berdoa. Doa pertama yang muncul di pikirannya adalah doa Salam Maria, dan dia mengucapkannya dengan keras.

Ibu melakukan semua itu sambil tetap mengunci pandangannya di bagian tengah buku, tetapi dia tidak lagi melihat kata-kata yang tercetak. Ketika doa itu selesai, suara ketukan pun berhenti.

Setelah malam itu, suara itu tidak pernah terdengar lagi, akan tetapi, kejadian aneh muncul di bagian lain dari rumah.

Di kisaran waktu yang sama, Joey sering berada di rumah pada siang hari. Dia bekerja di lapangan golf pada akhir pekan, dan di siang hari dia belajar. Karena ujian akhir sudah dekat, dia lebih sering di rumah. Sendirian belajar, ketika aku berada di sekolah dan ibu ada di tempat kerja.

Kemudian dia mulai mendengar suara-suara di sekitar rumah. Pada awalnya, itu bukanlah hal yang terlalu dramatis, hanya bunyi-bunyi ketukan yang sangat tipis, terkadang sesuatu seperti suara-suara atau bisikan.

Joey mengatakan kepadaku kalau semua itu adalah hal-hal yang masih masuk akal, dan bisa saja merupakan kebisingan yang tembus dari rumah-rumah tetangga atau suara yang bergema dari jalan.

Hanya ada satu kejadian yang benar-benar mengganggunya, dan itu terjadi pada larut malam, sekitar jam 2 pagi. Joey sedang duduk di meja dapur, belajar di hari terakhir sebelum ujian.

Ketika dia berpikir untuk berhenti dan segera tidur, dia mendengar suara cekikikan anak-anak dan sebuah bunyi berdenting yang jelas. Ini bukanlah suara tipis dari rumah tetangga, dia mengatakan kalau suara itu terdengar tidak begitu jauh dari koridor yang mengarah ke ruang keluarga.

Joey pikir itu adalah ulahku yang sedang mengerjainya, jadi dia memanggilku dan bertanya mengapa aku belum tidur. Karena dia memang sudah selesai belajar, dia merapikan buku-bukunya dan datang menemuiku.

Koridor itu kosong, begitu juga ruang keluarga, tetapi ketika dia sedang mencariku, terdengar suara cekikikan kecil dari belakangnya, dari tangga menuju kamar. Joey mengatakan kepadaku, kalau saat itu dia tidak merasa takut, hanya kebingungan, bagaimana aku bisa melewatinya tanpa dia sadari.

Dia mulai merasa takut ketika melewati dapur dan menuju tangga, namun tidak ada siapapun di sana. Karena dia memang berencana untuk tidur, jadi dia melanjutkan ke atas dan melihat kalau pintu kamarku tertutup.

Secara perlahan, dia membukanya, dan dia melihatku di sana, sedang tertidur lelap. Joey bisa melihatku dengan jelas karena ada cahaya dari lorong di belakangnya, dan aku tidak terlihat seperti sedang berpura-pura tidur.

Kemudian, ketika dia berpikir untuk mengecek apakah aku benar-benar tertidur, dia mendengar bunyi ketukan kecil dari dalam lemari pakaian tua di kamarku. Karena terkejut, Joey memasuki kamarku dan langsung menuju lemari itu.

Ketika tangannya hampir menyentuh pintu lemari, dia mendengar suara dari belakang. “Apa yang kamu lakukan?” Joey hampir berteriak dan langsung berbalik. Di sana, dia melihat ibu mengenakan gaun, rambut tebalnya kusut karena baru bangun.

Pada saat itu, Joey tidak tahu kalau kami semua telah mengalami kejadian-kejadian aneh, jadi dia membuat alasan, mengatakan kalau dia mendengar sesuatu, entah itu tikus, burung atau apa, jadi dia ingin memeriksanya.

Waktu itu dia tidak tahu, tetapi ketika ibu mendengar itu, ibu langsung merinding, karena suara-suara itu sangat mirip dengan suara-suara yang ibu dengar dari atap. Namun meski begitu, ibu tidak mengatakan apapun.

