in

Hidup Mundur [ Part 2 ]

Ini adalah lanjutan cerita Hidup Mundur Part 1 – Itulah hari di mana aku mempelajari kutukanku yang sebenarnya. Aku melakukan semua yang kubisa untuk meyakinkan ibuku agar tidak pergi. Aku memintanya untuk tinggal di rumah, mengancamnya bahwa aku tidak akan muncul pada hari ulang tahunku jika dia menginjakkan kaki ke luar rumah.

Berkat desakan ku, ibu setuju untuk tetepa tinggal di rumah. Dia tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, dan dia tidak mendesak lebih akan masalah tersebut.

Akhirnya kami menghabiskan malam dengan menonton film, kesenangan yang sebenarnya tidak ada artinya bagi seseorang seperti yang tidak dapat mengingat detailnya, tetapi aku tetap gembira. Aku pikir saya telah mengubah jalannya sejarah.

Ibuku tidak pernah keluar rumah, dan akibatnya, dia tidak pernah ditabrak oleh pengemudi yang mabuk itu. Tapi, itulah lucunya nasib, tidak ada yang bisa menghentikannya. Pada akhirnya, usahaku tidak membuahkan hasil… karena ibuku memang sudah seharusnya meninggal.

Kisah misteri Hidup Mundur

Malam itu, jiwa, roh, esensi, atau apapun sebutanya, telah lenyap. Waktunya telah tiba, dan meskipun aku telah menghalangi kematian tubuh fisiknya, dia tetap diambil dariku.

Aku baru menyadari hal tersebut keesokan paginya. Aku tahu ada yang tidak beres ketika menemukannya duduk di tepi tempat tidurnya, namun tidak responsif dengan apapun. Tak ada dokter yang bisa menjelaskan, karena semua kondisi vitalnya baik-baik saja. Secara fisik ia sehat, namun jiwanya sudah tak ada.

Hari itu aku belajar bahwa aku tidak dapat menyelamatkan siapa pun yang telah menjadi korban penghakiman takdir yang kejam. Pada akhirnya, setiap kali aku mencoba melakukannya, itu hanya memperburuk keadaan.

Bagian terburuknya adalah, aku tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana kematian ibuku seharusnya terjadi, itulah satu-satunya kenangan masa lalu yang masih kuingat. Padahal seharusnya kutukanku tidak berjalan seperti itu.

Dalam memoriku, dia dipukul oleh pengemudi mabuk, tetapi menurut setiap dokumen kematian yang ada, dia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dalam keadaan koma, sekarat hingga tubuhnya akhirnya menyerah.

Pada saat ibuku meninggal, pacarku telah mengetahui tentang kutukanku selama bertahun-tahun, dan mengambil alih tugas dalam mencatat hidupku. Setiap peristiwa, penting atau kecil, dituliskan ke dalam buku catatan yang sama yang dibawa ibu saya selama bertahun-tahun.

Sampai hari ini, aku tidak tahu apa yang telah kulakukan sehingga pantas mendapatkan wanita yang luar biasa ini. Meski hidupku rumit, dia tetap mencintaiku. Rasanya aneh sekali, setelah mengenal satu sama lain sejak kecil, saat dia mengenalku, aku malah mulai melupakannya.

Saat kami pertama kali bertemu, aku tahu kami akan menikah suatu hari nanti. Tentu saja aku melakukannya, aku sudah memiliki setiap memori yang tersimpan di pikiranku meskipun kami belum melakukannya.

Mungkin itu jugalah yang memungkinkanku untuk bertindak lebih percaya diri daripada diriku yang sebenarnya, atau mungkin takdir memang berperan dalam hubungan kami, aku tidak tahu. Tapi, saat kami memasuki memon dimana rasa suka itu bertebar, kami mulai berkencan.

Bersama-sama, kami berbagi semua pengalaman pertama kami. Meskipun sekarang aku tidak ingat satu pun dari hal itu, aku tetap dapat mengingat perasaan yang terkait dengan setiap peristiwa tersebut.

Aku mencintainya dengan sepenuh hati, meskipun kehilangan beberapa kenangan yang aku miliki tentangnya setiap hari.

Yang membawa kita hingga ke hari ini…

Malam ini, kita tidak akan bisa tidur. Dia tidak akan tahu mengapa, tapi sesuatu akan mengganggu pikirannya. Kita akan begadang, berbicara, dan mengenang masa-masa yang telah lama berlalu.

Aku tidak akan melemah, aku tidak akan menangis, dan aku tidak akan membiarkan dia tahu apa yang akan terjadi. Dia hanya akan menulis catatan terakhirnya ke dalam bukuku, dan kemudian kita akan tertidur dalam pelukan satu sama lain.

Aku tidak bisa mencegah kematiannya, aku tidak ingin dia mengalami nasib yang sama seperti ibuku, dan begitu dia pergi, tidak akan ada lagi yang tersisa yang akan melanjutkan ceritaku.

Setiap hari akan berlalu seperti biasanya, dan aku akan melupakannya. Ditakdirkan untuk mengembara di dunia ini sendirian, aku tidak dapat melakukan apa pun kecuali menunggu kematianku nanti.

Itulah mengapa aku menulis ini sekarang, karena istriku sedang tidur di sampingku. Aku ingin dunia tahu apa yang tidak bisa kulakukan. Aku membutuhkan seseorang untuk mengingat ceritaku, untuk mengingat bahwa aku pernah berada disini.

Aku tidak menyesal hidupku, karena terlepas dari segala rintangan, itu adalah hidup yang bahagia, yang dipenuhi dengan cinta meskipun ingatanku hilang setiap harinya. Dan meskipun aku tahu aku akan lupa pernah menulis cerita ini, tapi aku tahu aku telah meninggalkan jejak di suatu tempat.

Hidup bukanlah suatu kepastian, jangan menganggap hari esok akan selalu ada. Karena mungkin itu tidak akan pernah datang. Selamat tinggal.

Credits

Cerita oleh: Rumah Misteri

Dibacakan oleh: Papachan

Disclaimer

Cerita ini diambil dari rumahmisteri.com sebagai bagian dari kerjasama antara MalamMalam dengan Rumah Misteri.

Apabila Anda ingin menggunakan materi cerita ini di tempat lain, Anda harus meminta izin dan menghubungi langsung pihak yang bersangkutan. Kami tidak menanggung segala konsekuensi, termasuk konsekuensi hukum yang ditimbulkan akibat dari penggunaan cerita ini.

Report

What do you think?

10 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tragedi Kesurupan Masal Latihan Dasar Kepemimpinan part 4

Trend Fashion yang Bakal Booming di tahun 2022, Kira-kira Ada Apa Aja yaa?