in ,

Jeff The Killer – Bagian VI – Niat yang Keji

“Mau kemana, Jeffrey?” Ujar Troy Si Anak Gemuk saat dia dan Keith masuk ke garasi.

“Ah akhirnya nongol juga kalian, lama juga ya, sampai-sampai gue harus ngurusin si pecundang ini seharian”, seru Randy.

“Maaf Ran, tadi Keith disuruh motong rumput dulu biar orang tuanya izinin dia keluar,” jawab Troy 

“Iya aman kok, yang penting sekarang kita udah ada di sini.” Kata Keith.

“Wei apa-apaan ini?” Jeff bertanya sambil menatap ke arah Randy. Jeff menyadari kalau Randy masih memegang pistol.

“Gue kasih tahu nih apa yang terjadi, Jeff. Lo masih harus minta maaf sama Keith dan Troy  soal kemaren. Lo udah nonjok mereka, terus malah kabur. Lo bahkan ga punya nyali buat berantem dengan jujur, jadi sekarang, lo harus bayar perbuatan lo.”

“Gue ga mau berantem lagi, oke, udah cukup deh” Jeff menjawabnya sambil melirik ke sekeliling ruangan untuk mencari jalan keluar. 

“Ya ya.. Lo bener! Lo ga perlu berantem. Lo cuma bakal diem di situ dan biarin anak-anak ngehajar lo. Abis itu giliran gue yang mukul. Setelah semuanya selesai, lo keluar dari rumah gue. Gue bakal bilang ke nyokap gue kalau lo sakit dan pulang. Abis itu, kalau lo ketemu lagi sama gue, mending lo menyingkir!”

“Gini ya, gue gak bakal diem aja kalau lo dan temen-temen lo mukulin gue, jadi gimana kalau lo biarin gue pulang sekarang, dan gue bakal bilang ke nyokap gue kalau kita ga ada masalah. Semua menang, gimana?” Jeff bernegosiasi.

Randy mengangkat pistol ke arah Jeff. “Eit! Jangan bergerak! Diem di situ dan terima aja nasib lo”

Jeff The Killer

Jeff merasakan sensasi itu sekali lagi, sensasi gelap dan kental yang berputar di dalam dirinya. Sekarang dia bisa merasakannya, Itu luar biasa. Dalam pikirannya, Jeff membayangkan dirinya menyelam, berenang, dan kemudian tenggelam dalam sensasi tersebut. Saat Jeff melihat sekelilingnya, sensasi itu semakin menguat. Jeff melihat Randy yang berdiri di depannya sambil menggenggam pistol. Meski begitu, tangannya tidak memegang pistol dengan erat, dan pelatuknya pun tidak ditarik. Jeff menyadari kalau Randy tidak memiliki nyali untuk menembaknya. Lalu di belakang, ada Keith yang kurus dan menyedihkan, memang orang yang dilahirkan sebagai kacung.  Dan Troy, Si Gemuk dan Berkeringat dengan nafas agak berat saat berjalan. Dan di tengah-tengah itu tentu saja Jeff melihat dirinya sendiri. Jeff merasakan kesenangan yang mulai tercampur dengan amarah dan itu membuat sebuah campuran yang sempurna. Jeff sengaja tidak mencicipi sensasi itu karena dia tahu kalau hanya akan ada penyesalan pada akhirnya. Namun, ketika sirup itu ditaruh begitu dekat.. aromanya, semakin terbayang sensasi nikmatnya. Jeff tidak bisa lagi menahan gejolaknya, bagaikan guncangan kapal laut yang sedang diterjang badai.

Jeff mulai tersenyum.

“Ngapain senyum-senyum gitu? Mau nantang gue lo?” Tanya Randy dengan sedikit tegang.

“Emangnya gue lagi senyum ya? Mungkin karena gue bener-bener nikmatin ini.” Seru Jeff kepada Randy.

Lalu Jeff memukul Randy tepat di hidungnya. Randy mulai kehilangan keseimbangan namun tetap menggenggam pistol. Tanpa harus menoleh ke belakang, Jeff tahu kalau Troy dan Keith bukannya maju ke arahnya namun malah mengambil langkah mundur. Jeff melayangkan satu pukulan kuat tepat di bagian rahang Randy yang membuatnya langsung tumbang.

Sekarang Jeff beralih ke Troy dan Keith, dua anak sok tangguh yang belum bergerak mendekati Jeff. Troy berjalan mundur selangkah demi selangkah dan malah tersandung majalah yang disusun oleh Randy sebelumnya. Jeff mengambil kesempatan ini untuk melangkah maju untuk melayangkan tinjunya ke arah perut buncitnya Troy. Troy mencoba tetap berdiri namun karena pukulan Jeff dan posisinya yang tidak stabil setelah tersandung itu membuatnya terjatuh. Troy mendarat dengan posisi kepalanya.

Keith mencoba untuk kabur. Namun, posisi Keith terjebak karena Jeff berdiri tepat di antara dia dan satu-satunya pintu keluar itu. Jeff mengambil dua langkah cepat arah si anak kurus itu dan merasa sangat bersemangat saat melihat Keith jatuh sempoyongan dengan punggung yang terbentur ke dinding. Perpaduan sempurna antara kesenangan, kendali, dan kemarahan telah menyatu. Jeff merasa seolah-olah dia melayang di atas awan. Di dalam pikirannya, Jeff tahu jika dia akan berada dalam masalah besar atas perbuatannya ini, tetapi pada titik ini, dia tidak peduli lagi. Dia tidak peduli tentang Liu, dia tidak peduli jika ditangkap polisi, dan dia tidak peduli jika ayahnya dipecat. Yang dia pedulikan, dalam waktu singkat itu adalah menyakiti Keith.