Kalau bukan karena ibu yang mulai penasaran dengan sejarah dari rumah ini, aku tidak tahu sampai kapan kami akan tetap diam mengenai kejadian-kejadian aneh yang kami alami.

Ibu mencoba untuk berbicara dengan orang-orang asing ketika sedang berbelanja atau dalam perjalanan, terutama pada orang yang sudah tua. Ibu yakin, kalau memang ada sesuatu yang pernah terjadi di rumah itu sebelumnya, dia harus menemukan tetangga yang suka bergosip, dan dia benar…

Pada satu hari, ibu sedang membeli buku Agatha Christie lainnya. Dia bercerita dengan tukang koran tua yang menjual buku itu, menanyakan kalau sudah berapa lama dia tinggal di lingkungan ini. Setelah kedekatan terjalin, ibu bertanya apakah dia tahu tentang sejarah dari rumah berwarna krem yang terletak di sisi bukit.

Wajahnya langsung mengerut dan dia menggelengkan kepalanya dengan serius sambil mengeluarkan bunyi “ck ck ck” dari mulutnya. Ibu langsung tahu kalau dia menemukan orang yang dicarinya.

Orang tua itu menjelaskan, sekitar sepuluh tahun lalu, ada sebuah kultus hippi pengguna obat-obatan yang bermarkas di rumah itu. Pimpinan kultus itu adalah anak orang kaya yang menjadi seniman.

Seorang putra yang hilang dari keluarga yang sangat kaya. Dia cukup karismatik dan mendapatkan sekelompok kecil pengikut yang tinggal dengannya di rumah itu. Pada awalnya, hal terburuk yang mereka lakukan hanyalah membuat keributan, dan tetangga yang kesal melaporkannya ke polisi.

Ada juga desas-desus yang mengatakan kalau mereka melakukan pesta seks dan obat-obatan, dimana sang pimpinan mengklaim kalau yang dilakukannya adalah semacam ritual untuk penyadaran spiritual. Ya, bukan hal yang baru.

Namun, setelah beberapa bulan, keadaannya menjadi lebih buruk. Bukan lagi karena musik dan tawa, tetapi tetangga menelepon polisi karena mereka mendengar suara jeritan dan tangisan.

Kabar yang beredar mengatakan kalau pemimpin kultus itu telah menjadi obsesif. Dia mengkonsumsi LSD dengan jumlah yang banyak, dan membuat “Karya Suci” di bawah petunjuk dari “Dewa-Dewa Kuno”.

Bahkan ada kabar yang mengatakan kalau ada beberapa calon anggota yang dihukum karena dianggap melakukan “penistaan”. Entah apapun maksud dari itu. Ada juga beberapa dari mereka yang dikunci di dalam lemari selama beberapa hari.

Aku harap itu bukanlah lemari tua kokoh yang ada di kamarku. Tetapi ternyata… itu memang lemariku.

Seperti yang pernah ku katakan, meskipun ibu tidak menganut satu agama secara spesifik, dia sangat percaya dengan akhirat, dan meskipun ibu tidak tahu kalau mereka itu hantu, iblis, atau apalah itu, ibu yakin kalau makhluk yang tak kasat mata tersebut bisa memengaruhi kehidupan orang normal.

Cerita-cerita yang dikatakan oleh tukang koran tersebut sudah cukup untuk membuat ibu khawatir, jadi ibu memutuskan kalau ada sesuatu yang harus dilakukannya.

Pertama-tama, dia mengumpulkan aku dan Joey dalam satu ruangan, dan menanyakan apakah kami mengalami kejadian aneh. Pada awalnya, kami ragu untuk bercerita, kami merasa malu.

Tetapi ketika dia bercerita tentang suara-suara di genteng dan pada jendela, aku langsung merinding. Aku menceritakan kalau pintu yang mengarah ke ruangan di bawah tangga itu terbuka, dan mendeskripsikan karya seni pada dindingnya.

Ibu mengangguk, dan menceritakan pada kami tentang seniman gila yang membuat rumah ini sebagai tempat pemujaan untuk kepercayaannya yang aneh. Semua cerita itu membuat Joey ikut berbicara. Dan dia menceritakan kisahnya.

