in ,

Jeff The Killer – Chapter VII – Lahirnya si Pembunuh

Ini adalah lanjutan dari cerita Jeff The Killer Bagian ke VI

“Apakah dia akan baik-baik saja dok?” Tanya ibu Jeff.

“Tenang saja bu, putra ibu akan baik-baik saja, tapi dia akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk penyembuhan. Tembakan itu mengenai wajahnya dan mengakibatkan luka bakar tingkat tiga di sisi kiri wajahnya.”

“Seberapa parah matanya?” Tanya ayah Jeff.

“Saat ini masih belum bisa dipastikan, dia harus menemui dokter spesialis mata untuk pemeriksaan lebih lanjut, tapi sepertinya kerusakannya cukup parah.”

“Bagaimana dengan wajahnya?” Tanya ibu Jeff, terdengar sangat khawatir.

“Ya.. Kami berhasil membersihkan dan mengobati lukanya tepat waktu, jadi ibu tidak perlu khawatir soal infeksi atau semacamnya. Kami akan memberinya antibiotik untuk sementara waktu, dan lukanya harus dibersihkan dan dirawat secara berkala, namun bisa dibilang putra ibu sangat beruntung. Lukanya bisa saja lebih parah dari yang ini.”

“Dokter..” Ibu Jeff memulai lagi, “Bagaimana jika ada kerusakan yang permanen? Apa yang harus kami lakukan?”

“Seperti yang saya katakan sebelumnya, matanya harus diperiksa oleh dokter spesialis mata..”

Sheila Woods memotong pembicaraan dokter, dan terdengar lebih gelisah daripada sebelumnya, “Anda tidak paham?! Bukan matanya, tapi wajahnya! Apa yang harus kami lakukan untuk memperbaiki wajahnya?” Desaknya.

“Ibu, kami sudah mengobati wajahnya, seperti yang sudah saya jelaskan, seharusnya tidak ada resiko infeksi selama ibu..”

Sheila memotongnya lagi, “Bukan masalah infeksi, tapi… penampilannya? Apa yang bisa kami lakukan?”

“Ibu Woods, saat ini itu bukanlah perhatian utama. Setelah dia sembuh total ibu bisa memilih operasi plastik untuk memperbaiki lukanya. Tapi, ayolah, sekarang kami tidak bisa membuang-buang perhatian terhadap penampilannya. Yang terpenting adalah keselamatan putra ibu. Dia sudah bisa pulang dalam beberapa hari, bahkan mungkin lebih cepat dari itu.”

Ayah Jeff kemudian berbicara lagi, “Baik dok, terima kasih. Boleh saya minta waktu sebentar, saya perlu bicara berdua dengan istri saya.”

“Ya, tentu.” jawab dokter.

“Liu, kamu boleh pergi ke kantin untuk membeli beberapa snack.” Kata Matt Wood.

“Tapi aku ingin tetap di sini, siapa tahu Jeff bangun”, balas Liu.

“Liu, dokter bilang kalau Jeff sedang dalam perawatan intensif, dan banyak obat-obatan yang diberikan padanya. Jadi Jeff tidak akan bangun hari ini. Jadi tidak apa-apa… kalaupun Jeff bangun, Ayah dan Ibu akan memberitahumu.”

Jeff mendengar suara pintu terbuka dan tertutup saat Liu keluar dari ruangan.

Kedua orang tuanya menghela nafas yang panjang, tapi Jeff yakin kalau itu bukanlah tanya kalau mereka merasa lega, melainkan menandakan mereka stress.

“Mulai sekarang kita harus menyekolahkannya dari rumah. Ya itu yang harus dilakukan, kita harus membuatnya tetap dirumah!” Jeff mendengar ocehan ibunya, suaranya terdengar panik.

“Maksudnya? Ya memang ada kemungkinan kalau dia tidak akan bisa memulai sekolahnya dalam waktu dekat, tapi ga akan sampai satu tahun penuh!” jawab ayahnya, mencoba untuk berbicara dengan lebih tenang.