Keith mencoba kabur, berharap bisa keluar melalui celah kecil antara Jeff dan pintu. Namun, Jeff menghantam keras wajah Keith dengan tangan kanannya yang menyebabkan Keith terhuyung mundur lagi. Jeff bisa melihat bahwa lututnya menekuk, dan Jeff mengambil kesempatan untuk memberikan pukulan demi pukulan ke perut anak kurus itu. Setelah puas, Jeff melangkah mundur, dan menyaksikan dengan tatapan iblis saat Keith perlahan merosot ke bawah dinding dengan napas yang terengah-engah.

Randy bangkit kembali, tetapi sepertinya tidak tahu harus berbuat apa.

“Sekarang urusan kita udah selesai kan, Randy? Atau kamu dan teman-temanmu masih mau lagi?” Jeff mengejek.

“Udah cukup…” Ujar Randy.

“Gimana dengan kalian, berengsek?” Jeff bertanya.

“Sebenernya ini idenya Randy…” kata Keith lemah.

“Betul, bahkan kami tidak ingin melakukannya..” Troy menambahkan.

Perdebatan terus berlanjut, tetapi suara mobil yang kembali memecah ketegangan.

“Mampus gue, nyokap gue udah balik!” teriak Randy. Tampaknya anak yang sok tangguh itu telah menciut kembali menjadi anak yang penakut.

“Kita bilang aja kalau kita semua lagi hangout” jawab Keith.

“Bukan itu, pistol suar, kalau nyokap gue tau gue mainin itu, bisa gawat”, kata Randy dengan paniknya.

“Kalau gitu, simpan lagi pistolnya” saran Jeff. Sensasi amarah itu kembali memudar, dan Jeff memegang penuh kendali dirinya.

“Iya-iya.. Tolong ambilin majalah itu” pinta Randy. Jeff rasa dia lebih menyukai Randy dengan mental yang seperti ini, mengemis seperti anak anjing yang ketakutan.

Jeff ridak memedulikan Randy; Dengan tenang  dia memungut majalah-majalah yang berserakan. Jeff tidak terlalu peduli jika Randy mendapat masalah atau tidak, namun, jika ibunya kembali dan tahu akan masalah ini, Jeff takut Liu mungkin tidak dapat kembali ke rumah seperti yang dijanjikan sebelumnya.

“Apapun bisa terjadi dalam sekejap.” Sebuah ungkapan yang mengandung makna khiasan maupun sebenarnya.

Tangan Randy mulai berkeringat, karena dia panik akan masalah yang mungkin dia dapatkan jika ketahuan memainkan pistol suar. Saat tangannya mencengkram pistol dengan panik, jari jempolnya menekan pelatuk secara tidak sengaja. Dia bahkan tidak sadar kalau pistolnya sudah terisi peluru. Randy langsung memutar pistolnya, mencoba untuk membatalkannya. Kemudian dia mendengar suara kunci diputar dari pintu depan. Randy tahu kalau dia hanya memiliki beberapa detik saja untuk menyembunyikan pistol itu.

Semuanya terasa berjalan dengan lambat. Pistol itu terlepas dari tangan Randy yang berkeringat saat dia mencoba untuk memutarnya sekali lagi. Pistol itu jatuh ke lantai, Yah.. dibandingkan jatuh, mungkin lebih terlihat seperti melayang di atas lantai. Jeff yang sibuk merapikan majalah, tersadar akan situasi ini setelah mendengar Randy terkejut. Saat Jeff berbalik badan untuk melihat ke arahnya, Jeff melihat pistol suar yang berwarna merah terang itu menghantam lantai. Pistol itu terpicu, melontarkan bola api yang melaju kencang langsung ke wajah Jeff. Jeff merasakan kilatan panas dan rasa sakit saat peluru itu merobek sisi kiri wajahnya. Setelah rasa sakit yang tak tertahankan, pikiran Jeff pun jadi kosong. Jeff mulai berteriak sambil memegangi sisi kiri wajahnya dan berguling-guling di lantai. Sesaat dia melupakan segalanya, tenggelam ke dalam lautan sirup kental dan gelap itu sekali lagi, amarahnya hampir menghilangkan rasa sakitnya itu.

Ketika kesadaran Jeff akhirnya stabil, dia menyadari kalau ternyata dia sudah berada dalam sebuah kamar Rumah Sakit dan merasakan separuh wajahnya diperban. Dia ingin membuka matanya dan memberitahu keluarganya bahwa dia sudah siuman, tetapi efek obat-obatan masih bekerja sehingga tubuhnya belum bisa sepenuhnya berfungsi normal. Namun Jeff bisa mendengar beberapa suara yang dikenalnya.

Credits

Cerita oleh: PapaChan

Dibacakan oleh: PapaChan

Myuu

Horrorin

Disclaimer

– Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

11 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

YUK BERKENALAN DENGAN CHICAGO-STYLE PIZZA!

4 Rekomendasi Film Bertema Zombie yang Siap Jadi List Tontonan Kamu