in ,

Mengapa Mereka Disebut Sixes [Bagian Ke-2 – Konsekuensi]

Hai, ini aku lagi. Sebetulnya aku tidak berencana kembali ke sini dan bercerita lagi, tapi banyak dari kalian yang ingin mendengar lebih banyak. Tentang akhir dari “orang tua”ku, atau tentang bebragai jenis entitas selain manusia. Kurasa sebagian dari diriku takut mendapat masalah. Tapi, pada akhirnya aku kembali ke sini. Kurasa aku ada di sini untuk memberitahu kalian apa yang kuamati di antara titik di mana Enam menempel ke ibuku dan Mike.

Pertama, aku mau meluruskan beberapa komentar yang muncul. Bukan, aku bukanlah Enam. Itu tidak masuk akal, karena menjadi manusia adalah satu-satunya hal yang diinginkan Enam, tapi mereka tidak bisa. Mereka tidak bisa berkomunikasi, menggunakan komputer, atau bahkan hal-hal dasar yang biasa dilakukan manusia. Menurutku mereka bahkan tidak punya kapasitas untuk melakukan komunikasi. Aku juga belum menjadi korban dari Enam. Kalau boleh jujur, mungkin mereka takut karena aku bisa melihat mereka. Sejauh ini mereka masih belum mendekatiku. Dan yang erakhir, aku tidak bermaksud terkesan apatis di cerita pertamaku. Tapi jujur saja, aku ketakutan, dan sistem pertahanan diriku berkata kalau ini adalah satu-satunya cara ku untuk punya kesempatan terlepas dari pemukulan itu. Rasa penasaranku membuatku ingin mendokumentasi apa yang kulihat. 

Baiklah…

Ini tidak akan seperti catatanku yang sebelumnya. Bisa dibilang yang satu ini akan lebih condong ke gaya dokumenter dibanding personal. Aku tidak akan membahas bagian “menghantui” yang diciptakan Enam, karena sebagian besar tidak begitu menarik. Aku mau kalian semua tahu bagaimana Enam mempengaruhi manusia, bukan lingkungan sekitar mereka. 

BULAN 1: Bulan pertama masih cukup normal, selain fakta kalau orang tuaku mulai lelah dan sangat tertutup. Pemukulan yang aku alami sangat berkurang, sampai ke titik di mana itu terjadi hanya kalau aku terlalu dekat atau bicara terlalu banyak, yang mana mengganggu mereka berdua. Ada waktu di mana mereka berdua akan terbangun berteriak, dan terus berkomentar merasa seperti ada sesuatu yang mengawasi mereka. Aku meyakinkan mereka dengan gigi terkatup kalau mereka tidak sedang diawasi, sambil menatap mata makhluk yang mulai memakan mereka.

BULAN 2: Orang tuaku mulai tidur lebih lama tanpa alasan yang jelas. Seperti 17 jam. Terkadang, mereka bahkan mengompol di ranjang. Aku harus membersihkannya. Betul-betul tidak manusiawi, tapi normal untuk sebuah subjek dari Enam. Mencoba membangunkan mereka sangatlah berbahaya, tapi sebelumnya pun memang begitu. Namun bedanya, sekarang lebih parah lagi. Di satu titik, aku membangunkan ibuku untuk meminjam uang untuk naik bus ke pertemuan dengan satu keluarga, yang sepertinya, sedang berurusan dengan setan yang menghantui mereka (yang sebenarnya hanya sebuah aktivitas supernatural yang disebabkan bocah 17 tahun dengan masalah jerawat). Dia tiba-tiba berdiri, menoleh perlahan, dan berteriak; sebuah teriakan yang paling memekakan telinga dan tidak manusiawi. Setelah itu dia menerjangku. Untungnya, pada tahap ini, mereka sudah kehabisan tenaga. Dia menamparku beberapa kali sebelum perlahan merangkak kembali ke tempat tidur, tertidur begitu dia menyentuh bantalnya. 

BULAN 3: Tahap depresif, ini adalah tahap di mana biasanya kami dipanggil untuk menangani sebuah kasus, itu pun.. kalau kami belum dipanggil di bulan pertama. Orang tuaku mulai mengurangi jam tidur mereka selama beberapa jam, dan hampir setiap saat mereka menangisi hal terburuk. Mereka juga mulai menyakiti diri mereka sendiri, tepat di depanku. Walaupun ini adalah bulan yang paling tidak berbahaya untukku, tapi ini merupakan bulan yang paling buruk untuk disaksikan. Ada beberapa kesempatan dimana aku ingin memberitahu mereka. Tapi aku tahu mereka hanya akan marah. Ditambah lagi, mereka bilang mereka bisa melihat mata merah di belakang bahu mereka. Sekali lagi aku meyakinkan mereka kalau aku tidak melihat apapun. Aku merasa bersalah.

