in

Appreciation (Penghargaan)

Aku mencoba untuk berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar. Wajahnya merupakan gabungan dari seluruh orang-orang yang ku cintai, seperti sesuatu yang disusun oleh dokter gila untuk membuatnya terlihat seperti manusia. Aku bisa mengenali mata berwarna hijau dari putraku, menatap padaku dari pipi monster tersebut.

Pada bagian dahinya, terdapat bibir istriku yang tetap terbuka. Gabungan dari darah mereka menetes dengan sangat lambat dari hasil operasi yang gagal itu. Itu merupakan mimpi buruk yang bahkan tidak bisa kubayangkan.

Akhirnya suaraku menemukan jalannya ke tenggorokanku dan aku pun berteriak. Aku berteriak dengan suara yang bahkan membuat diriku sendiri takut. Makhluk itu tidak bergeming saat mendengar suaraku yang memenuhi kekosongan dengan rasa ngeri dan duka.

Aku bisa merasakan tangannya menggenggam bahuku dan jari-jarinya menggali ke dalam kulitku. Aku bisa mendengar suara daging yang terkoyak dan jarinya sampai pada tulangku.

Dengan sisa tenaga yang ada di tubuhku, aku menutup mataku. Sekarang, mulutku tertutup, tetapi jeritanku terus berlanjut.. Berulang-ulang seperti kaset rusak. Aku ingin memohon agar dia berhenti, karena itu membuatku teringat dengan kengerian yang baru saja aku saksikan. Tetapi, sekali lagi aku terdiam, dan tubuhku sudah lelah dari rasa syok tersebut.

Akhirnya, makhluk itu melepaskanku. Aku rasa dia mengejekku saat aku terjatuh seperti sampah yang berlumuran darah di lantai. Tidak berharga dan terkulai lemas. Dengan penuh amarah, monster itu mengangkatku dan memaksa mataku untuk tetap terbuka. Kukunya yang tajam dan kotor bergerak ke arah mataku. Dia mulai mencakar bagian bawah kelopak mataku.

Rasa sakit itu tidak bisa digambarkan. Aku sudah tidak memiliki suara untuk mengutarakan siksaan ini. Aku seperti sebuah boneka kain, menggantung di tangannya saat jeritanku mulai terdengar lagi. Dengan cepat, jeritanku di sambut oleh tawa dari para penonton yang mengerikan.

Hidupku begitu indah. Aku menikmati setiap momen yang berjalan dan menghargai setiap perasaan yang diberikan. 
Sebenarnya, ketika hari berakhir, aku merasa sedih. Ketika aku harus tidur, aku merasa jauh lebih sedih.. sampai-sampai aku merindukannya. Begitu sedih… sampai-sampai kapanpun aku menutup mataku, aku bisa melihat pesan yang sama.. Sampai aku terbangun:

“Apakah sekarang kau bahagia?”


DISCLAIMER

Cerita ini diterjemahkan oleh Tim MalamMalamStories dari situs creepypasta.fandom.com di bawah lisensi CC BY-SA 3.0.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?