in ,

Jeff the Killer – BAGIAN V – Teman yang Dipaksakan

Jeff the Killer Bagian V

Awalnya Jeff masih menolak. Apakah ibunya serius meminta dia berdamai dan berteman dengan Randy? Jeff masih berada di tempat tidur setelah ibunya berhenti bersenandung cukup lama, dan menyuruh Jeff untuk bangun lalu berganti pakaian. Setelah Jeff tahu alasannya, dia langsung menolaknya. Tapi sayang, ibunya adalah seorang manipulator yang cerdas, dan tahu bagaimana caranya membujuk Jeff. Dia berjanji, kalau Jeff menurutinya dan berdamai dengan Randy, Liu boleh kembali ke rumah keesokan harinya. Dia berhasil memojokkan Jeff dengan janji itu. Jeff tidak punya pilihan lain selain setuju.

Tidak lama kemudian, Jeff dan ibunya tiba di rumah Randy. Ibu Randy membuka pintu. 

“Halo, kamu pasti Jeff”, sapa dia.

Jeff memberikan senyuman yang lemah dan mengkonfirmasi kalau dia adalah Jeff.

“Halo, saya Shelia Woods, senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan ibu!” sapa ibu Jeff menyalip anaknya dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan ibu Randy.

Shelia, senang bertemu denganmu, aku Bridgette Hayden. Aku cukup terkejut mendengar kabar kalau anak kita sempat terlibat perkelahian. Kamu pasti mengerti kalau hormon remaja seusia mereka sedang bergejolak. Sebetulnya Randy tidak pernah terlibat dengan perkelahian, tapi dia bilang kalau Jeff dan adiknya adalah penghuni baru di daerah ini, dan mereka belum benar-benar paham bagaimana cara hidup di Mandeville, bukan begitu Jeff?”

Jeff rasanya ingin memberi sedikit sindiran, “Maafkan aku nyonya Hayden. Aku dan Liu tidak tahu kalau anakmu dan teman-temannya boleh memakai sepeda kami tanpa izin.”

Bridgette, mulutnya memang seperti ayahnya, tidak tahu kapan harus diam. Bagaimana kalau kita mengobrol sambil minum kopi saja di dalam. Kamu bisa bercerita tentang semua gosip di Mandeville, sambil anak-anak kita bisa langsung berkenalan.”

Randy ada di kamarnya, Jeff. Di lantai dua, pintu kedua di sebelah kiri. Kamu bisa mendengar semacam suara video game dari kamarnya”, kata Bridgette sambil sedikit bergurau.

“Baik, terima kasih, bu”, jawab Jeff sambil masuk ke rumahnya.

Jeff mengetuk pintu kamar Randy, dan dia mendengar Randy menyahut “Masuk…”

“Hey.. Gue rasa lo sudah dengar kalau orang tua kita mau kita hangout, kenalan dan semacamnya…”, kata Jeff dengan sedikit keraguan. 

“Ya, itu nyokap gue, dia gak suka drama. Jujur aja gue rasa dia terlalu khawatir. Kalau lo ga masalah, gue juga ga keberatan.”

Jeff the Killer

Jeff duduk di lantai di sebelah Randy, dan berusaha memulai obrolan. “Jadi, ternyata bokap lo itu bosnya bokap gue. Dia kaget pas denger kita berantem di tempat parkir. Dia takut dipecat atau dapet masalah.”

“Bokap gue tuh.. ya semancem bosnya semua orang. Males banget lah. Sebagian dari anak-anak di sekolah tuh ngedeketin gue karena orang tua mereka tuh..Ya ada ikatan dengan perusahaan bokap gue.”

“Lah, lo gak suka?” tanya Jeff.

“Iya lah, semuanya tuh palsu, seisi kota ini palsu. Lo juga bakal ngerasa deh kalau udah lama tinggal di sini. Tapi percaya deh, semua orang yang tinggal di sini tuh cuma pura-pura jadi sesuatu yang lain. Orang tua gw nyuruh gw ngeakuin ini itu, semua penghargaan dan lain-lain.. Semua itu cuma biar mereka bisa ngebangga aja.”

Jeff tersenyum, “Gue ngerti gimana rasanya. Tahun lalu, gue dipaksa ikut kelas boxing sama bokap gue gara-gara saudara dari rekan kerjanya, kerja di sana. Pas rekan kerjanya berenti, gue juga di berentiin minggu depannya.”

“Gue harap gue juga bisa segampang itu”, respon Randy, “Gue benci baseball, tapi bokap gue pasti nyuruh gue maen lagi di musim panas berikutnya, dan yang berikutnya lagi. Dia tau gue gak suka baseball, tapi dia tetap maksa gue main pake jersey yang ada tulisan nama perusahaannya.”