Meskipun terdengar aneh, tetapi setelah menceritakan semua itu, kami merasa lega. Itu seperti pengalaman bonding dengan keluarga. Itu merupakan hal yang memersatukan kami. Kami pun memikirkan solusi.

Langkah pertama yang kami sepakati adalah, kami harus mengecat pintu dan menutup gambar mata yang mengganggu tersebut. Mungkin itu merupakan tindakan yang agresif untuk makhluk apapun yang sedang berbagi rumah dengan kami. Tetapi pada saat itu, kami tidak menyadari kalau itu akan menyinggung mereka. Kami bahkan tidak mempertimbangkan kalau mereka akan memberontak.

Ibu tidak meminta izin kepada pemilik kontrakan sebelum mengecat pintu itu — Ibu sangat marah karena mereka tidak memberitahu tentang sejarah rumah tersebut. Kalau mereka marah karena ibu mencat pintunya tanpa izin, maka mereka harus bisa menjelaskan mengapa mereka bahkan tidak mengatakan apapun tentang gambar mata tersebut.

Kemudian, Ibu pergi ke toko bangunan di sekitar rumah dan membeli satu kaleng cat kecil berwarna krem dan sebuah kuas yang murah.

Saat ibu mengecat, Aku duduk di anak tangga paling atas dan melihatnya, seperti semacam mandor pabrik. Ibu mengenakan baju lama dan rambut pirangnya yang panjang diikat. Ibu juga melapisi anak tangga agar tidak terkena tetesan cat.

Ini adalah saat dimana aku yakin kalau rumah kami memang dihantui. Saat ibu mulai mengoleskan kuasnya pada pintu, terdengar bunyi ketukan tipis dari belakang pintu, dari dalam ruangan kosong yang terkunci.

Awalnya suara itu tidak begitu jelas, suara desisan yang berputar.. Seperti suara tangan yang membelai pintu itu perlahan dari bagian sebelah. Perlahan suara itu menjadi lebih keras.

Menurut ibu, dia tidak pernah ragu. Sama seperti ketika dia mendengar ketukan di jendelanya. Ibu menolak untuk menghiraukan apapun yang ada di balik pintu, dan terus mengecat.

Suara desisan itu menjadi garukan, kemudian meningkat menjadi ketukan, dan ketukan pun menjadi hentakan. Aku bisa melihat pintu itu bergetar, dan aku merasa yakin kalau kayu tipis itu akan terbelah dari serangan tersebut, kemudian… aku tidak tahu.

Mungkin akan ada sesuatu yang keluar. Selain suara hentakan, aku juga bisa mendengar kalau ibu menyanyikan lagi My Sweet Lord ciptaan George Harrison. Itu merupakan salah satu lagu favoritnya.

Setelah sesuatu yang terasa seperti berjam-jam, kegaduhan itu pun berakhir. Hentakan itu berhenti tepat ketika ibu mengoleskan cat terakhir untuk menutupi tinta hitam tersebut dengan warna krem. Namun entah bagaimana, keheningan itu jauh lebih mengejutkan dari pada suara-suara yang baru saja kudengar.

“Selesai!”, kata ibu dengan ceria, seolah-olah  dia baru saja menyelesaikan pekerjaan biasa, seperti mencuci piring. “Oke. Kita biarkan cat itu kering. Besok ibu akan melapisnya satu kali lagi.”

Ibu menutup kaleng cat dan untuk pertama kalinya semenjak dia mulai mengecat, dia melihat padaku. Senyuman pada wajahnya adalah sesuatu yang dipaksakan. Aku bisa melihat matanya lelah. Hal itu benar-benar menguras tenaga ibu. Namun, aku merasa kalau aku harus ikut berpura-pura.

“Teh?” tanyaku sambil menirukan suara riangnya yang palsu.

“Ide bagus”, balasnya. “Tolong ambilkan cerek, Ibu harus membilas kuas ini dulu.” Satu jam berikutnya terasa begitu aneh, seperti kami sedang berakting pada suatu pertunjukan pantomim yang garing.

