in ,

Kisah Anansi ‘Goatman’ [Part 4-end]

Dia ke sini dengan melewati jalan yang sama dengan yang Tan lewati dan katanya “salah satu temanmu” sedang berdiri di tengah jalan sembari menatapnya dengan mulut yang ternganga. Dia menanyakan banyak hal namun gadis itu hanya terdiam menatapnya. Lalu gadis itu tersenyum padanya dan akhirnya sepupu Tan berjalan kembali. Gadis itu tampak tidak bisa mengikuti langkahnya dan tertinggal.  Dia bertanya kepadanya apa dia terluka dan butuh pertolongan. Tapi gadis itu hanya kembali menatapnya. Pada akhirnya dia sampai di belokan menuju trailer. Akan tetapi saat dia menengok ke belakang untuk memastikan keadaan gadis itu, jalan itu kosong. Dia berasumsi kalau gadis itu mungkin melewati jalan pintas menuju trailer.

Kami menjelaskan seluruh kejadian yang sudah terjadi. Aku hampir berpikir kalau dia akan menganggap cerita kami hanyalah bualan semata, tapi dia duduk sambil mendengarkan semuanya di sofa ruang tengah.

Goatman

Sepupu Tan melanjutkan ceritanya mengenai gadis itu, katanya gadis itu selalu tertinggal di belakangnya dan dia sadar kalau ada yang janggal dari hal ini. Tidak peduli seberapa lambat dia berjalan, gadis itu selalu tertinggal di belakang. Dia juga mencium bau yang tidak enak dan semakin menyengat ketika dia tiba di perkemahan. Pada akhirnya, baunya menjadi sangat kuat. Gadis itu berkata sesuatu dengan suara yang begitu berat sehingga dia tidak bisa menangkap apa yang dikatakan gadis itu. Ketika dia menengok ke belakang, gadis itu berada persis di belakangnya, dan dia langsung menjauh dari gadis itu.

Pada saat itulah dia menanyakan apakah gadis itu baik-baik saja dan jika tidak, dia bisa membantunya berjalan hingga sampai ke perkemahan, namun gadis itu hanya menatapnya. Dia mengatakan kalau dia mencoba untuk meraih gadis itu, yah seperti menaruh tangannya pada pundak gadis itu, tapi sepertinya dia salah memperhitungkan jaraknya. Karena gadis itu berada di samping saat dia mengulurkan tangannya, seolah gadis itu sudah bergerak padahal dia melihat gadis itu dengan sangat jelas.

Pada titik ini, kami tahu benar kalau ini ancaman nyata, kecuali kalau Tan membual. dan kami tahu dia tidak bercanda karena dia hampir pipis di celana.

Lalu mereka mengisi senapan, makan, dan duduk sampai sekitar pukul 11 malam. Sampai detik ini, setiap kali aku berpikiran tentang kejadian aneh ini, aku berdoa kepada Tuhan, semoga ini hanyalah bagian dari keisengan yang sepupuku lakukan terhadapku, dan tidak ada cerita yang diungkap agar ketakutan seumur hidupku.

Sekitar pukul 11 malam, bau besi yang berubah menjadi bau anyir darah, seperti sedang memasak darah binatang dan rambut yang hangus. Tan dan sepupunya, Reese, langsung bangun dan mengambil senapannya.

Terdengar samar-samar seperti bunyi ketukan atau cakaran di  pintu, dan demi apapun, ada suara yang terdengar seperti video YouTube tentang pemilik kucing dan anjing yang sedang mengajari hewannya cara untuk “berkomunikasi.”   “Biarkan aku masuk, berhenti bercanda.” Dikatakan dalam suara yang terbata-bata dan nada yang aneh.

Suara ini membuatku merinding ke sekujur tubuh, dan salah satu gadis itu mulai menangis dan menyebut nama Tuhan.

Jelas itu bukan suara manusia. Intonasi yang diucapkan tidak tepat, dan aku baru menyadarinya. Semua orang memiliki intonasi ketika mereka berbicara, apapun bahasa yang digunakan. Semua orang punya jenis ritme dalam berbicara.

Tapi suara ini tidak memiliki intonasi ataupun ritme. Suara itu terdengar seperti suara salah satu video kucing dari YouTube. Aku sepenuhnya berada dalam mode teror. Kami terus berteriak “Siapa itu? Berhenti bercandanya lah!” dan hanya dibalas dengan kata “masuk” atau “Biarkanlah aku masuk” selama hampir 15 menit.

YouTube player

Kira-kira suaranya seperti video ini, Tapi tidak lucu tentunya. Maaf kalau itu diluar konteks, tapi jika kamu tidak bisa membayangkan betapa anehnya suara ini, maka kamu tidak bisa bayangkan betapa kacaunya situasi yang terjadi saat ini.

