48

Malas Baca? Dengerin Aja Ceritanya!

Ada beragam jenis fobia di dunia. Ada orang yang takut dengan badut, tali, bola kapas, dan objek atau hal simpel lainnya. Untuk kebanyakan fobia, tidak ada penjelasan atau kejadian yang bisa dihubungkan dengan fobia itu. Setidaknya itu dari apa yang bisa mereka ingat. Tapi dari pengalamanku, aku bisa menceritakan mengapa aku takut dengan angka 48. 

Umurku masih 16 tahun saat orang tuaku pindah dari kota besar, ke sebuah kota kecil di bagian utara New York. Rumah kami cukup bagus. Aku punya kamar tidurku sendiri yang nyaman; Tidak perlu lagi tidur di ruang tamu seperti di apartemen lama kami. 

Tinggal di rumah yang baru selalu memberikan pengalaman yang sedikit aneh. Untuk beberapa hari pertama, kamu akan ketakutan terhadap suara sekecil apapun; ketika kamu bangun, kamu merasa bingung, kamu ada di mana. Aku selalu menganggap diriku pemberani, dan tidak pernah takut untuk tidur sendirian. Itu semua berubah sekitar 2 bulan yang lalu. 

Aku lupa apa yang terjadi di mimpiku sebelum ini terjadi untuk pertama kalinya. Yang bisa aku ingat hanyalah bagian akhirnya. Tidak ada apapun kecuali kegelapan, sebelum suara yang nyaris tidak terdengar menggumamkan sebuah angka. 48. Aku terbangun setelah angka itu disebutkan. Bukan terbangun dalam keadaan kaget yang berlebihan, tapi bisa dibilang cukup mendadak. Aku berusaha menganggapnya sebagai mimpi aneh yang biasa terjadi. 

Beberapa minggu kemudian, hal yang sama terjadi lagi. Tidak ada apa-apa selain kegelapan, sebelum angka 48 kembali terdengar. Karena ini sudah kedua kalinya terjadi, aku jadi bisa lebih memperhatikannya. Suaranya cukup lemah, lembut dan manis. Tapi ada sesuatu yang sangat aneh dan membuatku merinding. Sekali lagi aku mendadak terbangun setelah angka itu disebut. 

Baru beberapa hari berlalu, kejadian ini terjadi lagi. Aku mulai merasa paranoid, karena sebelumnya aku tidak pernah mengalami mimpi yang sama terulang. Aku tidak bisa berhenti memikirkan angka itu. Semakin aku memikirkannya, semakin aku bisa mendengarkan ucapan “48” yang kecil di dalam kepalaku. Beberapa minggu berlalu, dan kejadian ini semakin sering terjadi, bahkan sampai ke titik… setiap malam. Tepat sebelum aku terbangun, 48. 

Tidak ada yang berubah, tapi setiap kali itu terjadi, sedikit demi sedikit aku mulai merasa terganggu. Aku mungkin sedang mengalami mimpi paling indah di dunia, tapi pada akhirnya, kegelapan dan suara itu. Suatu malam, isi mimpiku hanyalah sebuah lemari pakaian yang ada di kamarku. Gambaran itu terus ada, tidak bergerak, selama beberapa jam. Gak ada hal lain yang terjadi di mimpi itu, selain lemari pakaian tadi. Sampai pada akhirnya, mimpi ini terasa tidak ada akhirnya… kegelapan…48. 

Ukuran lemariku cukup besar kalau dibandingkan dengan kamarku. Selalu terlihat seperti tempat yang cukup gelap dan sunyi untuk duduk & merenung, tapi setelah mimpi itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan angka itu setiap kali aku mendekati lemari ini. Aku mulai merasa disiksa bukan hanya oleh angka itu saja, tapi juga lemari yang sekarang muncul di dalam mimpiku. Cepat atau lambat, setiap malam akan terasa sama. Selamanya akan terulang: lemari, kegelapan, 48.

Aku berusaha mati-matian untuk menaklukan rasa takut yang tidak masuk akal ini. Jadi pada suatu hari, ketika cukup banyak cahaya matahari masuk ke kamarku, aku meberanikan diri untuk mengadapi rasa takutku…atau setidaknya lemarinya. Aku membuka pintunya lebar-lebar dan menemukan satu tempat yang cukup bagus di tengah-tengah, tepat di bawah baju yang tergantung. Aku mengatur nafasku, lalu duduk di situ. Tidak ada yang perlu ditakuti. Aku belum pernah melihat lemariku dari sudut ini, dan aku baru menyadari ada sesuatu di pojok pandanganku.

Sebuah kompartemen terselip di dekat pintu lemari bagian dalam. Karena cahaya tidak sampai menyinari area ini dan hanya bisa dilihat dari dalam, ini menjadi tempat yang tepat untuk menyimpan uang, barang berharga, atau sebuah rahasia. Mungkin bukan tempat persembunyian terbaik, tapi tidak mudah terlihat karena cukup tersembunyi. Aku berusaha meraihnya dan menemukan sebuah jurnal, dan rekaman kamera VHS tua. 

Pages: 1 2

Leave your vote


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close

Ad Blocker Detected!

Mohon untuk menonaktifkan ad blocker di website ini.

Refresh

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.