in

Why They’re Called Sixes (Mengapa Mereka Disebut Enam)

Malas Baca? Dengerin Aja Ceritanya!

Aku ingin menceritakan tentang hidupku dan hal-hal aneh yang telah aku lihat. Tapi sebelum itu, aku ingin kalian mengerti kalau tindakanku di akhir cerita ini memiliki alasan.

Aku dilahirkan dari seorang single parent. Usianya baru 15 tahun saat aku dilahirkan dan dia belum siap menjadi seorang ibu. Begitupun dengan ayahku, orang tuanya justru mengirimnya ke sekolah asrama, sehingga ia tidak harus bertanggung jawab atas diriku dan ibuku. Kami berdua dibiayai oleh orang tua ibuku, tetapi tetap saja kami benar-benar sendirian.

Aku mulai menemukan “bakatku” ketika aku berusia sekitar 5 tahun. Nenek buyutku meninggal dan aku merasa sangat bingung ketika aku berjalan ke ruang jenazah di rumah duka dan melihat nenekku duduk di kursi di sebelah peti mati miliknya. Saat itu, aku sudah cukup mengerti jika kematian berarti manusia telah pergi untuk selamanya. Tetapi, dia malah duduk di situ !

Kebingunganku dikalahkan oleh kelegaanku. Aku mendekatinya, dia… tampak berbeda. Disana, tetapi tidak benar-benar sama. Seperti ketika kamu membayangkan sesuatu di pikiranmu. Matamu terbuka dan kamu melihat dengan jelas, apa yang ada di ruangan itu. Tetapi, di saat yang sama merupakan sesuatu yang sangat berbeda.

Dia berbisik di telingaku, mencium keningku, dan menghilang. Aku berjalan menuju ibuku dan bertanya kepadanya tentang mawar di Italia, seperti yang diperintahkan oleh nenek buyutku. Sampai hari ini, aku masih tidak tahu apa artinya itu.

Tetapi, itu adalah sesuatu yang cukup penting sehingga mampu membuat ibuku jatuh berlutut. Dia memelukku dan itu satu-satunya saat dimana aku bisa merasakan kalau dia benar-benar mencintaiku.

Seiring dengan bertambahnya usiaku, bakatku menjadi sedikit lebih jelas. Aku melihat orang-orang yang tidak seharusnya aku lihat dalam situasi sehari-hari. Beberapa bahkan akan memperhatikan dan mengikutiku pulang. Aku tak keberatan. Tidak ada dari mereka yang pernah memaksakan atau mencoba untuk menyakitiku.

Mereka hanya ingin ditemani sampai mereka menemukan cara untuk pindah atau mereka menemukan seseorang yang lebih menarik untuk diikuti. Aku akan membicarakannya seolah-olah itu normal. Ibuku pun tak berusaha menghentikanku tetapi masih bersikap malu ketika aku melakukannya di sekitar orang lain. Tidak ada yang menganggapnya serius. Tidak seperti ibu. Jujur, aku pikir dia mungkin takut kepadaku.

Ketika aku berusia sekitar 8 tahun, semuanya berubah, dan itu karena ibuku bertemu seorang pria bernama Mike. Dia kurus, bau dan berbicara terlalu keras. Tetap saja dia memiliki pekerjaan yang lebih stabil daripada ibu, jadi ibuku jatuh ke pelukannya. Pada awalnya dia bukan pria yang buruk, hanya agak serakah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?