Tiba-tiba baunya sejenak menghilang. Lalu selama satu jam berikutnya, kamu bisa mendengar seseorang mondar-mandir di hutan. Setiap beberapa menit, seseorang itu kembali ke depan pintu dan berkata sesuatu.

Saat ini pukul 2 dini hari, dan akhirnya bau aneh itu perlahan hilang. Reese bilang, “Alah, persetanlah!” kemudian dia membuka pintu dan pergi ke luar dengan senapannya.

Dia menembak ke udara sambil berkata “Atas nama Tuhan, pergi!” Dia menembak dua kali lagi. Lalu dari hutan tepat di seberang sungai yang membelakangi trailer, perlahan terdengar suara orang yang mengobrol dan derauan.

Lalu terdengar suara teriakan bagaikan suara teriakan wanita tercampur suara kucing yang mengeong. Jujur aku  tidak pernah mendengar suara aneh itu sebelumnya, dan kamu bisa mendengar suara pergerakan dari semak-semak. Reese menembak ke arah pepohonan dan mundur kembali ke dalam trailer.

Kami mengunci pintu dan kami masih mendengar suara riuh dan teriakan itu. Reese bilang ada sesuatu yang muncul dari semak-semak, bertubuh pendek dan berjalan merangkak menuju trailer. Dia telah menembaknya.

Kurang lebih, Itulah situasi yang terjadi sepanjang malam itu; suara teriakan yang terdengar terus menerus selama 2 jam lamanya dan kami juga mendengar suara aneh yang keluar dari pepohonan. Namun, Suaranya tidak terdengar lagi sampai semua orang akhirnya tertidur.

Tan duduk di kursi mengawasi pintu dengan senapannya, tidak ada seorang pun yang mendengar atau melihat kejadian ini, dan dia baru memberitahuku dua hari kemudian, setelah semua kejadian ini selesai.

Tan bilang, dia tertidur setelah suara-suara aneh dan teriakan berhenti, dan sebelum ia terlelap, Tan melihat seseorang keluar dari kamar mandi. Orang itu ikut berbaring di tengah lantai dan ikut tidur bersama. Tan hanya berasumsi itu salah satu dari kami jadi dia lanjut tidur.

Lalu dia menyadari ada sesuatu yang aneh. Sambil pura-pura tidur, Tan menghitung jumlah kami. Total ada 9 orang di dalam trailer. Tan tidak mau serta merta menembak makhluk itu di dalam trailer karena makhluk itu bisa saja membunuh kami semua, atau bisa saja membangunkan Reese dan membuatnya menembaki kami semua. Jadi dia putuskan untuk terjaga semalaman dengan berpura-pura tertidur.

Tan bilang, terkadang, makhluk itu berdiri dan terlihat gelisah, atau terengah-engah seperti sedang tertawa. Tapi kemudian makhluk itu akan kembali berbaring.

Ceritanya terhenti cukup sampai di situ, karena menurut pandanganku tidak ada yang terjadi. Kami pun mulai terbangun. Dan kami menyadari kalau Tan sedikit gelisah dan menghindari pandangan ke arah kami semua. Kami menyiapkan sarapan dan bersiap untuk pulang ke rumah Tan. Tan yang paling terakhir ada di trailer; dia bilang akan mengunci semuanya dan menyerahkan kunci Pamanku itu. Jadi kami disuruh jalan duluan dan nanti dia akan menyusul. Itu adalah ide yang paling tidak aku ingin kulakukan.

Kami mendaki, melewati jalan setapak, dan ketika Tan menyusul, sebenarnya kami baru saja keluar dari rumahnya. Kemudian sepupunya mengantar kami ke rumah.

Tan bercerita kalau ada sebuah jendela di kamar mandi. Dia mengunci dan memeriksa ke dalam sana. Kami tidak terpikir untuk mengunci jendela tanpa kaca itu. Ketika dia masuk ke kamar mandi, jendela itu sudah terbuka

Aku rasa makhluk itu sudah melakukannya sejak awal, menunggu kami tertidur, menyusup dan berbaur di antara kami. Tan mengatakan, makhluk itu bersama dengan kami selama perjalanan pulang, berdiri paling belakang dan menatap dengan tajam ke arah Tan sebelum pergi ke dalam hutan.

Credits

Author : Anonim

Diterjemahkan oleh : Atikachan

Dibacakan oleh : PapaChan

Background Music:

Myuu

Horrorin

Disclaimer

Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Americano vs Long Black, Apa Sih Bedanya?

3 Drama Thailand yang Bertemakan tentang Kehidupan Sekolah