in ,

Mengenal Alois Brunner, Eks Komandan Nazi yang Menjadi “Mentor” Diktator Suriah

Alois Brunner - Alaraby
Alois Brunner (foto berlatar putih) berhasil lolos dari kejaran pasukan Sekutu dan Uni Soviet (Alaraby)

Alois Brunner memang tidak memiliki reputasi besar seperti Adolf Hitler, Heinrich Himmler, Joseph Goebbels, atau bahkan Hermann Goering. Namun, Brunner tetap dikenal sebagai salah satu petinggi Nazi paling kejam.

Brunner merupakan otak di balik deportasi ratusan ribu Yahudi dari Prancis, Austria dan Slowakia ke kamp konsentrasi Auschwitz. Tidak cuma itu, Brunner juga memiliki kepribadian sadis dan gemar menyiksa sejumlah warga Yahudi yang ditahan Nazi.

Meski memiliki rekam jejak kejahatan yang cukup panjang, Brunner menjadi salah satu petinggi Nazi yang berhasil lolos dari tangkapan pasukan Uni Soviet maupun tentara sekutu. Hingga akhir hayatnya, Brunner tidak pernah menjalani konsekuensi atas berbagai kejahatan selama Perang Dunia Kedua.

Alois Brunner pertama kali bergabung dengan Nazi di usia 16 tahun (Elpais)

Rasis Semenjak Belia

Alois Brunner lahir pada 8 April 1912 di Vas, Austria-Hungaria (sekarang Rohrbrunn, Austria) dan menjadi anggota partai Nazi semenjak menginjak umur 16 tahun. Ia pun menjadi salah satu anggota Sturmabteilung (SA), pasukan paramiliter Nazi di era Republik Weimar. SA merupakan salah satu kendaraan yang digunakan Adolf Hitler untuk mencuri hati warga Jerman di akhir dekade 1920-an. 

Setelah lebih dari satu dekade mengabdi bersama SA, Brunner memutuskan untuk bergabung dengan satuan Schutzstaffel (SS) pada 1938. Bersama SS, Brunner mendapat ditugaskan untuk mengatur deportasi warga Yahudi di Austria dan sekitarnya ke berbagai kamp konsentrasi.

Pada 1941, Brunner mendeportasi ribuan warga Yahudi dari Austria. Dua tahun setelahnya, ia ditugaskan untuk ‘membersihkan’ warga Yahudi dari wilayah Semenanjung Balkan hingga Yunani.

Setelah ‘membersihkan’ kawasan Balkan, Brunner ditugaskan ke Prancis. Ia langsung menjadi kepala deportasi Yahudi di Negeri Menara Eiffel dan ikut turun langsung dalam penanganan para tahanan di kamp konsentrasi Drancy.

Namun, tugas Brunner di Drancy hanya bertahan seumur jagung. Pasalnya, ia langsung dipindahkan ke bagian selatan Prancis. Ketika itu, bagian selatan Prancis dikuasai tentara fasis Italia. Namun, Italia langsung bersekutu dengan Amerika Serikat serta Inggris setelah Benito Mussolini kehilangan kekuasaannya.

Di Prancis Selatan, Brunner mulai menunjukkan sifat kejinya. Ia mendirikan markas di kota Nice dan kerap melakukan penyiksaan kepada warga Yahudi yang berhasil ditangkap Nazi. Brunner pun berhasil menjalankan tugasnya di selatan Prancis dengan baik dan dipindahkan ke Slowakia pada 1944.

Tugas Brunner di Slowakia tidak berjalan normal. Brunner tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik karena Jerman berada di ambang kekalahan Perang Dunia Kedua. Namun, Brunner berhasil mendeportasi belasan ribu Yahudi dari Slowakia ke Auschwitz.

Alois Brunner mendeportasi ratusan Yahudi dari Slowakia di akhir Perang Dunia Kedua (Times of Israel)

Kabur ke Suriah

Alois Brunner langsung menjadi buruan pasukan sekutu tak lama setelah Jerman mengakui kekalahannya di Perang Dunia Kedua. Brunner pun langsung bersembuyi di berbagai tempat sembari menghindari tangkapan pasukan sekutu. Brunner sempat ditangkap oleh pasukan paramiliter di Republik Cheska. Namun, ia berhasil mengelabui para penangkapnya dan kembali bersembunyi. 

Pada 1953, Brunner diketahui berada di Prancis dan menggunakan alias Georg Fischer. Akan tetapi, kelihaian Brunner membuatnya selalu berada beberapa langkah di depan orang-orang yang berambisi menangkapnya.