Ran, gue mau tanya. Kenapa kemaren lo sama temen-temen lo ngerusakin sepeda gue?”

“Udah gue bilang, kota ini tuh palsu dan sangat membosankan. Lo gak bisa ngapa ngapain di sini. Kita cuma nyari kegiatan yang seru. Maksudnya, seberapa sering sih lo bakal hangout di toko video, atau bermain ke hutan sebelum lo bosen? Cewek-cewek di sini dilarang bepergian, semua toko tutup cepat, gak ada mall, dan bioskop aja adanya di seberang kota. Kita tuh bosan, jadi, gue rasa gue harus minta maaf.”

“Gak apa-apa kok”, jawab Jeff, “Gue rasa gue juga harus minta maaf karena kejadiannya sampe sejauh itu.”

“Maksud lo soal perkelahian itu?”, tanya Randy, “Itu malah keren loh. Keith dan Troy, mereka tuh cuma benalu yang nempel karena bokap gue. Kayak yang udah gue bilang, gue yakin orang tua mereka yang nyuruh mereka biar hangout sama gue.”

Siang itu seperti berlalu dengan cepat. Jeff sudah lupa kalau semua ini adalah pertemuan yang dipaksakan. Jeff mulai merasa cocok dengan Randy. Pertemuan pertama mereka memang sedikit kacau, tapi Jeff mulai mengerti. Randy tidak seburuk yang dibayangkannya ketika teman-teman idiotnya tidak ada.

Sekitar satu jam kemudian, sesuatu akan terjadi. Jeff mendengar dua suara pintu mobil yang menutup bersamaan, lalu dia mendengar mesinnya menyala. Jeff meletakkan controller game-nya dan mengintip dari jendela kamar tidur Randy. Ibunya dan ibu Randy ada di dalam mobil itu, dan mereka sedang mundur untuk keluar dari parkiran. 

“Eh, Orang tua kita pergi”, kata Jeff.

“Udah waktunya. Nyokap gue pasti ngajak nyokap lo belanja atau ngopi, atau semacemnya.”

Jeff mendengar Randy mem-pause game-nya. 

“Eh Jeff, ke bawah yuk. Gue mau kasih liat sesuatu yang keren”, ajak Randy. Jeff pun mengikuti.

Randy membawa Jeff ke garasi. Di dalam sana cukup panas, apalagi dengan pintu utamanya yang tertutup. Tapi garasi itu terlihat terawat dengan baik. Jeff bisa melihat tumpukan majalah, dan juga beberapa peralatan yang menumpuk di bawah meja kerja.

Berada di dalam garasi yang kecil dan tertutup, dengan panasnya musim panas yang tidak kunjung hilang, membuat Jeff mulai merasa tidak nyaman. Meskipun dia dan Randy sudah menjadi cukup akrab dalam beberapa jam terakhir tadi, Jeff masih merasakan ada sesuatu yang tidak enak setelah kedua orang tua mereka pergi.

“Lo mau kasih liat apaan?” tanya Jeff.

“Bentar, gue ambil dulu”, jawab Randy sambil memindahkan tumpukan majalah dan terlihat sebuah kotak kecil berwarna merah.

Jeff melihat Randy mengambil kotak itu dan membukanya. 

“Lihat nih, pistol suar punya bokap gue”, kata Randy sambil mengacungkan senjata merah itu ke berbagai arah.

“Wow! Hati-hati bro!” teriak Jeff yang kaget. 

“Tenang, jangan jadi penakut lah. Ini bahkan bleom ada peluru kok” kata Randy. Tapi, Jeff melihat Randy mengambil satu peluru suar dari kompartemen di belakang. Randy tetap bermain-main dengan pistol itu, membukanya, dan memasukkan peluru tadi. “Nah sekarang udah diisi”, katanya. “Tahun lalu bokap gue nunjukin cara pakenya saat kita pergi naik kapal. Kadang gue ambil pistol ini dan nembak ke arah pohon. Tapi, kayaknya kali ini gue gak perlu pohon.”

Perubahan suara dan sikap Randy tidak bisa diabaikan. 

“Oke, pistol yang keren. Kayaknya kita harus balik deh, panas banget di sini. Lagian gue mulai laper nih, lo mau makan apa?”

Akan tetapi, saat Jeff mulai berjalan kembali ke pintu kecil yang mengarah kembali ke rumah, jalannya tiba-tiba dihalangi oleh dua sosok dengan wajah yang tidak asing.

Credits

Cerita oleh: PapaChan

Dibacakan oleh: PapaChan

Myuu

Horrorin

Disclaimer

– Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

12 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Azumi.id

Merchandise Korea Super Cute Produksi dari @azumi.id

YUK BERKENALAN DENGAN CHICAGO-STYLE PIZZA!