in ,

Angry Mom

Klik tombol play di atas untuk mendengarkan cerita Angry Mom


Aku selalu bingung dengan ibu. Hampir setiap hari ia marah-marah, bahkan saat aku tidak melakukan kesalahan apapun.. Rasanya sedih sekali.

“Lyra! Lihatlah tempat tidurmu! Berantakan sekali! Sudah berapa kali ibu bilang kalau kamu harus membereskannya sebelum pergi ke sekolah!” teriak ibu.

Aku baru saja pulang sekolah. Belum sedetik menginjak lantai rumah, ibu sudah memarahiku. Kepulanganku disambut dengan teriakan dan bentakan ibu.

“Aku bersumpah tadi pagi sudah ku bereskan, bu.”

“Ah, sudahlah! Kamu ini selalu saja membela diri! Kamu sudah berusia 6 tahun, seharusnya bisa lebih bertanggung jawab!”

Aku hanya bisa diam.. Ibu tidak pernah mempercayaiku.

Malam pun tiba. Aku dan adik perempuanku beranjak menuju ruang makan karena merasa lapar. Ada satu potong sandwich di atas meja makan. Aku memotongnya menjadi dua agar adikku juga bisa memakannya.

“Rasanya enak sekali”, kata Lilly sambil mengunyah. “Ngomong-ngomong, aku minta maaf soal tempat tidurmu. Tadi siang aku berbaring di sana dan tidak kubereskan lagi.”

“Kenapa kamu tidak menggunakan tempat tidurmu sendiri?” tanyaku sedikit kesal. Tapi Lilly tidak menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum nakal. Lilly terkadang sedikit jail dan nakal. Aku bisa memakluminya karena dia masih berusia 4 tahun.

Beberapa waktu belakangan ini, aku sering mendengar ibu menangis dan ketakutan di malam hari.

“Dia selalu muncul ke dalam mimpiku! Bukan hanya itu, aku sering melihatnya menampakkan diri di rumah ini.” Kata ibu sambil menangis.

“Tenanglah, mungkin itu hanya halusinasi. Semua akan baik-baik saja.” Ayah mencoba menenangkan ibu.

Aku dan Lilly menguping dari depan pintu kamar mereka. Lilly mendekat ke arahku dan memegang tanganku erat-erat.

“Dingin sekali tanganmu, Lilly. Kamu takut ya?”

“Tidak” Jawab Lilly. Aku tahu dia berbohong. Sejujurnya aku merinding sekali mendengar cerita ibu. Tapi aku harus berani agar Lilly tidak ketakutan.

Hari sudah malam. Aku mulai mengantuk. Lilly duduk di dekat jendela sambil menatap gelapnya langit malam yang diterangi bulan purnama.

“Apakah itu sakit?” tanya Lilly.

“Apa? Apanya yang sakit?” aku menguap.

“Pergelangan tanganmu,” kata Lilly sambil menunjuk tanganku.

“Oh, aku bahkan tidak ingat kapan aku mendapatkan luka ini. Ibu bilang saat aku masih sangat kecil, aku terjatuh dan lenganku tergores.”

Beberapa lama kemudian, aku tertidur pulas.

“Lyra!!” teriakan ibu membangunkanku. Ketika aku membuka mata, ibu sudah ada di depan pintu kamarku. “Kenapa kamu tidak menghabiskan sandwich-mu tadi malam? Kalau kamu terus-terusan seperti ini, ibu tidak akan memberimu makan lagi!” tukas ibu. Kemudian ia membanting pintu kamarku.

Aku benar-benar tidak mengerti. Aku selalu menghabiskan makananku karena aku selalu kelaparan. Ibu jarang sekali menyiapkan makanan untukku. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipiku. Aku ingin sekali mengadu kepada ayah, tapi ayah selalu sibuk dan tidak ada waktu.

Setelah selesai bersiap-siap, aku bergegas ke ruang makan untuk sarapan. Saat aku berjalan menuju ruang makan, aku melihat ada beberapa orang berpakaian jubah hitam di ruang tamu yang sedang mengobrol dengan ayah.

“Istriku sangat ketakutan akhir-akhir ini. Emosinya jadi tidak stabil. Ia mengaku diganggu oleh makhluk halus. Jadi aku berharap kalian bisa melakukan pengusiran setan di rumah ini sekarang juga.” Kata ayah.

“Ya, tentu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin.” Jawab orang itu.

Tidak ada sepotong makanan pun di atas meja makan. Sepertinya ibu sengaja tidak menyiapkan sarapan dan bekal kali ini. Aku pun langsung pergi ke sekolah tanpa sarapan.

Saat aku pulang sekolah, rumahku sudah dikerumuni banyak orang dan mobil yang parkir. Aku juga melihat satu mobil ambulans. Aku langsung berlari ke dalam rumah. Aku melihat ibu berteriak dan menangis. Tubuhnya terus memberontak ke sana kemari. Beberapa orang berusaha untuk menarik ibu dan membawanya ke mobil ambulans. Aku ketakutan bukan main.

“Ayah, apa yang terjadi?”

“Kami baru saja melakukan pengusiran setan dan itu sudah berhasil. Tapi ibu sakit, jadi dia harus diberi pengobatan di rumah sakit.”

“Sakit apa?” tanyaku. Tanpa mengucapkan apa pun, ayah langsung menggendongku dan membawaku ke kamar.

“Kamu harus istirahat. Wajahmu sangat pucat. Ayah harus pergi ke rumah sakit menemani ibu. Nanti malam ayah akan kembali.”

Kepalaku sangat pusing. Tubuhku lemas. Pengelihatanku mulai kabur. Mungkin karena belum ada asupan makanan sejak tadi pagi. Kemudian aku tertidur.

Saat aku terbangun, langit sudah gelap. Lalu aku tersadar bahwa aku tidak melihat Lilly sejak tadi siang. Aku terus memanggil namanya tapi ia tidak muncul juga.

“Kenapa kamu tiba-tiba memanggil Lilly?” wajah ayah tampak sangat kebingungan.

“Ayah, di mana Lilly? Aku tidak melihatnya sejak tadi siang!”

“Lilly tidak pernah ada di rumah ini. Dia sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Dia dibunuh oleh ibumu sendiri.” Kata ayah dengan mata berlinang. Kemudian ayah memelukku.


Credits

Cerita oleh: IG @dhiyahmaris
Source : IG @creepypasta.id
dibacakan oleh: Indy, PapaChan, MamaEn

Background music
Myuu


Disclaimer

Cerita ini diambil dari akun Instagram creepypasta.id sebagai bagian dari kerjasama antara MalamMalam dengan Creepypasta.id.

Apabila Anda ingin menggunakan materi cerita ini di tempat lain, Anda harus meminta izin dan menghubungi langsung pihak yang bersangkutan. Kami tidak menanggung segala konsekuensi, termasuk konsekuensi hukum yang ditimbulkan akibat dari penggunaan cerita ini.

Report

What do you think?

11 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 ‘Cerita Horor Kamu’ Terbaik di Tahun 2020

Misteri Fenomena ‘Belmez Faces’, Tipuan Atau Gaib ?