Meski belum berhasil ditangkap, Brunner tetap dijatuhi diadili oleh Pengadilan Tinggi Prancis pada 1953 dan 1954. Brunner dinyatakan telah melakukan kejahatan perang dan mendapat hukuman mati in absentia.

Setelah mendapat vonis hukuman mati, Brunner langsung meninggalkan Prancis dan mulai berkelana ke Timur Tengah. Ia pun sempat tinggal di Kairo, Mesir, sebelum akhirnya memilih tinggal di Damaskus, Suriah.

Selama tinggal di Damaskus, Brunner dikenal sebagai salah satu pemasok senjata kepada pasukan kemerdekaan Aljazair. Ia pun berhasil membangun hubungan baik dengan para petinggi Suriah.

Brunner kemudian dijadikan penasihat Pasukan Intelejen Suriah. Sebagai imbalan, Pemerintah Suriah bersedia menjamin keselamatan Brunner selama tinggal di Damaskus.

Walaupun berada di Timur Tengah, pasukan Israel, yang masih gencar ‘berburu’ Nazi kerap kesulitan menangkap maupun membunuh Brunner. Pasalnya, Brunner mendapatkan pengawalan ketat dari Angkatan Bersenjata Suriah.

Badan Intelijen Israel (Mossad), sempat melakukan beberapa upaya pembunuhan Brunner. Akan tetapi, Brunner selalu berhasil lolos dari jurang maut meski mengalami beberapa luka serius.

Pada 1985, nama Brunner kembali mencuat. Ia menerima ajakan wawancara wartawan dari majalah Bunte di Damaskus. Dalam wawancara tersebut, Brunner mengaku sama sekali tidak menyesali perbuatannya selama Perang Dunia Kedua.

Tidak cuma itu, Brunner yang ketika itu berusia 73 tahun juga tidak mau menganggap Yahudi sebagai bagian umat manusia. Brunner beranggapan kaum Yahudi merupakan sumber permasalahan di seluruh dunia dan harus dibasmi demi kebaikan seluruh umat manusia.

Alois Brunner bersembunyi di Suriah hingga akhir hayatnya (T-Online)

Tinggal di Suriah Hingga Ajal Menjemput

Alois Brunner menghabiskan sisa hidupnya di Damaskus. Akan tetapi, nasibnya di era 1990-an hingga 2000-an tidak banyak diketahui. Pasalnya, Suriah menjadi negara yang cukup tertutup semenjak dikuasai Bashar Al-Assad.

Akan tetapi, Brunner dilaporkan telah mewariskan ilmu-ilmu penyiksaannya kepada para tentara serta anggota Badan Intelijen Suriah. Menurut laporan sejumlah media Timur Tengah, para tentara Suriah menggunakan metode penyiksaan serupa dengan Brunner selama Perang Saudara Suriah.

Pada 2017, majalah Prancis bernama XXI melaporkan bahwa Brunner telah tutup usia pada 2001. Laporan tersebut mereka dapatkan setelah melakukan investigasi serta wawancara mendalam dengan tiga orang mantan bodyguard Brunner.

Dalam laporannya, XXI menyebut Brunner sudah menjadi tahanan rumah Suriah semenjak pertengahan 1990-an. Akan tetapi, Pemerintah Suriah masih menggunakan jasa Brunner untuk melatih tentara serta para anggota Badan Intelijen.

Salah satu sumber laporan XXI juga mengatakan Brunner meninggal dengan keadaan menyedihkan. Ia tutup usia di lantai dasar sebuah rumah di Damaskus dan disebut sering menangis serta seringkali menolak makan.

Setelah meninggal, Brunner dikebumikan di Pemakaman Al-Affif, Damaskus. Proses pemakaman Brunner dilakukan secara rahasia dan jasanya dikebumikan di makam tanpa tanda yang hingga saat ini tidak diketahui letak pastinya.

SUMBER 1

SUMBER 2

Report

What do you think?

11 Points
Upvote Downvote

Written by MalamMalam

MalamMalam adalah sebuah passion. Ini adalah platform untuk menyalurkan kecintaan kami terhadap voiceover, cerita horor dan video game.

Contact us: emailmalammalam@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sirkuit Mandalika - F1 - inilah. com

Menilik Peluang Sirkuit Mandalika Gelar Balapan F1

Resident Evil Village menjadi pemenang Game of the Year Steam Award 2021 - residentevil. com

Resident Evil: Village Sabet Game of The Year versi Steam Award 2021