“Aku enggak ngebahas soal itu Matt, aku gak peduli kalau dia gak bisa ke sekolah selama satu atau dua minggu. Maksudku– wajahnya Matt, kamu sendiri dengar dokter bilang apa, wajahnya.. Bakal cacat!” Balas Sheila.

“Kita bahkan masih belum tahu sampai sejauh mana lukanya Sheila, bisa aja ringan, bisa aja sembuh, dan kamu sendiri dengar dokter bilang kalau akan ada saat dimana dia bisa menjalani operasi plastik”

“Kapan? KAPAN? Satu tahun? Dua tahun? Terus selama kita menunggu gimana? Orang-orang akan ngeliat dia dan bergosip, itu yang kamu mau? Dia akan.. Dikucilin! Kamu pikir bakal ada orang yang mau anaknya bermain dengan Jeff?”

Jeff mendengar semua percakapan itu, mencoba untuk menyerap semuanya.. Perlahan. Saat pikirannya menyerap kata-kata itu, dia merasakan rasa amarah itu kembali. Sirup yang kental dan penuh rasa dari emosi primitif itu. Dia ingin berteriak kepada ibunya, menyuruhnya untuk diam karena dialah yang sekarang berbaring di sini, yang wajahnya terbakar, kehilangan penglihatan pada sebelah matanya. Semua itu berkat ibunya memaksa Jeff untuk pergi ke rumah Randy. Dia ingin bertanya mengapa ibunya pergi, mengapa dia pergi berbelanja atau pergi ke salon atau apalah yang dia lakukan waktu itu. Jeff ingin tahu mengapa ibunya meninggalkan Jeff sendirian bersama anak yang baru satu hari lalu membully dirinya dan adiknya. Jeff ingin tahu, bagaimana bisa ibunya lebih peduli mengenai penampilannya daripada fakta kalau dia sekarang sedang berbaring di atas tempat tidur rumah sakit.

Masih banyak hal yang ingin Jeff ketahui. Dia ingin tahu, seberapa besar rasa benci ibunya terhadapnya sekarang ? Setelah dia menjadi — yah seperti yang dikatakan oleh ibunya — orang buangan. Jeff ingin terus berenang dalam kolam kebencian yang gelap itu, yang bermula dari amarah dan mulai berubah menjadi kebencian. Namun, sekarang ada sebuah rasa yang baru. Sebelumnya itu hanya amarah, kemudian berubah menjadi campuran antara amarah dan rasa nikmat. Tapi sekarang, perasaan itu adalah campuran antara antara amarah dan kebencian. Meski Jeff ingin sekali terbebas dari perasaan itu, meski Jeff lebih memilih perasaan dicintai yang palsu, rasa cemas dari suara ibunya.. Tapi Jeff juga ingin mencoba perasaan baru ini. Dia mulai berpikir, akan seperti apa resep baru ini jika dicampur dengan rasa nikmat? Akan seperti apa rasanya?

Kemudian Matt Wood mulai berbicara lagi, “Aku masih gak habis pikir, kok bisa Jeff nembak wajahnya sendiri pake pistol suar. Aku pikir Jeff lebih bertanggung jawab dari pada itu.”

“Udah deh, kamu jangan mulai lagi,” balas Sheila, “Aku gak habis pikir pas Randy sama teman-temannya ngejelasin ke polisi dan petugas medis tentang semua kejadian itu. Randy cuma ngasih liat rumahnya sama Jeff, dan mau nunjukin kumpulan majalah yang disimpan ayahnya di garasi. Kamu tahu lah, anak laki-laki. Mungkin dia berharap bakal nemuin beberapa majalah Playboy di sana atau semacamnya. Terus Randy bilang Jeff nemuin kotak yang berisi pistol suar, terus Jeff gak berhenti maenin itu. Harusnya kamu mendengar anak-anak lain Matt, mereka sampe memohon sama Jeff buat simpen pistol itu sebelum dia terluka, tapi Jeff terus maenin. Aku gak tahu lagi dimana kesalahan kita Matt. Aku pikir dengan pindah ke sini, ke daerah yang lebih sunyi akan membuat semua orang senang. Tapi Jeff.. dia selalu membangkang terhadap semua hal.”