Kami tidak membicarakan apa yang terjadi ketika ibu mengecat pintu itu, hanya membuat beberapa gelas teh dan membicarakan apa yang sudah terjadi selama satu minggu terakhir.

Aku menanyakan tentang pekerjaannya. Ibu menanyakan tentang sekolahku. Kami bahkan memaksa diri untuk memakan beberapa biskuit cokelat, meskipun itu mungkin terasa seperti kami sedang memakan pasir.

Aku baru sadar sekarang, setelah bertahun-tahun dari kejadian itu. Tidak ada dari kami yang pernah menyarankan untuk pindah rumah. Kami baru saja tinggal di rumah itu selama beberapa bulan, tetapi kami mempunyai rasa kepemilikan yang kuat terhadap rumah itu.

Rumah itu adalah suatu tempat yang aman untuk kami, rumah kami. Kami baru saja lari dari rumah sebelumnya dari satu monster, dan aku rasa, kami semua sudah menentukan kalau kami tidak akan lari lagi.

Ya, lagian kalau dipikir-pikir, kami juga sudah tidak mampu untuk berpindah. Semua biaya untuk pindahan itu membuat keuangan kami benar-benar kering. Ibu memang memiliki penghasilan yang lumayan, tetapi masih membutuhkan beberapa bulan sebelum kami bisa terbebas dari hutang.

Belum lagi, kontrakan lain pasti akan lebih mahal. Ya, tidak semua rumah memiliki sejarah supranatural yang aneh untuk membuat harganya murah.

Aku yakin banyak dari kalian yang berpikir kalau kalian akan tetap pergi dari rumah itu. Aku bisa mengerti, tetapi, lebih dari tekad kami untuk merebut kembali rumah tersebut dari makhluk apapun yang ada di sana, kami memang sudah tidak mampu untuk pindah, bahkan jika kami mau sekalipun.

Kami hanya memiliki dua pilihan — Bertahan, atau menjadi gelandangan — Jadi, kami bertahan.

Kami menikmati beberapa hari yang tenang dan damai. Tetapi, ketika kami beripikir kalau solusi sederhana yang kami lakukan itu berhasil… Aku diserang.

Aku tidak tahu mengapa makhluk itu mengincarku. Ya, secara fisik aku memang yang paling kecil ,dan aku tahu kalau secara tradisional, kejadian poltergeist selalu dihubungkan dengan anak remaja yang lebih muda..

Namun sebenarnya aku tidak benar-benar tahu. Mungkin itu terjadi secara acak. Mungkin akulah yang paling lemah. Mungkin aku tidak akan pernah tahu jawabannya.

Apapun itu, sebaiknya aku kembali dengan ceritaku. Seperti yang ibu katakan, dia melapis cat itu satu kali lagi setelah hari pertama. Sekitar dua atau tiga hari setelah itu, di tengah malam… itu merupakan kejadian yang paling mengerikan yang pernah terjadi dalam hidupku.

Kejadian itu terjadi begitu larut, mungkin sekitar jam 3. Aku terbangun dari tidurku yang lelap. Aku berbaring, melihat ke arah plafon, dan masih berada di antara mimpi dan terbangun. Secara samar-samar, aku bertanya-tanya apa yang membuatku terbangun. Kemudian, setelah beberapa detik berlalu, aku pun sadar.. Kalau aku.. Tidak sendirian.

Sampai sekarang, aku tidak bisa mengingat apapun tentang mereka. Mereka hanyalah semacam sosok gelap mirip manusia.. tetapi tampak kabur. Ada sekitar delapan atau sembilan dari mereka yang berdiri membentuk setengah lingkaran di kaki tempat tidurku.

Mungkin kamu berpikir kalau mereka hanyalah bayangan yang aneh atau semacam ilusi optik, namun.. Ketika mereka melihatku terbangun, mereka membungkuk ke depan dan aku bisa mendengar suara desisan dari nafas mereka.

Begitulah, aku pun benar-benar terbangun dan insting pertahanan alam bawah sadar ku pun beraksi. Sesuatu di dalam diriku merasakan bahaya dan menyuruhku untuk melempar selimutku dan mulai berlari. Namun… mereka bisa merasakannya.