BULAN 4: Di sini keadaan mulai berubah. Mereka hampir tidak pernah tidur lagi, dan selalu berbicara. Aku belum pernah melihat fase ini secara langsung, jadi aku tidak tahu apa yang bisa terjadi. Aku sedang duduk di sofa saat ibuku duduk di samping, dan menatapku untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tapi aku tidak melihat ada cinta di matanya seperti dulu. Aku tidak begitu mengerti, tapi dia mulai mengatakan sesuatu. Saking cepatnya dia berbicara, aku perlu waktu untuk betul-betul memahami apa yang dia katakan. “Aku tidak pernah menginginkanmu. Tidak sekalipun dalam hidupku. Saat kamu masih bayi, aku berpikir untuk mencekikmu dengan bantal dan mengklaim SIDS. Satu-satunya kelebihanmu adalah menjadi orang aneh.” Bulan ini serasa berubah menjadi neraka; sebuah kenangan yang ingin kulupakan secepatnya. Orang tuaku sudah kehilangan kendali. Mereka mungkin sengaja mengarang semua ini agar terdengar menyakitkan, tapi kelihatannya tidak seperti itu.

BULAN 5: Aku harus absen karena hal ini. Mereka berdua menjadi sangat kasar, sampai ke titik di mana aku hampir terbunuh. Aku sedang menggosok gigi saat Mike tiba-tiba masuk ke kamar mandi. Di titik ini, mereka berdua hampir selalu dalam keadaan kejang. Dia menjambak rambutku di belakang dan menendang bagian belakang kakiku sampai aku jatuh ke lantai. Dia menyeretku ke arah kloset. Di situ, dia mencoba menenggelamkanku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berhenti, tapi perhatiannya teralihkan sebelum dia bisa menyelesaikan apa yang mau diperbuatnya. Di situ aku sudah merasa tidak aman lagi untuk berada di sini. Setelah berhari-hari menumpang di beberapa rumah teman.. Melana, salah satu temanku yang mempunyai “kemampuan khusus”, mempersilakan ku untuk tinggal di rumahnya selama yang aku perlu.

Aku menceritakan apa yang terjadi, dan dia setuju untuk menunggu dan mendengar saja sementara ini. Melana bisa melihat apa yang ku lihat, tapi dia juga bisa membaca suasana dan “aura” dari sebuah tempat. Kami berdiskusi tentang cara mengakhiri semua ini. Melana tidak setuju kalau aku mendekati rumah mereka di hari terakhir, tapi aku harus melakukannya, setidaknya untuk melihat apa yang terjadi pada Enam ketika mereka sudah selesai.

BULAN 6: Kami tiba di luar kompleks apartemen sekitar pukul 6 pagi. Ada makhluk lain selain manusia di luar gedung. Mereka disebut Watchers. Sesuai namanya, mereka suka melihat seseorang melakukan hal buruk. Bukan hanya pembunuhan dan bunuh diri saja. Penganiayaan, penyiksaan, serangan seksual, dll. Mereka “memakan” itu sampai perbuatan tadi selesai. Mereka tampak seperti orang normal, tapi warnanya agak kuning seperti foto tua, dan ada senyuman mengerikan di wajah mereka. Satu-satunya bagian tubuh mereka yang bergerak adalah matanya. Aku belum pernah melihat mereka saat bekerja, tapi aku pernah melihat mereka di berbagai tempat umum, yang membuatku khawatir dan memutuskan untuk pulang. Aku bisa membantu untuk urusan orang mati, dan sedikit untuk makhluk selain manusia, tapi aku tidak bisa menghentikan manusia melakukan perbuatan buruk.

Waktu itu sudah sekitar pukul 9 pagi ketika Melana mulai merasa kewalahan dengan berbagai hal mengerikan yang dia rasakan, jadi aku menyuruhnya untuk parkir di ujung jalan, dan aku pergi ke dalam. Dia sempat protes, tapi hanya beberapa detik saja. Aku rasa dia tahu betapa pentingnya ini bagiku. Mata para Watchers mengikutiku dari mobil sampai aku masuk ke gedung. Saat aku sudah masuk ke lorong di lantai tempat orang tuaku tinggal, aku mendengar teriakan yang mengerikan dan aku tahu “itu” sedang terjadi. Aku langsung lari, sambil meraba-raba tasku mencari kunci. Aku membuka kunci dan pintunya secepat mungkin. 

