in

A Dog Is a Man’s Best Friend (Anjing Adalah Sahabat Terbaik Manusia)

Malas Baca? Dengerin Aja Ceritanya !

Ibuku meninggal ketika aku berusia tujuh tahun. Tetapi, aku masih ingat dengan malam itu.. Aku mengingatnya seperti itu baru saja terjadi kemarin. Mungkin, sebagian dari itu karena sekarang aku berada di sini, di kamar tidurku ketika aku masih kecil.

Melihat balok kayu usang yang sama, membentang sepanjang plafon. Mendengar bunyi derik yang sama pada rumah tua ini, mencium bau tipis yang sama dari debu tua dan cat baru. Ya.. semua itu membawaku kembali ke masa kecilku.

Oke, aku akan mencoba untuk menjelaskan ini seringkas mungkin, karena sebenarnya.. Aku ketakutan, dan aku membutuhkan pertolongan, atau nasihat, atau mungkin aku hanya ingin ada orang lain yang tahu. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan.

Baiklah.. Untuk pertama kalinya, aku kembali ke rumah masa kecilku setelah hampir 16 tahun. Setelah ibuku meninggal, aku dan ayahku pindah rumah. Namun, sepertinya ayah tidak pernah menjual rumah itu. Ayahku meninggal satu bulan yang lalu, setelah dia berusaha melawan kanker prostat.

Aku menghibur diriku dengan berpikir kalau akhirnya ayah akan bersama ibu lagi. Ayah tidak pernah menikah lagi, dan aku rasa, dia sangat merindukan ibu sampai di hari terakhirnya.

Aku bahkan tidak tahu kalau rumah ini masih atas nama ayah, sampai aku mendapat telepon dari pengadilan yang mengatakan kalau rumah itu sekarang menjadi milikku. Tampaknya, rumah itu telah kosong selama kami pindah — Ayah tidak pernah menjualnya dan tidak pernah menyewakannya — Tetapi dia merawatnya secara teratur. Bahkan halaman rumput dan kebunnya pun masih sangat terawat.

Bisa dibilang, rumah ini tidak berubah. Sama seperti yang aku ingat ketika masih kecil. Singkat cerita, akhirnya aku kembali tinggal di rumah itu. Rumah ini terlalu besar untukku dan anjingku Noodle. Tetapi, ada sesuatu yang membuatku tidak ingin menjualnya, meskipun semua teman-temanku menyarankanku untuk menjualnya.

Keputusanku mungkin terdengar konyol, dan membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk pergi dari rumah ini ke tempat kerjaku menggunakan kendaraan. Tapi, ayahku telah merawat rumah ini selama bertahun-tahun, dan aku merasa.. Untuk menjualnya, itu sama saja seperti aku tidak menghormati kenangannya.

Kembali ke tahun 2001. Malam dimana ibuku meninggal. Aku masih ingat, waktu itu aku terbangun saat subuh, bulan sabit berwarna perak masih berada di atas langit. Sama seperti sekarang, aku berbaring di balik tumpukan selimut.. Dan sama seperti sekarang, anjingku berada di dalam ruangan bersamaku. Hanya saja, anjingku, Toby, tidak tertidur. Dia malah menatap dirinya sendiri melalui cermin.

Sebagai catatan, itu bukanlah hal yang aneh untuk anjing ini. Semoga sekarang dia beristirahat dengan tenang di surga para anjing. Ya, Toby selalu menjadi anjing yang sedikit aneh, dan kami sering melihatnya duduk di depan cermin, menatap pada dirinya sendiri. Dia akan duduk di depan cermin selama berjam-jam, menggoyangkan ekornya, seolah-olah.. Melihat wajahnya adalah hal terbaik yang ada di dunia.

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Appreciation (Penghargaan)

The Girl in the Photograph (Gadis Dalam Foto)