Sebelum aku bisa mengambil ujung selimutku, tangan-tangan yang dingin menahanku. Aku bisa merasakan mereka mencengkram pergelangan kaki, tangan dan pundakku dengan tekanan yang menyakitkan. Meski tubuhku dilapisi dua kain, sentuhan mereka yang dingin tembus sampai ke kulitku.

Kemudian… ada pria itu, membungkuk ke arah ku, berdiri di bagian kepala tempat tidurku. Meskipun itu merupakan hal yang mustahil.. Bagian kepala tempat tidur ku bersandar di tembok, jadi tidak mungkin ada orang yang bisa berdiri di sana.

Namun.. Dia ada di sana… membungkuk ke arah ku. Tidak seperti yang lain, dia.. tidak sepenuhnya gelap. Wajahnya tampak kabur dan pucat, dan di bagian matanya, terdapat cahaya berwarna merah gelap seperti bara rokok.

Itulah saat dia berbicara. Bahkan sampai sekarang pun, ketika aku mengingat suaranya.. Aku bisa merasakan bulu kuduk ku merinding. Dia.. hanya mengatakan satu kata, sebuah bisikan keras yang dipenuhi kebencian dan kemarahan: “Penista”. Kemudian dia memukul ku.

Itu merupakan… Ah, itu sulit untuk dideskripsikan. Kamu tahu, ketika kamu membuka kulkas di hari yang panas, dan ada semacam gelombang kabut dingin yang keluar dari kulkasmu?

Coba bayangkan itu, kemudian kabut itu menghablur menjadi sesuatu yang hampir padat, dan tiba-tiba memukulmu di wajah. Hal itu terasa seperti dipecut di sekitar pipi menggunakan cambuk yang terbuat dari jaring laba-laba. Itu seperti tidak di sana, seperti hembusan udara, tetapi itu menyakitkan dan dingin.

Aku bereaksi seperti anak-anak berusia empat belas tahun lainnya: Aku menjerit memanggil ibuku. Makhluk yang tidak jelas itu pun menyerang lagi, dan lagi, tetapi aku terus menjerit, “Ma, tolong! Ma, bangun! Tolong Ma, Tolong !!”

Aku mendengar suara kaki yang berlari, dan pintu kamarku terbuka dengan suara yang keras. Tetapi, yang aku dengar adalah suara pria yang berteriak “Ada apa ini?!”

Dalam sekejap aku merasa lebih takut dengan pria di depan pintu daripada makhluk samar yang sedang menyerangku. Entah bagaimana, ayah telah menemukan kami. Kami sudah membuat semua teman kami bersumpah untuk merahasiakan tempat tinggal kami.

Bahkan, semua tindakan hukum sudah kami lakukan agar dia tidak bisa menemukan kami, tetapi dia adalah seorang bajingan yang licik.. dan dia menemukan kami… Sekarang dia sudah memasuki kamarku dan dia akan membunuhku ketika hantu-hantu ini menahanku.

Suara kaki yang keras itu melangkah ke arah tempat tidurku, dan aku mendengar suara yang sama, tetapi kali ini terdengar tidak yakin dan syok, “Siapa itu? Apa ada orang di sana? Siapa kamu?

Apa yang kau lakukan pada adikku?” katanya. Aku tidak pernah menyadari kalau suara Joe begitu mirip dengan suara ayah sampai malam itu. Aku juga tidak pernah mengatakan itu padanya, dan aku tidak akan melakukannya. Itu bukanlah sesuatu yang perlu diketahuinya.

Meski aku merasa sakit, dingin dan takut, aku juga merasa sangat berterima kasih saat aku melihat wajah Joey yang diterangi oleh cahaya kekuningan dari lampu jalan yang tembus dari gorden kamarku yang tipis.

Tampaknya dia menembus makhluk gelap dan dingin itu, menghamburkan mereka seperti asap dan dia meraih ke bawah untuk memberikan pelukan padaku. Saat ujung jarinya menyentuhku, suara parau itu pun muncul lagi… sekarang lebih keras dan dipenuhi amarah.

“Tunggu giliran mu!”

