in ,

Di Balik Rasisme dan Diskriminasinya Orang Korea Selatan

Korea Selatan jadi buah bibir sepanjang Olimpiade 2020. Nama mereka sudah jadi atensi saat ajang multi event dibuka di Tokyo 23 Juli lalu.

Salah satu staisun televisi Korea Selatan, MBC, langsung berulah. Ketika satu persatu kontingen masuk lapangan, MBC selalu menyertakan gambar sebagai identitas negara tersebut.

Sayang, cara ini jadi awal diskriminasi dan sikap rasisme Korea Selatan selama Olimpiade. Ketika atlet Cina memasuki lapangan MBC menyertakan peta Wuhan, kota tempat di mana virus corona bermula.

Sejarah Rasisme Orang Korea Selatan

Mereka kemudian menggambarkan Haiti dengan insiden kerusuhan, Ukraina lewat musibah nuklir Chernobyl, dan masih banyak lainnya. MBC pada akhirnya memang minta maaf. Tapi luka yang mereka ciptakan masih dirasakan banyak pihak.

Selesai MBC, muncul diskriminasi lain. Ironisnya terjadi pada atlet Korea sendiri. Pemanah bernama An San, jadi sasaran perundungan warganet negaranya.

An San mendapat perlakuan diskriminatif karena penampilan. Ia memotong pendek rambutnya. “Apa kalian yakin di bukan feminis? Dia memenuhi semua syarat itu,” tulis salah satu warganet Korea di Instagram.

Di Korea sendiri mulai banyak bermunculan gerakan anti-feminis. Karena di sana feminis punya konotasi negatif.

Ironis memang. Bully didapat saat pemanah 20 tahun mempersembahkan tiga medali emas untuk Korea Selatan. Ia bahkan memecahkan rekor dunia saat mencetak skor 680 dalam babak kualifikasi.

Lalu, yang paling menggemparkan adalah aksi rasis atlet menembak, Jin Jong-oh. Dia menyebut atlet asal Iran, Javad Foroughi, yang mengalahkannya dalam perebutan medali emas sebagai teroris.

“Bagaimana bisa teroris meraih emas? Hal paling konyol dan membingungkan,” ketus Jin Jong-oh seperti dikutip dari Korea Times.

Sikap Korea Selatan, baik dari orang-orangnya, sampai media tak lepas dari tradisi yang terus dipegang teguh. Dikutip dari Wikipedia, ada dua fase penting yang membentuk sikap orang Korea Selatan terhadap orang yang berbeda ras dengan mereka. 

Pertama terkait identitas Korea yang berasal dari tradisi seribu tahun garis keturunan leluhur yang murni, persamaan bahasa, adat istiadat, dan sejarah.

Tradisi ini kian menguat selama masa perang dan pendudukan Jepang pada abad ke-20. Apalagi waktu itu Jepang ingin menghapuskan bahasa, budaya, dan sejarah Korea.

Ilustrasi : Sejarah Rasisme Orang Korea Selatan

Fase kedua terjadi saat krisis melanda negara beribukotakan Seoul 1997 silam. Krisis ekonomi kala itu membuat IMF memaksa Korea mengambil bailout yang pada akhirnya justru membuat kondisi negara makin terpuruk.

Terjadi PHK besar-besaran hingga menukiknya pendapatan perkapita negara. Peristimewa ini disebut-sebut turut membentuk sikap orang Korea terhadap pendatang maupun orang asing.

Sikap rasisme di sana mulai meningkat sejak awal 2000-an. Hal ini tak lepas dari meningkatnya imigran. Berdasarkan survei World Values Survey tahun 2017-2020, dari 1.245 warga Korea Selatan, 15,2 persen di antaranya tidak menerima orang yang berbeda ras sebagai tetangga.

Walau terbilang tinggi, sikap rasis orang Korea tidak ditujukan kepada semua imigran atau pendatang. Diskriminasi tersebut hanya berlaku untuk mereka yang berasal dari negara Asia lainnya dan Afrika. Sedangkan pendatang asal Eropa dan Amerika tidak demikian.

Sikap rasisme ini telah memengaruhi semua lini kehidupan imigran di sana. Mulai upah yang lebih rendah, gaji yang ditahan, kekerasan fisik, hingga berdampak langsung pada anak di sekolah.

Apa yang terjadi pada Olimpiade Tokyo hanya segelintir cerita negatif Korea Selatan terkait isu rasisme. Pemerintah memang terus berbenah untuk mengurangi tingkat diskriminasi di sana.

Salah satunya lewat Undang-Undang Ketenagakerjaan Pekerja Asing yang baru, penghapusan peraturan yang melarang pria ras campuran mendaftar militer, hingga mengubah sumpah yang sebelumnya mengagungkan kemurnian ras.

Akan tetapi, mereka belum memiliki undang-undang antidiskriminasi. Padahal PBB sudah mengusulkan itu sejak 2015.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 Lagu The Clash yang Wajib Kamu Cek

Saat Nintendo Bikin Masa Kecil Kita Bahagia