in ,

Jeff The Killer – Chapter VIII – Tidurlah

Cerita ini adalah lanjutan Jeff The Killer Bagian ke VII

Selama perjalanan pulang ataupun saat tiba di rumah, tidak terasa ada perasaan bahagia dari kedua orangtua Jeff. Mereka hanya berbicara sedikit dan sepanjang perjalanan malah terasa begitu tegang. Sedangkan Liu, dia begitu bahagia mendengar kalau kakaknya baik-baik saja, tapi dia tidak tahu harus berkata apa mengenai kerusakan pada wajah Jeff. Jadi, setelah menanyakan beberapa hal mengenai kecelakaan dan penyembuhannya, Liu juga membisu.

Hari sudah senja ketika mereka tiba di rumah, dan Liu bertanya mengenai makan malam. Dia menyarankan orangtuanya untuk membiarkan Jeff memilih makan di mana untuk merayakan kepulangannya.

“Udah deh, kalian berdua tidur aja..” jawab Sheila. Kemudian Sheila dan suaminya pun memasuki kamar mereka untuk berdebat atau mengasihani diri mereka sendiri… Ya, siapa yang tahu?

Malam itu, Jeff dan Liu tidak banyak bercerita. Jeff menghabiskan sebagian besar malam itu dengan melihat wajahnya di cermin. Dia terus membuka perban dan melihati lukanya. Liu juga ingin melihat lukanya, tapi dia rasa itu tidaklah sopan.

“Gue seneng lo udah bisa pulang Jeff, Gue rindu banget sama lo dan gue seneng lo ga apa-apa.” Kata Liu kepada Jeff yang sedang memerhatikan wajahnya.

“Gue gak baik-baik aja Liu, Lo juga. Kita semua gak ada yang baik-baik aja. Ada penyakit di sini. Satu-satunya hal yang ngebedain kita… Sekarang penyakit gue udah muncul di permukaan” jawab Jeff, suaranya datar seperti mesin penjawab telepon.

“Maksud lo apa Jeff?” tanya Liu.

“Suatu saat nanti, lo bakal ngerti. Tapi ini yang terjadi… Ini yang terjadi kalau semuanya udah ancur” kata Jeff yang masih mengintip wajahnya dari balik perban.

“Gue gak ngerti apa yang lo omongin Jeff”, jawab Liu.

Jeff tidak membalasnya, dan setelah beberapa waktu, Liu meninggalkan Jeff. Liu pergi ke kamar orangtuanya di bawah dan mengetuk pintu.

“Ada apa?” tanya ibunya dari balik pintu.

“Ibu, aku rasa Jeff bertindak aneh, mungkin ibu harus ngobrol sama dia”

“Udah deh Liu, gak usah ganggu Ibu kamu” jawab ayahnya. Liu yang masih muda tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya, jadi dia kembali ke kamarnya. Dia tidak tahu kalau itu adalah kata-kata terakhir yang akan dia dengar dari orangtuanya.

Malam itu, Matt dan Sheila Woods masih terjaga, sebagai orang-orang yang mudah terbangun, hanya butuh sedikit hal untuk membuat mereka kembali terjaga. Seperti menarik selimut mereka secara tiba-tiba.. Yah, itu sudah cukup untuk membangunkan mereka. Matt dan Sheila terbangun dan melihat cahaya dari kamar mandi dalam kamar. Pintunya hanya terbuka sedikit dan sumber cahayanya tipis, sehingga mereka hanya bisa melihat siluet manusia yang berdiri di bawah tempat tidur.

“Ada apa ini?” gumam Sheila

Ketika penglihatan mereka mulai terfokus, mereka menyadari kalau putra merekalah yang sedang berdiri. Matt mengulurkan tangannya dan menyalakan lampu meja di samping tempat tidur. Jeff berdiri di sana.. Perbannya sudah terbuka, wajahnya yang hancur menatap mereka dengan sebuah pisau dapur yang panjang digenggam pada tangan kanannya.

“Kamu ngapain Jeff?” Tanya Matt, pikirannya masih belum benar-benar keluar dari alam mimpi.

“Dia pegang pisau!” teriak Sheila sambil menarik lengan suaminya. Namun Matt masih tetap tenang.

“Sheila, mungkin itu cuma painkiller, mungkin dia bangun dan kebingungan, coba tenang aja sih”

Jeff memiringkan kepalanya ke satu sisi tanpa berbicara. Dia menatap tajam ayahnya sambil perlahan mengangkat pisau tersebut, memastikan kalau ayahnya melihat itu dengan jelas.

“Kamu mau ngapain Jeff?” tanya Matt.

“Nakut-nakutin kalian…” jawab Jeff dengan nada datar tanpa emosi.

“Matt.. coba bikin sesuatu!” Sheila memohon.

“Oke nak, Ayah tahu kamu udah ngalamin banyak hal, tapi mendingan kamu balik ke kamar dan tidur. Besok pagi ayah bakal telepon dokter dan–”

Jeff bergerak dengan cepat ke sisi tempat tidur ayahnya, kepalanya bergerak ke sana – ke sini, begantian memperlihatkan wajah dari seorang anak laki-laki normal dan wajah rusak menyeramkan yang bersembunyi dalam kegelapan.

“Oke Jeff, kamu udah bikin ayah takut, itu yang kamu mau?” Tanya Matt sambil bergeser ke tengah tempat tidur untuk memberikan jarak antara dirinya dan putranya.