Joey menggeram seperti dia dipukul, kemudian aku melihatnya terdiam, kemudian dia mengejang dengan kasar, seperti seseorang yang sedang tersetrum.. Lalu dia melayang ke atas, menjauhiku.

Aku berhasil memutar kepalaku dan melihat kakak ku, orang yang begitu besar, terbang ke belakang dan masuk ke dalam lubang gelap di dalam lemari pakaianku. Terdengar hentakan yang keras saat dia menabrak lemari, dan lemari itu tergoyang ke belakang dan menabrak dinding. Setelah itu kedua pintunya yang besar pun tertutup dengan keras.

Lalu terdengar teriakan dari arah pintu kamarku, dan aku tidak mungkin keliru untuk suara yang satu ini. “Tinggalkan anak-anakku!” teriak ibuku. “Pergi! Pergi dari sini! Tinggalkan tempat ini! Dalam nama Yesus dan Maria dan Ganesha dan Allah dan bahkan dalam nama Horus aku memerintahkanmu untuk meninggalkan keluarga ini dalam damai, SEKARANG!!”

Suara reptil di atas kepala tempat tidur ku pun mendesis seperti air pada kuali yang panas, dan untuk beberapa saat, suara itu memberat menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lebih besar, juga lebih jahat. Tapi.. kemudian itu menghilang.

Mereka semua menghilang. Tidak ada lagi tekanan yang menahanku, dan sosok-sosok yang berkumpul di sekitarku pun lenyap. Aku langsung berlari dari tempat tidurku ke pelukan ibuku.

Menangis dalam pelukannya seperti anak berusia empat tahun. Ibu memelukku dengan erat dan mengusap kepalaku, kemudian dia memanggil Joey, yang keluar dari dalam lemari pakaianku, terlihat pucat dan gemetar.

Fajar pun tiba dan kami bertiga berkumpul di dapur, berbicara dengan suara yang kecil sambil memegang secangkir teh yang panas untuk mencari kenyaman. Kami telah menghabiskan beberapa jam, berdiskusi tentang apa yang harus kami lakukan berikutnya.

Untuk pertama kalinya, kami membicarakan kemungkinan untuk pindah, tetapi kami semua menolak gagasan itu. Tentu saja kami semua ketakutan, tetapi kami juga bangga dan sudah bertekad.

Bahkan dalam kondisi ketakutan pun, kami tahu betul kalau kami pindah sekarang , itu akan benar-benar menghancurkan keuangan kami. Pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pembersihan atau pengusiran setan sekali lagi, tetapi kali ini kami mendapatkan bantuan dan melakukannya dengan benar.

Pada siang itu, kami memiliki kumpulan yang sangat aneh di ruang tamu: seorang pastor Kristen dari gereja alternatif yang aneh di sisi kota, seorang pendeta Pagan yang ibu kenal ketika dia masih kuliah dulu, seorang wanita berambut putih bersetelan jas sempurna yang aku tidak pernah tahu apa yang dilakukannya, dan beberapa orang lainnya.

Mereka semua berkumpul di lorong, di atas tangga dan melakukan ritual mereka masing-masing. Sedangkan aku, Joey dan Ibu berdiri di anak tangga bawah dan melakukan ritual kami sendiri.

“Urusanmu di sini sudah selesai”, Ibu berkata dengan tegas pada pintu yang tertutup. Mata Horus itu telah muncul kembali, hitam, jelas dan sempurna.. Tidak ada tanda kalau mata itu pernah dicat.

“Sekarang, ini adalah tempat kami” lanjut ibu. “Kau harus pindah. Jika kau tidak bisa, atau tidak ingin pindah, maka tinggallah di ruangan ini, tetapi wilayah lain di rumah ini dilarang untukmu.”

Ketika aku dan Joey menaruh satu tangan kami ke pundak Ibu, dia mengecat mata itu dengan cepat. Tidak ada lagi hentakan marah dari sisi lain pintu itu. Yang ada adalah suara hening, seakan-akan ruangan itu dipenuhi dengan orang yang sedang menahan nafas mereka.