Para Enam sudah tidak lagi berada di belakang orang tuaku, kurasa itu hal pertama yang kusadari. Mereka merangkak memutari orang tuaku. Mike ada di atas ibuku, menahan kedua lengan dia dengan lututnya. Ya Tuhan, sebuah pemandangan yang mengerikan. Aku pernah melihat beberapa hal mengerikan, tapi brutalitas seperti ini berada di level yang berbeda. Aku tahu kalau dia sudah tiada, dan para Enam yang selama ini menggunakan dia hanya sedang menghisap apa yang tersisa. Mike mengalihkan pandangannya ke diriku, senyuman mengerikan tersirat di wajahnya, tidak seperti yang aku lihat di luar. Dengan pisau yang tadi dia pakai untuk membunuh ibuku, dia menggorok lehernya sendiri. Aku hanya bisa berdiri, membeku. Tidak yakin apa yang harus ku lakukan. Aku pernah membayangkan akan seperti apa keadaanya hari ini, tapi aku tidak mengira akan sebrutal ini. Sebagian diriku berasumsi kalau mereka hanya akan gantung diri, tapi itu adalah cara paling “halus”; bukan sesuatu yang akan mereka lakukan. Para Enam memutari mayat mereka untuk beberapa saat sebelum kami bertatapan. Mereka berdua terkejut dan dengan cepat merayap ke atas tembok, melewatiku, dan keluar melalui pintu. 

Aku jatuh berlutut, dan duduk cukup lama sebelum seorang polisi menarikku keluar. Sepertinya salah satu tetangga menelepon polisi. Aku dibawa ke kantor polisi, tapi aku cuman bisa menceritakan kalau orang tuaku berperilaku aneh selama berbulan-bulan. Aku diizinkan pulang, dan Melana membawaku kembali ke rumahnya. Untuk pertama kalinya, setelah mungkin bertahun-tahun, akhirnya aku menangis di depan seorang manusia. 

Aku belum mengambil pekerjaan tentang Enam sejak saat itu. Aku dibebaskan di ulang tahunku yang ke-17, dikeluarkan dari sekolah, dan dipindahkan ke apartemen kecil di seberang kota. Aku berhenti mengambil pekerjaan, tapi hanya sebentar saja. Aku butuh uangnya dan tidak ada yang mempekerjakan aku untuk pekerjaan normal; tidak dengan reputasiku. Orang-orang di komunitas “berbakat spesial” tahu kalau aku membiarkan itu terjadi. Beberapa orang terdekat yang tahu kalau orang tuaku suka bertindak sewenang-wenang bisa memahami keadaanku, dan bahkan bersyukur. Aku menjadi dokumentasi berjalan tentang bagaimana itu semua terjadi. Orang lain, selain yang aku sebut tadi, takut padaku.

Kurasa aku sudah lebih berkembang sejak kejadian itu. Sekarang kita tahu lebih banyak tentang Enam dan tahu cara menghentikan mereka sebelum terlambat. Kini ada lebih sedikit kasus yang memburuk sampai tingkat tertinggi. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang mengerikan di dalam pikiranku kalau melihat orang tuaku mati akan mematahkan semangatku, dan pada akhirnya menempatkan Enam di belakangku suatu hari nanti. Aku bahkan lebih takut dijatuhkan ke neraka atas apa yang kuperbuat, yang mana aku tahu orang tuaku akan menanti di sana.

Author: rydenanne
Dibacakan oleh: PapaChan

Tranlator : Alvin

Background Music:
Myuu
Horrorin

Disclaimer

Cerita ini diambil dari r/nosleep sebagai bagian dari kerjasama antara MalamMalam dengan Rumah Misteri.

Apabila Anda ingin menggunakan materi cerita ini di tempat lain, Anda harus meminta izin dan menghubungi langsung pihak yang bersangkutan. Kami tidak menanggung segala konsekuensi, termasuk konsekuensi hukum yang ditimbulkan akibat dari penggunaan cerita ini.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Nongkrong Asyik sambil Ngopi Cantik di Sila2Rasa

Kamu Pilih Mana, FIFA atau eFootball?