in

Untuk Theodore

Aku adalah monster yang bersembunyi di bawah ranjangmu. Menurutku kata “monster” sedikit terlalu kasar; tapi itu panggilanmu untukku, jadi aku pakai kata itu saja.

Untuk kau ketahui, aku punya lebih dari satu nama. Night Stalker dan Shadow Man adalah salah satunya. Nampaknya aku sudah memulai beberapa legenda tanpa sengaja – apa kau percaya, kalau aku bilang bahwa Bigfoot sebenarnya adalah aku yang sedang berjalan-jalan di hutan? Siapapun bisa mengimajinasikan sesuatu yang berbeda, tergantung siapa yang melihatku. Sejauh ini, yang paling ku suka adalah imajinasimu.

Saat aku menulis ini, usiamu masih 6 tahun. Selama enam tahun itu aku berada di bawah ranjangmu. Aku mengikutimu dari rumah sakit NICU, dan mendengarkan tangisanmu sepanjang jalan sampai rumah. Harus kuakui kolong tempat tidurmu sangat sempit waktu itu, tapi aku berhasil masuk. Aku berterima kasih saat kau mendapatkan ranjang yang lebih besar. Punggungku jadi tidak terlalu sakit. 

Seiring bertambahnya usiamu, kamu makin sering meninggalkan rumah. Aku lupa kalau anak-anak sekarang pergi ke sekolah dari usia sangat muda, sampai aku mendengar kamu kembali, dan dengan semangat menceritakan semua hal yang kamu pelajari ke orang tuamu yang tidak peduli. Dari apa yang kau katakan kudengar, Nyonya Thomas terdengar seperti orang yang baik. Aku setuju – untuk saat ini. 

Siapapun terdengar baik kalau dari ceritamu, karena kamu terbiasa melihat sisi terbaik seseorang. Sesuatu yang memberiku harapan. Dunia ini butuh lebih banyak orang super optimis seperti dirimu; dan kau bisa mengutip itu dari monster malam meyeramkan ini. Bahkan kau mencoba mencari sesuatu yang baik dari dririku. Saat bulan membuat campuran yang menyeramkan antara cahaya dan bayangan di kamarmu, dan ketakutan akan keberadaanku membuatmu gemetar, aku dengar kau membisikkan sesuatu kepadaku. “Aku takut. Apa kau takut juga?”

Kisah Theodore

Jelas kamu tidak tahu kepada siapa kamu bicara. Bagimu, aku hanyalah makhluk tanpa nama dan tanpa tujuan; ancaman yang tidak terlihat. Kamu bahkan tidak tahu apa yang bisa aku lakukan kepadamu saat kamu tidur. Di siang hari, kau mungkin merasa aman dariku. Apa kau pikir bayangan bisa menghilang begitu saja? Kalau aku mau menyakitimu, aku bisa melakukannya.

Kau pernah menggambarku saat usiamu masih empat tahun. Kertas yang remuk itu berakhir di bawah ranjang bersamaku. Kau tidak pernah melihatku dengan jelas, dan kemampuan senimu saat itu tidak bisa dibilang bagus, jadi tentu saja ada gambaran yang tidak sesuai. Ilustrasimu menggambarkan coretan abu-abu yang tidak beraturan, dengan gigi tajam, dan tanduk, dan terlalu banyak cakar – aku terlihat seperti iblis landak. Saat aku melihatnya, aku bisa bilang kalau aku cukup terhibur. Aku tidak bilang kalau kau salah dalam menggambarkannya.

Aku menceritakan semua ini karena aku tahu kau tidak tahu apapun tentangku. Tapi aku tahu begitu banyak tentangmu. Bahkan mungkin aku tahu lebih banyak tentang dirimu, dari pada dirimu sendiri.

Aku tahu kau tidak suka sayuran, tapi kau pasti menghabiskan buah apapun yang ada di depan mata. Aku tahu sereal favoritmu adalah Reese’s Puffs, walaupun kau jarang ada kesempatan memakannya. Aku tahu kau hanya tahu satu kata kasar, tapi kau terlalu takut untuk mengatakannya. Aku tahu kau ingin menjadi pemadam kebakaran, tapi dua bulan lalu kau mau menjadi pekerja konstruksi, dan pada akhirnya kau tidak akan menjadi keduanya. Aku tahu nama semua temanmu, dan siapa yang akan berkhianat suatu hari nanti. Aku tahu nama pacar perempuan pertama dan keduamu, dan pacar laki-lai pertama dan terakhirmu. Aku tahu kau mencintai orang tuamu walaupun mereka menyakitimu. Aku tahu pada usia berapa kau akan meninggal. 

Aku juga tahu cara mencegahnya.

Meskipun aku tahu banyak hal, aku tidak yakin kapan surat ini akan sampai kepadamu. Bahkan sebetulnya aku tidak yakin kau akan membacanya. Aku berharap aku bisa berkata kalau aku optimis kau akan mengerti tentnag apa yang aku lakukan, dan saat kau lebih tua, kau akan emndukung keputusanku. Tapi kenyataannya, aku tidak yakin kau akan mendukung.

Satu-satunya hal yang pasti adalah aku tidak akan menyesali perbuatanku terhadap mereka. Sudah selayaknya merek diberi hukuman. Karena saat malam hari, ketika dahan pohon terlihat seperti cakar raksasa di jendela dan kegelapan terlihat seperti mendekat, aku tahu bukan aku yang paling kau takuti. Jauh di dalam, suatu tempat yang belum bisa diakses pikiranmu, kau takut terhadap orang tuamu.

“Aku takut. Apa kau takut juga?”

Kamu bertanya tentang mereka, bukan tentangku. Mereka bertengkar seperti binatang liar; sebuah topan kemarahan dan kelalaian. Kau tidak tahu perilaku mereka saat kau di luar, menikmati keamanan sementara dari kelas di sekolahmu. Kau belum bisa membayangkan seberapa besar rasa sakit yang akan kau terima dari mereka, saat mereka sadar kau sudah terlalu tua untuk dimanja lagi, dan cukup tua untuk diperlakukan sama seperti mereka. 

Kehidupanmu akan lebih baik tanpa mereka. Jauh lebih baik. Percayalah. Mungkin kau akan merasa takut untuk sesaat, tapi kau masih muda. Rasa sakit itu akan menghilang, dan kau menjadi bebas. Bebas dari kekacaun dan perlakuan kejam mereka; kau bisa menjalani hidup yang kau impikan, tanpa seorang pun yang menahanmu.

Suatu hari, jika kamu membaca surat ini, kamu akan mengerti kenapa aku mengambil mereka darimu. Dan aku harap kau berterima kasih setelah itu. Aku harap mimpi buruk dari orang tuamu perlahan menghilang menjadi dengungan, digantikan oleh optimisme tanpa batas yang begitu melekat pada dirimu. 

Dan saat hari itu datang, aku harap kau sadar kalau aku lebih peduli padamu dibanding mereka. 

Selamanya Milikmu,

Monster di Bawah Kasurmu

Credits

Cerita oleh: SpiritVoices

Diterjemahkan oleh: Alvin

Dibacakan oleh: Nama PapaChan

Background Music:

Myuu

Horrorin

Disclaimer

Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 Film Horor yang Diadaptasi dari Novel karya Stephen King

Kedai Kopi, Nonton Bola, dan Budaya Main Game