Ketika semua itu masuk ke dalam pikiran Jeff, dia melanjutkan berenang-renang di dalam cairan hitam amarah dan kebencian. Tetesan morfin menambah sentuhan euforia yang nikmat, Jeff bisa membayangkan dirinya, menyelam kedalam cairan kental dari kebencian dan merasakan perubahannya. Setiap kali menyelam, itu membawanya ke dalam kenikmatan yang aneh. Pada saat itulah Jeff akhirnya menyadari. Sekarang dia bisa mencoba rasa nikmat itu. Bukan karena dia menikmati apa yang sedang terjadi, tetapi karena dia tahu kalau dia bisa menikmati apa yang akan datang.

Seperti prediksi dokter, Jeff dijadwalkan untuk pulang beberapa hari kemudian. Selama dia berada di rumah sakit, Jeff belum pernah menanyakan untuk melihat wajahnya. Ya.. sampai pada hari terakhir.. Jeff akhirnya meminta cermin. Perawat datang untuk mengganti perbannya, itulah rutinitas nya. Perawat itu adalah wanita yang menyenangkan, dia berbicara pada Jeff, menanyakan keadaannya. Jeff menyukai kunjungan dari perawat itu. Jadi, pada hari terakhir, ketika perawat itu datang untuk membersihkan dan merawat wajahnya, Jeff meminta untuk bisa melihat wajahnya.

“Kamu yakin nak? Apakah kamu mau aku telepon orang tuamu dulu?” Tanya perawat itu.

“Gak perlu” jawab Jeff, “Aku rasa aku mau melihat wajahku sendiri, tanpa mereka berdiri dibelakangku”

“Baiklah”, jawabnya.

Ketika perbannya terbuka, perawat itu memberikan sebuah cermin tangan kecil kepada Jeff.

“Apakah kamu ingin aku keluar dari ruangan?” Tanyanya.

Jeff mengabaikan perawat itu, dia fokus melihat dan memeriksa dengan seksama kerusakan pada wajahnya. Yah.. wajahnya memang cukup parah. Setidaknya pada seluruh sisi kiri wajahnya. Peluru suar itu mengenai wajahnya ke atas dan memberikan luka bakar pada pipi kirinya, terus menjalar sampai ke matanya. Jika melihatnya sekilas, itu terlihat seperti dia sedang tersenyum di sisi itu. Lukanya masih berwarna merah terang dan menyebar di kedua sisi. Ketika sampai pada matanya, yah.. Itu tidak lebih baik dari luka bakar di pipinya. Matanya berwarna putih, hanya sebuah bola tanpa nyawa yang menempel pada wajahnya. Jeff menutup mata kanannya, dan dia tidak bisa melihat apapun dari mata kirinya. Luka itu masih berlanjut ke atas sampai ke sisi kiri dahinya. Namun lukanya tidak terlalu parah di sana. Rambut pada sisi kiri kepalanya juga terbakar, hanya menyisakan beberapa helai di sini dan di sana.

“Maaf nak, aku harus menutup lukanya dengan perban sekarang.” Kata perawat itu.
Jeff tersenyum, “Ya, ga apa-apa, aku akan punya waktu untuk mengagumi wajahku nanti.”

Credits

Cerita oleh: PapaChan

Dibacakan oleh: PapaChan

Myuu

Horrorin

Disclaimer

– Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

11 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Game Adaptasi dari Anime yang Patut Kamu Coba

How Not To Drown, Lagu yang “Menyelamatkan” CHVRCHES