Ketika garis terakhir dari gambar yang mengganggu itu lenyap di bawah kuasnya, ibu mencondongkan tubuhnya ke arah pintu dan berbisik, “Oh ya, kalau kalian berani menyakiti putraku lagi, aku akan membakar rumah ini tanpa sisa. Kalian mengerti?” Ibu mengatakan itu dengan halus, tetapi aku bisa mendengar kalau suaranya bergetar karena marah.

Mungkin itu karena doa-doa, atau karena ancaman dari ibu, atau mungkin karena malam itu mereka telah menggunakan seluruh tenaga mereka, tapi sejak saat itu, rumah kami mulai tenang. Masih ada beberapa insiden kecil, tetapi tidak begitu buruk, dan hal itu terjadi semakin jarang seiring berjalannya waktu.

Aku tinggal di rumah itu selama hampir sepuluh tahun. Setelah lulus SMA, Joey menunda kuliahnya selama beberapa tahun, bekerja full-time untuk menabung, dan melakukan perjalanan ke Eropa dan Asia.

Setelah itu, dia pun mendaftar ke universitas dan mempelajari viticulture, dan pada usia 23 tahun, dia mendapatkan pekerjaan impiannya, mengurus sebuah kebun anggur eksperimental berteknologi tinggi di negara lain.

Ibu juga melakukan pekerjaan yang baik, dia mendapatkan beberapa promosi dan akhirnya dia pun menjadi eksekutif. Hal itu membuat ibu harus bekerja di kantor utama. Jadi Ibu pun pindah. Aku mengambil kamarnya, dan menyewakan dua kamar lainnya kepada temanku di universitas. Itu merupakan rumah yang damai, selain dari beberapa pesta kecil yang kami lakukan.

Akhirnya, aku pun pindah dari rumah itu untuk menikahi tunangan ku, yang sekarang sudah menjadi suamiku selama kurang lebih 10 tahun. Dia tidak pernah menyukai rumah itu, dan mengatakan kalau rumah itu terasa aneh, bahkan ketika dia masih tinggal di sana bersamaku.

Dia bertanya apakah aku pernah mendengar suara-suara aneh, dan langsung bertanya apakah aku percaya kalau mungkin rumah itu berhantu. Aku mengatakan kepadanya kalau rumah itu pernah berhantu, tetapi Ibu telah mengusir mereka.

Tentu, suamiku ingin mengetahui cerita lengkapnya, namun aku mengatakan kalau kita harus pindah dulu sebelum aku menceritakannya karena aku tidak ingin suamiku ketakutan. Itu malah membuatnya lebih takut, dan setelah itu kami lebih banyak menghabiskan waktu di tempatnya.

Pada saat itu, aku tahu kalau aku sudah tidak bisa lagi tinggal di rumah tersebut. Aku merasa lemah tanpa keluargaku di sana, meskipun yang harus ku lakukan hanyalah menelepon mereka.

Tetapi, aku bisa merasakan kalau apapun makhluk yang berada di ruangan bawah itu, merasakan kelemahanku. Ya.. sebuah pembicaraan bersama teman satu rumahku akhirnya memaksaku untuk pindah, untuk meminta pacarku menikahiku, untuk mencari rumah baru dan melepaskan sewa dari rumah itu.  

Pembicaraan itu terjadi pada satu pagi di dapur.. Ketika kami sedang sarapan, tiba-tiba temanku bertanya. “Hei, siapa yang melukisnya?”

Aku mengerutkan dahi ku sambil memakan rotiku. “Apa maksudmu?” tanyaku. Dia menggerakkan kepalanya ke arah lorong. “Pintu ke ruangan basement atau apalah itu. Seseorang menggambar mata di pintu itu.”


Credits
Cerita oleh: MCDexX
Original Story klik di sini
Diterjemahkan oleh: PapaChan
Dibacakan oleh: MamaEn

Background Music:
Myuu


Disclaimer
Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari forum Reddit r/nosleep. Kami sudah meminta izin kepada Penulis untuk menerjemahkan dan membacakannya di seluruh platform MalamMalamStories.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anjing Adalah Sahabat Terbaik Manusia

Gates Of Guinee: ‘Pintu Keluar Masuk Antara Dunia Nyata dan Alam Kematian’