“Bagus, sekarang aku bisa menyakitimu”, Jeff berbicara lagi.. Masih tanpa emosi.

Ayahnya hanya memiliki waktu untuk mengucapkan satu kata, kemungkinan besar untuk menanyakan pertanyaan lain dan mencoba untuk berdiskusi dengan putranya. Namun Jeff tidak memberikan waktu lebih dari itu. Dia menerjang ke atas tempat tidur, menancapkan pisau ke perut ayahnya. Matt mencoba untuk menangkis Jeff, tapi luka pada bagian perutnya membuatnya terkejut, dan lengannya jatuh ke samping. Jeff bisa mendengar ibunya menjerit, tapi dia mengabaikannya. Jeff ingin menghabisi ayahnya dahulu.

Jeff mencabut pisaunya, kemudian dengan cepat memasukkannya kembali di perut sebanyak tiga kali. Sang ayah terengah-engah dan memuntahkan darah, tubuhnya kejang setiap kali pisau itu ditancapkan. Dan setelah tusukan ketiga… Matt Wood terbaring kaku.

Sheila sudah mundur sampai di sandaran kepala tempat tidurnya. Dia ingin turun dan berlari, tetapi dia malah terjepit di antara meja sisi dan sandaran kepala. Dalam kondisi panik dari teror dan kebingungan, Sheila tidak bisa melakukan hal sederhana seperti turun dari tempat tidur.

“Jeff.. kenapa, kenapa kamu melakukan ini sama ayah dan ibu?” tanyanya dengan lemah.

“Randy yang mulai, ibu tahu itu, tapi ibu mengabaikannya. Bibir Liu pecah, ibu melihatnya, tapi ibu mengabaikannya. Aku ditembak menggunakan pistol suar, tapi ibu lebih percaya Randy… kenapa? Supaya ibu bisa masuk dalam pergaulan?” Tanya Jeff dengan suara rendah yang hampir terdengar seperti geraman.

“Enggak sayang, ibu percaya sama kamu, itu cuma– cuma.. Pekerjaan ayah kamu… dan kita masih baru di sini.. Dan .. ya Tuhan Jeff, ibu mohon..” Ibunya memohon.

“Kalau gitu ibu, coba kasih tahu aku soal sekolah? Kasih tahu aku SEMUA tentang bagaimana ibu gak mau sekolahin aku karena wajahku. Kasih tahu aku tentang gak akan ada orangtua mereka yang mau jadi temen ibu. Kasih tahu aku tentang seberapa bagus kalau ibu sekolahin aku dari rumah…”

“Jeff ibu mohon.. Ibu cuma stress.. Ibu khawatir sama kamu.. Itu aja.. Ibu mohon Jeff.. Ibu sayang sama kamu…”

“Aku rasa ibu harus dengerin saran ibu sendiri.. Masih inget, apa yang ibu bilang ke Liu pas kita sampe di rumah tadi? Dia mau bikin sesuatu yang baik untuk menyambut kepulanganku.. Tapi ibu  inget apa yang ibu bilang sama kami?” Tanya Jeff sambil merangkak mendekat, memojokkan ibunya di atas tempat tidur.

“Ibu bilang apa?” tanya ibunya, pertanyaan itu keluar seperti bisikan.

“Tidurlah!” Jeff menggeram dan menancapkan pisaunya ke jantung ibunya. Jeff menikamnya lagi dan lagi dan lagi.. Dan ketika melakukannya, akhirnya Jeff menemukan resep yang sempurna, campuran yang tidak ada tandingannya. Amarah, kebencian dan kenikmatan, semua itu tercampur dalam sebuah formula yang sempurna. Sesaat, Jeff terbuai oleh perasaan tersebut.

Jeff membuka kamar tidur adiknya, tidak heran ketika melihatnya masih tertidur. Liu tertidur menggunakan headphone, jadi dia tertidur selama kegaduhan itu terjadi. Ya.. Jeff tidak masalah dengan hal itu. Akan lebih mudah untuk Liu jika dia tidak mendengar semua itu.

Jeff duduk di samping tempat tidur adiknya kemudian menyenggolnya perlahan. Butuh sedikit waktu, tapi akhirnya Liu membuka matanya dan melihat ke atas. Jeff melepaskan headphone Liu.

“Sekarang lo udah bebas Liu”, kata Jeff dengan lembut.

“Hah? Apa.. maksud lo apa Jeff?” Liu bergumam, masih setengah tidur.

“Lo bakal liat besok pagi. Gue cuma mau kasih tau sama lo kalau gue sayang sama lo. Lo udah jadi sahabat terbaik gue, inget itu oke?”

“Thanks Jeff, Gue juga sayang sama lo. Gue masih ngantuk… gue lanjut tidur lagi ya.” balas Liu dan dia sudah kembali terlelap. 

Jeff tersenyum dan berdiri. Ketika dia meninggalkan ruangan, Jeff menoleh ke belakang  dan melihat adiknya yang sedang terlelap sekali lagi. Kemudian dia pun menghilang ke dalam kegelapan malam.

Credits

Cerita oleh: PapaChan

Dibacakan oleh: PapaChan

Myuu

Horrorin

Disclaimer

– Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari website creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

How Not To Drown, Lagu yang “Menyelamatkan” CHVRCHES

Macam-Macam Alternatif Minyak Kelapa Sawit Untuk Memasak

Yuk Kenalan dengan Macam-macam Alternatif Pengganti Minyak Sawit untuk Memasak!