in ,

Museum Seni Abstrak [Part 2 – End]

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Museum Seni Abstrak [Part 2 – End]


Aku masih ga ngerti, bagaimana ini bisa terjadi, benar-benar ga masuk akal. 

Rima juga keheranan, dan Dennis terlihat seperti hampir pingsan. Dennis lalu mulai berjalan mendekati cermin itu, yang berjarak sekitar 10 meter dari kami. Begitu dia melihat dirinya dengan rambut hitamnya yang pendek di cermin, dia berteriak, berbalik, dan langsung lari. 

Dennis : “ Ahhhhh….”

Rima : “ Denisss, kamu kenapa ?? heyyy jangan lari !!! Tunggu… aahh  “

Yana : “ Udah udah deh Ma, kaki kamu kan cedera gara-gara main basket kemarin.  Biar aku aja yang ngejar Dennis.”

Rima : “ Ah, sialan…”

Linda : “ Buruan balik Na !!!”

Aku hanya bisa mengangguk dan segera berlari mengejar Dennis, meninggalkan Linda dan Rima berdua.  Aku ga pernah tahu kalau Dennis berbakat menjadi atlet.

Dia terlihat seperti orang yang selalu berada di dalam rumah, selalu siap untuk bermain online bareng aku, dan aku ga pernah mendengar dia membahas olahraga apapun. Bahkan di kelas olahraga, dia terlihat tidak tertarik untuk mengikuti olahraga. 

Sungguh aneh kan kalau aku yang bermain basket 3 hari seminggu ga bisa mengejarnya. Tapi itu yang terjadi sekarang. Saat melewati ruangan yang dipenuhi patung kepala, yang tampak seperti semakin kehilangan semangat hidupnya, aku udah ga melihat Dennis lagi, dan aku memutuskan untuk membiarkannya.

Lagi pula ga ada cara untuk keluar dari tempat ini. Aku mulai berjalan perlahan untuk kembali ke ruangan cermin tadi. Aku kira Linda dan Rima masih ada di sana, karena aku menyuruh mereka untuk tetap di situ.

Sekilas mereka berdua terlihat seperti menghilang, tapi saat aku mencoba melihat lebih jauh ke dalam ruangan cermin tadi, aku malah mendapati Linda di pojok ruangan seperti sedang menangis. Aku pun mendekatinya dengan hati-hati agar Linda tidak terkejut, dan mencoba memanggilnya. 

Dia malah menatapku dengan tatapan paling ga berdaya dan sedih – yang ga pernah aku lihat selama ini. Dia memelukku seakan-akan aku ini adalah seorang penyelamat. Linda pun menangis dengan kencang, tidak terkendali, dan dia kesulitan untuk menjelaskan apa yang terjadi selama aku pergi mengejar Dennis tadi. 

Linda : “Jangan… Jangan lihat, jangan… Pilss Na, jangan kamu juga.”

Aku mencoba membawanya kembali ke tempat kami beristirahat, tapi jujur aku masih ga ngerti – apa yang dikatakan Linda barusan. Saat Linda sudah lebih tenang, dia pun mulai menjelaskan apa yang terjadi. 

Linda : “Awalnya sih Rima mencoba menenangkanku, sekedar mastiin kalo aku tuh baik-baik aja. Terus dia mulai bergumam dengan kata-kata yang aneh. Awalnya aku kira aku salah dengar, tapi saat ketiga kalinya dia ngomong ‘jiwa-jiwa mereka akan diambil hari ini’, aku cukup yakin kalo dia gak sedang bercanda.” 

Aku lantas bertanya, apa Linda tahu arti omongannya, dan apa yang terjadi pada Rima. 

Linda : “Perubahan warna di tembok itu adalah cermin dari teman-teman kita, cerminnya hilang karena jiwa mereka juga hilang. Aku ga tahu kemana mereka menghilang, begitu juga dengan Rima. Dia berjalan ke salah satu cermin dan berteriak. Saat itu juga aku langsung menutup mataku, dan setelah itu aku ga melihat Rima lagi Na.”

Yana : “Apa kamu ngelihat atau mungkin dengerin Dennis lewat ?”

Aku tetap bertanya, walaupun jujur aku sudah tahu jawabannya pasti tidak. 

Linda terlihat jelas sangat kelelahan. Begitu juga denganku. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 2 siang. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu: semua lukisan yang ada di ruangan tadi, mempunyai kepala yang sama seperti patung kepala di ruangan lain.

Rasanya aneh sekali, aku tahu lukisan itu hanyalah lukisan yang tidak bisa dipahami, tapi sekarang aku bisa melihat kepalanya dengan sangat jelas.

Mungkin ini hanya dampak dari kelelahan, ditambah situasi yang memang sangat aneh dari awal. Aku berbalik untuk kembali ke bangku, tapi Linda … Linda sudah ga ada di situ lagi.

Aku tahu ini bukan semacam trik atau lelucon, dia terlalu lelah untuk melakukannya. Perlahan … aku mulai berjalan ke arah ruangan cermin, dan hanya ada satu cermin yang tersisa. 

Tanganku mulai berkeringat, tubuhku mulai gemetaran dan tiba-tiba aku mendengar suara dari dalam kepalaku; suara Linda yang sangat tenang. 

Linda : “Yana, pergi dan coba lihat, kamu pasti bakal terbebas.” 

Tanpa  aku sadari, aku mulai berjalan mendekati cermin terakhir, dan melihatnya.

Wajah yang kulihat bukanlah wajah seorang gadis yang dipenuhi semangat, tapi seorang gadis, yang hidupnya baru saja berakhir, mata tanpa cahaya kehidupan. Saat aku melihatnya, segala kekuatan yang tersisa di tubuhku menghilang, dan aku tergeletak di lantai. Jiwaku terhisap !



Credits

Cerita oleh: Anonim
Original Story klik di sini
Diterjemahkan oleh: Alvin
Dibacakan oleh: Papachan, Sella, DewizMaya, Indy

Background Music:
Horrorin


Disclaimer

Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

11 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pulung Gantung – Benarkah Bola Api Ini Penyebab ‘Bunuh Diri’ ?

Cimol Gomoy Ala Mba Cimol si Pecinta Micin!