in

Appreciation (Penghargaan)

Aku melihat sekitarku, melihat pada berbagai sudut dari kegelapan, seperti sedang mencari jawaban. Perhatianku ditarik kembali ke sosok itu, ketika desisan yang mengerikan keluar dari mulutnya yang tersembunyi.

“T-Tentu saja aku bahagia!” Aku menjawabnya dengan heran.

Tiba-tiba ruangan itu dipenuhi dengan suara tawa. Suara itu tidak terdengar seperti suara manusia, karena suara itu mengisi jiwaku dengan rasa jijik. Suara tawa tersebut muncul secara tiba-tiba dan begitu keras, sampai-sampai aku hampir terjatuh karena rasa takut. Seketika tubuhku dipenuhi rasa sakit. Itu terasa seperti anggota tubuhku sedang ditarik oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat.

Sosok berjubah itu tampak tidak bersimpati padaku.. Dia berjalan tanpa suara ke arahku. Ditengah-tengah suara tawa yang mengejek itu.. Dia bertanya lagi, “Apakah kau bahagia?”

Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini, aku pun terjatuh, berlutut.. Dan menjerit “Tidak! Aku tidak bahagia!”

Suara tawa tersebut langsung berhenti ketika aku mengatakan kebenaran itu. Tetapi tubuhku masih terasa terbakar. Meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya, Aku bisa merasakan kalau dia tersenyum, “Apakah kau bersedia untuk menyerahkan segalanya?”

“Ya,” Aku terisak, “tolong hentikan rasa sakit ini!”

Aku merasakan belaian dari tangan kapalan yang terasa tidak asing pada pipiku. Meskipun gerakannya penuh kasih sayang, kulitnya terasa dingin dan hambar. Dia mengangkat kepala ku. Awalnya, mataku tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan, namun, tidak lama kemudian ruangan itu menjadi terang… dan aku terkejut.

Di sekelilingku aku bisa melihat ribuan iblis yang tertawa. Semuanya.. Terlihat seperti sebuah eksperimen gagal. Tangan yang keluar dari perut, kaki keluar dari telinga dan ekor sebagai pengganti lidah. Lantai dari ruangan ini, merupakan kolam darah. Sekarang, kakiku berwarna merah karena sudah terlalu lama terendam cairan itu.

Tubuh-tubuh yang membusuk digantung sebagai hiasan ruangan. Sebagian besar.. Merupakan tubuh anak-anak. Tubuh-tubuh kecil itu sudah tidak memiliki isi, karena isinya sudah menghiasi lantai. Aku tidak tahu kemana aku harus memandang untuk menghindari pemandangan mengerikan di hadapanku. Mataku dengan cepat kembali menatap makhluk di depanku saat dia membuka tudung kepalanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?