in ,

Ayam Percobaan

Hai, aku Jerry, tinggal di sebuah desa kecil di atas pegunungan. Aku berumur 8 tahun ketika kejadian itu terjadi. Seperti biasa, sepulang sekolah aku selalu memberi makan ayam-ayam peliharaanku dan selalu memeriksa kandang mereka.

Suatu hari, aku melihat seekor ayam sedang mengerami telur-telurnya. Kupandangi sejenak ayam itu, hingga tiba-tiba naluriku membuatku beraksi ! Aku mengangkat ayam itu, menghitung jumlah butir telurnya, kemudian mengambilnya dari eraman sang induk, kupecahkan tiap butiran telur itu. Telur itu sudah tidak seperti biasanya, di dalamnya ada ayam mini dengan kuning telur yang kemerah merahan. 

Satu … dua … tiga … hingga delapan telur kupecahkan dan kubariskan rapi setiap isinya. 

Tinggallah sang induk ayam dalam sarang kosongnya.

Kembali kupandangi sang induk, perlahan kuangkat dia yang mulai sedikit berontak.

Kuusap kepalanya untuk menenangkannya dan tiba-tiba …. kupatahkan lehernya!

Sang induk yang mulai sekarat, akhirnya mati perlahan. Kubariskan di deretan terakhir telurnya. 

Semenjak kejadian itu, aku sangat senang untuk melakukan hal tersebut dan tidak sabar untuk melakukannya lagi dan lagi.

Hingga suatu ketika …

Di rumahku ada sebuah acara arisan, para tamu mulai berdatangan, susul menyusul hingga akhirnya acara dimulai. Aku melihat seorang perempuan membawa bayi dalam gendongannya. Tak berapa lama kemudian, dia meletakkan bayi yang tengah tertidur itu di atas tempat tidur ku dan kembali ke dalam kerumunan arisan.

Sang bayi tertidur di sebelahku. Lama kuperhatikan sang bayi, ku pandangi wajah mungilnya, mulai kuhirup aromanya. Kunikmati setiap tarikan napasku pada saat itu. Kuusap perlahan kepalanya, tepat di atas keningnya, aku berhenti menikmati detak jantungnya, kulihat sisi itu berdetak, ku ketuk-ketuk perlahan. 

Bayi itu mulai gusar, namun tak sampai terbangun.

Hingga pada suatu titik… Aku – 

Wajah bayi yang tadinya memerah itu kini membiru. Kulitnya yang tadinya hangat kini menjadi dingin. Rasa dimana aku mematahkan leher ayam pada waktu itu kembali meluap, ada hasrat yang terpuaskan setelahnya.

Tak lama setelah itu, malam yang harusnya dihiasi gelak tawa menjadi rintihan tangis. Aku melihat, sang ibu menangisi bayi kecilnya yang kini tak bernyawa.

Dan di sinilah aku, 17 tahun berada dalam ruang isolasi RSJ. 

Setiap waktu, aku hanya sanggup menceritakan kejadian itu dengan penuh kebanggaan! Memoriku … hanya ada …. untuk mengingatnya.

Credits

Cerita oleh: Paska Panjaitan

Dibacakan oleh: Paska Panjaitan

Myuu

Horrorin

Disclaimer

– Cerita ini disubmit oleh Paska Panjaitan dan telah menjadi hak milik Tim MalamMalamStories. Cerita ini tidak diperbolehkan untuk disalin, disebarluaskan, diubah dalam bentuk atau format apapun dan untuk kepentingan apapun, tanpa izin tertulis dari pihak Tim MalamMalamStories.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Junji Ito

Junji Ito dan 5 Karya Terbaiknya

Sedikit Spoiler The Damned United dan Cerita Menariknya